alexametrics
24 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

Binrohtal 1.429, Tiga Macam Dosa

SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (12/5), KH Lukman Hakim Tambakberas, menjelaskan macam dosa. ’’Dosa itu ada tiga macam,’’ tuturnya.

Pertama, dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala yakni syirik. Sebagaimana disebutkan dalam QS Annisa 48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Kedua, dosa yang bisa diampuni Allah SWT dengan berbuat kebajikan. Sebagaimana disebutkan dalam QS Hud 114. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk. ’’Pulang membawa oleh-oleh untuk anak di rumah, itu termasuk bisa menghapus dosa,’’ jelasnya.

Ketiga, dosa kepada sesama manusia. ’’Ini hanya akan diampuni ketika kita meminta halal kepada manusia,’’ tegasnya. Kita minta dibalas pada orang yang disakiti. Jika ada kerugian, kita harus mengganti. Jika ada yang kita ambil, maka harus dikembalikan. Sehingga orang itu rida dan mau memaafkan.

Kiai Lukman lalu cerita. Suatu ketika, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabat. Nabi lalu  berkata;  Wahai kaum muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu. Sebelum aku dibalas pada hari kiamat nanti.

Tidak seorang pun berdiri. Rasulullah lantas mengulangi ucapan itu hingga tiga kali.

Tiba-tiba ada seorang kakek berdiri. Kakek itu melangkah melewati barisan jamaah hingga ia sampai di hadapan Rasulullah. Kakek itu bernama Ukasyah bin Mihsan. Ukasyah lantas berkata; Demi ayah dan ibuku. Andai engkau tidak mengucapkan kalimat itu sampai tiga kali, pasti aku tidak akan maju. Dulu, aku pernah bersamamu dalam satu perang. Setelah perang selesai, dan kita mendapatkan kemenangan, kita segera pulang. Untaku dan untumu berjalan sejajar. Aku turun dari unta, mendekatimu karena aku ingin mencium pahamu. Namun, tiba-tiba engkau mengangkat pecut dan pecut itu mengenai perutku. Aku tidak tahu, apakah kejadian itu engkau sengaja atau engkau ingin memecut unta.

Baca Juga :  Binrohtal 1.392: Rahmat Allah

Rasulullah langsung berkata; Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan memecutmu dengan sengaja. Wahai Bilal. Pergilah engkau ke rumah Fatimah, dan ambilkan pecut yang tergantung.

Bilal langsung berangkat menuju rumah Fatimah. Tangan Bilal menepuk kepala sambil teriak histeris; Luar biasa. Ini utusan Allah meminta dirinya untuk diqisas dibalas)!

Sampai di rumah Fatimah, Bilal mengetuk pintu dan berkata; Wahai putri Rasulullah. Ambilkan pecut yang tergantung itu. Serahkan kepadaku.

Fatimah bertanya; Wahai Bilal, apa yang akan dilakukan ayahku dengan pecut ini? Bilal menjawab; Wahai Fatimah, kamu pasti tahu akhlak ayahmu. Beliau menitipkan satu agama. Beliau akan meninggalkan dunia ini. Dan beliau memberikan kesempatan pada siapa pun untuk membalas kesalahannya.

Fatimah lantas berkata; Wahai Bilal, siapa orang yang tega menuntut balas dari Rasulullah? Katakanlah kepada Hasan dan Husein, agar keduanya saja yang menerima pembalasan itu, sebagai pengganti Rasulullah.

Bilal kembali ke masjid dan meyerahkan pecut itu kepada Rasulullah. Rasulullah SAW lantas menyerahkan pecut itu kepada Ukasyah. Abu Bakar dan Umar segera berdiri dan berkata kepada Ukasyah; Wahai Ukasyah, balaslah kepada kami berdua. Kami ada di hadapanmu. Jangan engkau balas Rasulullah.

Baca Juga :  Student Journalism: Problem Solving

Rasulullah berkata kepada Abu Bakar dan Umar; Diamlah kalian berdua, wahai Abu Bakar dan Umar. Allah tahu ketinggian derajat kalian berdua.

