Senin, 17 Jan 2022
Radar Jombang
Home / Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Binrohtal 1.337: Tak Marah Dihina

14 Januari 2022, 09: 05: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Binrohtal 1.337: Tak Marah Dihina

KH Fahmi Amrullah Hadziq

Share this      

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (13/1), Pengasuh Pesantren Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq, menjelaskan pentingnya kita lemah lembut. Termasuk kepada orang yang menghina sekalipun. ’’Hinaan orang tidak akan membuat kita hina. Celaan orang tidak akan membuat kita tercela. Maka kita santai saja ketika dihina dan dicela,’’ tuturnya.

Hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang tawaduk, tidak pernah pusing dengan cacian maupun pujian orang. ’’Dihina tidak akan jadi sampah, dipuji tidak akan menjadikan kita rembulan,’’ tegasnya. Dikafir-kafirkan orang tak akan membuat kita kafir.

Sifat hamba Allah yang tawaduk itu sebagaimana disebutkan dalam QS Alfurqon 63. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.

Baca juga: Student Journalism: Dunia atau Akhirat

Gus Fahmi cerita, suatu hari Aisyah berada di rumah menemani Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.  Tiba-tiba sekelompok orang Yahudi mendatangi rumah Nabi untuk menghina. Mereka bahkan menyumpahi mati. Mereka mengatakan assamu ‘alaik; Hai Muhammad, kerusakan atas kamu.

Mendengar sumpah serapah ini, Aisyah sebagai istri Nabi marah. Dia membalas ujaran mereka dengan yang setimpal. Aisyah berujar; Assamu alaikum, wa la’anakumullah wa gadiba ‘alaikum. Celaka kalian, umat Yahudi. Semoga Allah melaknat dan membenci kalian.

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam sama sekali tidak terpancing emosi.

Nabi justru menasehati Aisyah; Mahlan ya ‘Aisyah, alaiki bir rifqi wa iyyaki wal ‘unf aw al-fuhsy. Tenang Aisyah, tetaplah berperilaku lembut kepada mereka, tak usah emosi dan berkata kotor.

Merasa belum puas, Aisyah pun agak protes kepada Nabi. ’’Nabi, tidakkah engkau mendengar perkataan buruk mereka padamu?”

Nabi pun menjawab; Iya, saya dengar Aisyah. Biarkan saja Allah yang membalas. Kalau saya tidak zalim, insya Allah mereka yang akan terkena akibatnya sendiri dari doa buruknya.

Di lain kesempatan, ada seorang Yahudi yang menghina Nabi dengan ucapan yang sama, asaamu ‘alaik. Saat itu Nabi hanya membalasnya dengan wa ‘alaik. Sahabat Nabi sudah geram dengan perbuatan orang Yahudi tersebut. Mereka bahkan ingin membunuh orang Yahudi itu. Namun Nabi melarang para sahabat untuk melakukan hal yang tidak setimpal.

(jo/jif/jif/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia