alexametrics
30 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

Binrohtal 1.339: Menutup Aib

SAAT khutbah di masjid Satlantas Polres Jombang, Jumat (14/1), Ustad Ahmad Nur Hambali menjelaskan keutamaan menutup aib orang lain. ’’Rasulullah Muhammad SAW bersabda; Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah tutupi aibnya di dunia dan di akhirat,’’ tuturnya.

Mengenai hal ini, seorang ulama salaf berkata: Aku mendapati sekelompok orang yang tidak memiliki aib, lalu mereka membicarakan aib orang lain. Maka orang-orang pun membicarakan aib mereka. Dan aku mendapati sekelompok orang yang memilki aib lalu mereka tidak pernah membicarakan aib orang lain, maka kami pun melupakan aib-aib mereka.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda; Barang siapa menutupi aib saudara muslimnya, maka Allah tutup aibnya di hari kiamat, dan barang siapa membuka aib saudara muslimnya maka Allah akan membuka aibnya. Bahkan Allah membuka kedok aibnya tersebut di rumahnya sendiri.

Manusia terbagi menjadi dua. Pertama, orang yang tertutupi keadaannya kemudian jatuh dalam perbuatan maksiat. Orang yang seperti ini tidak boleh disebarkan dan dibuka aib perbuatan maksiatnya. Karena ini adalah menggunjing yang diharamkan. Allah ta’ala berfirman dalam QS Annur 19. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat.

Kedua, orang yang melakukan perbuatan maksiat dan dosa besar secara terang-terangan tanpa ada malu sedikit pun. Orang yang seperti ini tidak haram dibicarakan kefasikannya. Akan tetapi apabila membicarakan kefasikannya itu hingga menjadi sebuah kebiasaan yang terus menerus dilakukan, atau semata bertujuan untuk memuaskan nafsu belaka, maka tidak boleh.

Baca Juga :  Pemilos SMPN 3 Peterongan Jombang, Pesta Demokrasi di Masa Pandemi

Perbuatan fasik orang tersebut dibicarakan tujuannya adalah untuk menjerakan, agar ditegakkan hukuman terhadapnya dan supaya orang-orang semisalnya juga menjadi jera dan berhenti dari perbuatan dosa. 

Adapun orang yang melakukan perbuatan maksiat yang mewajibkan hadd (hukuman yang ditegaskan dalam Alquran atau hadis) kemudian bertobat sebelum diketahui maksiat, maka lebih baik baginya menutupi aibnya dan tidak melaporkan kepada penguasa untuk mendapatkan hukuman. Karena memang ia telah betul-betul bertobat.

Rasulullah juga bersabda; Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba selama hamba tersebut memberikan pertolongan kepada saudaranya. Rasulullah Muhammad SAW bersabda; Termasuk amal yang paling utama adalah menebar kegembiraan terhadap seorang mukmin. Engkau tutupi auratnya, engkau kenyangkan kelaparannya dan engkau penuhi kebutuhannya.

Diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khatthab RA sering membantu para janda tua dan menyediakan air buat mereka di malam hari. Suatu ketika, sahabat Thalhah melihat Umar di tengah malam masuk ke rumah seorang perempuan. Lalu siang harinya Thalhah menemui perempuan tersebut. Ternyata ia adalah seorang wanita tua renta yang buta dan lumpuh. Thalhah pun bertanya kepada perempuan tersebut: Apa sebenarnya yang dilakukan oleh laki-laki ini di rumahmu?

Baca Juga :  HUT Kemerdekaan Indonesia, Pohon di Jombang Dicat Warna Warni

 Wanita tua itu menjawab: Orang ini sudah sejak lama selalu datang dan merawatku, membawakan kebutuhanku dan mengeluarkan kotoran dari rumahku. Mendengar itu, Thalhah pun berkata kepada dirinya sendiri: Cukup wahai Thalhah, jangan engkau mencari-cari aib Umar.

Rasulullah juga bersabda; Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di sebuah masjid untuk membaca Alquran dan mempelajari kandungannya, kecuali turunkan kepada mereka ketenangan, diselimuti rahmat, dikelilingi para malaikat, dan disebut-sebut oleh Allah di kalangan para malaikat yang mulia.

Orang yang menuntut ilmu akan dimudahkan Allah dalam  perjalanan fisik. Juga dalam menghafal ilmu, mempelajari, mengulang-ulang dan mencatatnya. ’’Allah mudahkan baginya jalan menuju surga, maksudnya Allah mudahkan baginya jalan mencari ilmu agama. Karena ilmu agama adalah jalan yang mengantarkan menuju surga,’’ terangnya.

Allah mudahkan baginya jalan memperoleh hidayah yang dengannya ia menempuh jalan menuju surga. Itu artinya upaya yang ia kerahkan dalam menuntut ilmu menjadi sebab mendapatkan hidayah dan menjadi sebab ia masuk surga.

Karena memang tidak ada jalan untuk mengenal Allah dan memperoleh rida-Nya kecuali dengan ilmu.

