alexametrics
26.4 C
Jombang
Wednesday, May 25, 2022

Binrohtal 1.430, Persiapan Masa Depan

SAAT khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (13/5), KH Fauzan Kamal Tebuireng, menjelaskan ciri orang bertakwa. Takwa merupakan predikat yang kita peroleh setelah puasa Ramadan. ’’Ciri orang bertakwa yakni selalu mempersiapkan diri untuk masa depan,’’ tuturnya.

Sebagaimana disebutkan dalam QS Alhasyar 18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

’’Masa depan kita yang paling pasti yakni kematian,’’ terangnya. Kematian bisa datang hari ini, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan. Kematian begitu dekat! Hal terindah adalah kapan pun kematian itu datang menjemput, kita telah siap dengan amal-amal saleh untuk memasuki alam akhirat.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Mukmin yang cerdas adalah yang selalu ingat mati dan mempersiapkan diri untuk mati.

Ada tiga hal yang perlu dilakukan untuk persiapan mati. Pertama, mengerjakan amal-amal saleh.  Allah memberikan dua syarat bagi siapa pun yang berharap bertemu dengan-Nya di surga. Yaitu beramal saleh dan meninggalkan kesyirikan. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Alkahfi 110. Barang siapa yang mengharapkan bertemu Tuhannya maka hendaklah melakukan amal saleh dan janganlah menyekutukan Tuhannya dengan suatu apapun.

Baca Juga :  Yuli Parmiati: Kenalkan Media Sejak Dini ke Anak

Amal saleh yang dimaksud adalah segala bentuk perbuatan baik yang bersih dari riya (pamer). Amal saleh harus didasari ilmu, niat, kesabaran dan ikhlas.

Kedua, menjauhi perbuatan-perbuatan tercela. Meliputi keharaman dan kemakruhan. Meninggalkan keharaman adalah wajib, sedangkan meninggalkan kemakruhan adalah sunah. Demikian pula dianjurkan untuk meminimalisasi perkara mubah yang tidak ada manfaatnya. Para ulama salaf sangat berhati-hati menjaga dirinya dari perbuatan tercela. Bagi mereka, yang urgens tidak hanya meninggalkan keharaman dan kemakruhan, namun perkara-perkara mubah yang dapat melalaikan.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Perbuatan maksiat akan menciptakan noda hitam di hati sehingga menjadikannya keras, enggan menerima kebenaran dan malas beribadah.

Ketiga, segera bertobat. Tidak ada manusia yang bersih dari kesalahan dan dosa. Kesalahan adalah hal yang wajar bagi manusia. Yang bermasalah adalah membiarkan diri berlarut-larut dalam perbuatan dosa. Kematian yang tidak dapat diprediksi kapan datangnya, menuntut seorang manusia agar segera bertobat setiap kali melakukan dosa. Guna menghindari akhir yang buruk dalam perjalanan hidupnya (su’ul khatimah). Agama menekankan untuk senantiasa memperbarui tobat dari segala perbuatan maksiat.

Baca Juga :  Toriqoh 181: Hanya Minta Tolong Allah

Bertobat dari dosa yang berhubungan dengan Allah SWT. Juga dosa yang berhubungan dengan hak orang lain.  Bertobat dari dosa yang berhubungan dengan Allah SWT harus memenuhi empat hal. Yaitu menyesal, melepaskan diri dari dosa yang diperbuat, bertekad untuk tidak mengulanginya dan beristighfar. Apabila dosa yang dilakukan berupa meninggalkan ibadah fardu, maka wajib untuk qada.

Tobat dari dosa yang berhubungan dengan hak orang lain, maka wajib mengembalikan kepada pemiliknya atau meminta kerelaannya. Jika pemiliknya sudah wafat, diberikan kepada ahli warisnya. Hal ini bila berkaitan dengan materi, seperti hutang atau harta curian. Bila berkaitan dengan non materi, seperti menganiaya, menggunjing, mengadu domba dan lain-lain, maka wajib meminta kehalalan pihak yang dizalimi.