- Advertisement -

SAAT khutbah di masjid Satlantas Polres Jombang, Jumat (14/1), Ustad Ahmad Nur Hambali menjelaskan keutamaan menutup aib orang lain. ’’Rasulullah Muhammad SAW bersabda; Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah tutupi aibnya di dunia dan di akhirat,’’ tuturnya.

Mengenai hal ini, seorang ulama salaf berkata: Aku mendapati sekelompok orang yang tidak memiliki aib, lalu mereka membicarakan aib orang lain. Maka orang-orang pun membicarakan aib mereka. Dan aku mendapati sekelompok orang yang memilki aib lalu mereka tidak pernah membicarakan aib orang lain, maka kami pun melupakan aib-aib mereka.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda; Barang siapa menutupi aib saudara muslimnya, maka Allah tutup aibnya di hari kiamat, dan barang siapa membuka aib saudara muslimnya maka Allah akan membuka aibnya. Bahkan Allah membuka kedok aibnya tersebut di rumahnya sendiri.

Manusia terbagi menjadi dua. Pertama, orang yang tertutupi keadaannya kemudian jatuh dalam perbuatan maksiat. Orang yang seperti ini tidak boleh disebarkan dan dibuka aib perbuatan maksiatnya. Karena ini adalah menggunjing yang diharamkan. Allah ta’ala berfirman dalam QS Annur 19. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat.

Kedua, orang yang melakukan perbuatan maksiat dan dosa besar secara terang-terangan tanpa ada malu sedikit pun. Orang yang seperti ini tidak haram dibicarakan kefasikannya. Akan tetapi apabila membicarakan kefasikannya itu hingga menjadi sebuah kebiasaan yang terus menerus dilakukan, atau semata bertujuan untuk memuaskan nafsu belaka, maka tidak boleh.

Baca Juga :  Pemilos SMPN 3 Peterongan Jombang, Pesta Demokrasi di Masa Pandemi

Perbuatan fasik orang tersebut dibicarakan tujuannya adalah untuk menjerakan, agar ditegakkan hukuman terhadapnya dan supaya orang-orang semisalnya juga menjadi jera dan berhenti dari perbuatan dosa. 

- Advertisement -

Adapun orang yang melakukan perbuatan maksiat yang mewajibkan hadd (hukuman yang ditegaskan dalam Alquran atau hadis) kemudian bertobat sebelum diketahui maksiat, maka lebih baik baginya menutupi aibnya dan tidak melaporkan kepada penguasa untuk mendapatkan hukuman. Karena memang ia telah betul-betul bertobat.

Rasulullah juga bersabda; Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba selama hamba tersebut memberikan pertolongan kepada saudaranya. Rasulullah Muhammad SAW bersabda; Termasuk amal yang paling utama adalah menebar kegembiraan terhadap seorang mukmin. Engkau tutupi auratnya, engkau kenyangkan kelaparannya dan engkau penuhi kebutuhannya.

Diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khatthab RA sering membantu para janda tua dan menyediakan air buat mereka di malam hari. Suatu ketika, sahabat Thalhah melihat Umar di tengah malam masuk ke rumah seorang perempuan. Lalu siang harinya Thalhah menemui perempuan tersebut. Ternyata ia adalah seorang wanita tua renta yang buta dan lumpuh. Thalhah pun bertanya kepada perempuan tersebut: Apa sebenarnya yang dilakukan oleh laki-laki ini di rumahmu?

Baca Juga :  Binrohtal 1.316: Hari Ibu

 Wanita tua itu menjawab: Orang ini sudah sejak lama selalu datang dan merawatku, membawakan kebutuhanku dan mengeluarkan kotoran dari rumahku. Mendengar itu, Thalhah pun berkata kepada dirinya sendiri: Cukup wahai Thalhah, jangan engkau mencari-cari aib Umar.

Rasulullah juga bersabda; Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di sebuah masjid untuk membaca Alquran dan mempelajari kandungannya, kecuali turunkan kepada mereka ketenangan, diselimuti rahmat, dikelilingi para malaikat, dan disebut-sebut oleh Allah di kalangan para malaikat yang mulia.

Orang yang menuntut ilmu akan dimudahkan Allah dalam  perjalanan fisik. Juga dalam menghafal ilmu, mempelajari, mengulang-ulang dan mencatatnya. ’’Allah mudahkan baginya jalan menuju surga, maksudnya Allah mudahkan baginya jalan mencari ilmu agama. Karena ilmu agama adalah jalan yang mengantarkan menuju surga,’’ terangnya.

Allah mudahkan baginya jalan memperoleh hidayah yang dengannya ia menempuh jalan menuju surga. Itu artinya upaya yang ia kerahkan dalam menuntut ilmu menjadi sebab mendapatkan hidayah dan menjadi sebab ia masuk surga.

Karena memang tidak ada jalan untuk mengenal Allah dan memperoleh rida-Nya kecuali dengan ilmu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/