- Advertisement -

SAAT khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (13/5), KH Fauzan Kamal Tebuireng, menjelaskan ciri orang bertakwa. Takwa merupakan predikat yang kita peroleh setelah puasa Ramadan. ’’Ciri orang bertakwa yakni selalu mempersiapkan diri untuk masa depan,’’ tuturnya.

Sebagaimana disebutkan dalam QS Alhasyar 18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

’’Masa depan kita yang paling pasti yakni kematian,’’ terangnya. Kematian bisa datang hari ini, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan. Kematian begitu dekat! Hal terindah adalah kapan pun kematian itu datang menjemput, kita telah siap dengan amal-amal saleh untuk memasuki alam akhirat.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Mukmin yang cerdas adalah yang selalu ingat mati dan mempersiapkan diri untuk mati.

Ada tiga hal yang perlu dilakukan untuk persiapan mati. Pertama, mengerjakan amal-amal saleh.  Allah memberikan dua syarat bagi siapa pun yang berharap bertemu dengan-Nya di surga. Yaitu beramal saleh dan meninggalkan kesyirikan. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Alkahfi 110. Barang siapa yang mengharapkan bertemu Tuhannya maka hendaklah melakukan amal saleh dan janganlah menyekutukan Tuhannya dengan suatu apapun.

Baca Juga :  Siswa MAN 2 Jombang Mental Juara, Tiap Tahun Langganan Juara Nasional

Amal saleh yang dimaksud adalah segala bentuk perbuatan baik yang bersih dari riya (pamer). Amal saleh harus didasari ilmu, niat, kesabaran dan ikhlas.

- Advertisement -

Kedua, menjauhi perbuatan-perbuatan tercela. Meliputi keharaman dan kemakruhan. Meninggalkan keharaman adalah wajib, sedangkan meninggalkan kemakruhan adalah sunah. Demikian pula dianjurkan untuk meminimalisasi perkara mubah yang tidak ada manfaatnya. Para ulama salaf sangat berhati-hati menjaga dirinya dari perbuatan tercela. Bagi mereka, yang urgens tidak hanya meninggalkan keharaman dan kemakruhan, namun perkara-perkara mubah yang dapat melalaikan.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Perbuatan maksiat akan menciptakan noda hitam di hati sehingga menjadikannya keras, enggan menerima kebenaran dan malas beribadah.

Ketiga, segera bertobat. Tidak ada manusia yang bersih dari kesalahan dan dosa. Kesalahan adalah hal yang wajar bagi manusia. Yang bermasalah adalah membiarkan diri berlarut-larut dalam perbuatan dosa. Kematian yang tidak dapat diprediksi kapan datangnya, menuntut seorang manusia agar segera bertobat setiap kali melakukan dosa. Guna menghindari akhir yang buruk dalam perjalanan hidupnya (su’ul khatimah). Agama menekankan untuk senantiasa memperbarui tobat dari segala perbuatan maksiat.

Baca Juga :  Binrohtal 1.419, Keutamaan Baca Alquran

Bertobat dari dosa yang berhubungan dengan Allah SWT. Juga dosa yang berhubungan dengan hak orang lain.  Bertobat dari dosa yang berhubungan dengan Allah SWT harus memenuhi empat hal. Yaitu menyesal, melepaskan diri dari dosa yang diperbuat, bertekad untuk tidak mengulanginya dan beristighfar. Apabila dosa yang dilakukan berupa meninggalkan ibadah fardu, maka wajib untuk qada.

Tobat dari dosa yang berhubungan dengan hak orang lain, maka wajib mengembalikan kepada pemiliknya atau meminta kerelaannya. Jika pemiliknya sudah wafat, diberikan kepada ahli warisnya. Hal ini bila berkaitan dengan materi, seperti hutang atau harta curian. Bila berkaitan dengan non materi, seperti menganiaya, menggunjing, mengadu domba dan lain-lain, maka wajib meminta kehalalan pihak yang dizalimi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/