Ali pun berdiri dan berkata; Wahai Ukasyah, sepanjang hidupku, aku selalu bersama Rasulullah. Sungguh aku tidak tega melihat Rasulullah dipecut. Ini badanku. Balaslah. Pecutlah aku seratus kali. Jangan kau balas Rasulullah.

Rasulullah berkata; Wahai Ali, duduklah. Allah tahu derajatmu dan niat baikmu.

Selanjutnya Hasan dan Husein berdiri dan berkata; Wahai Ukasyah, Engkau kan tahu bahwa kami adalah darah daging Rasulullah. Engkau membalas kepada kami sama dengan engkau membalas Rasulullah.

Rasulullah berkata; Duduklah, buah hatiku. Allah tidak akan melupakan kemuliaan kalian. Rasulullah kemudian berkata kepada Ukasyah. Wahai Ukasyah; silakan, pecutlah aku. Ukasyah menjawab; Wahai Rasulullah, ketika engkau memecut perutku, perutku dalam keadaan terbuka.

Rasulullah langsung menyingkap pakaian hingga perutnya terbuka. Jamaah semakin histeris melihat pemandangan itu. Mereka menangis menjadi-jadi. Mereka menegur Ukasyah; Apakah engkau betul-betul akan memecut Rasulullah, wahai Ukasyah?

Ukasyah lantas melihat perut Rasulullah, dan dia tak kuasa menahan diri, langsung memeluk tubuh Rasulullah dan menciumi perutnya. ’’Demi ayah dan ibuku, siapa orang yang tega melakukan pembalasan kepadamu, wahai Rasulullah,’’ ujar Ukasyah.

Rasulullah berkata; Lastas katakanlah, kau ingin membalas atau memaafkan aku? Ukasyah menjawab; Sungguh aku telah memaafkanmu karena aku berharap mendapatkan ampunan dari Allah pada hari kiamat.

Rasulullah berkata; Siapa yang ingin melihat temanku di surga nanti, lihatlah kakek ini. Setiap kesalahan pasti akan dihisab. Maka kita harus minta maaf atau minta dibalas di dunia agar kelak tidak dibalas di akhirat.

- Advertisement -

SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (12/5), KH Lukman Hakim Tambakberas, menjelaskan macam dosa. ’’Dosa itu ada tiga macam,’’ tuturnya.

Pertama, dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala yakni syirik. Sebagaimana disebutkan dalam QS Annisa 48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Kedua, dosa yang bisa diampuni Allah SWT dengan berbuat kebajikan. Sebagaimana disebutkan dalam QS Hud 114. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk. ’’Pulang membawa oleh-oleh untuk anak di rumah, itu termasuk bisa menghapus dosa,’’ jelasnya.

Ketiga, dosa kepada sesama manusia. ’’Ini hanya akan diampuni ketika kita meminta halal kepada manusia,’’ tegasnya. Kita minta dibalas pada orang yang disakiti. Jika ada kerugian, kita harus mengganti. Jika ada yang kita ambil, maka harus dikembalikan. Sehingga orang itu rida dan mau memaafkan.

Kiai Lukman lalu cerita. Suatu ketika, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabat. Nabi lalu  berkata;  Wahai kaum muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu. Sebelum aku dibalas pada hari kiamat nanti.

Tidak seorang pun berdiri. Rasulullah lantas mengulangi ucapan itu hingga tiga kali.

- Advertisement -

Tiba-tiba ada seorang kakek berdiri. Kakek itu melangkah melewati barisan jamaah hingga ia sampai di hadapan Rasulullah. Kakek itu bernama Ukasyah bin Mihsan. Ukasyah lantas berkata; Demi ayah dan ibuku. Andai engkau tidak mengucapkan kalimat itu sampai tiga kali, pasti aku tidak akan maju. Dulu, aku pernah bersamamu dalam satu perang. Setelah perang selesai, dan kita mendapatkan kemenangan, kita segera pulang. Untaku dan untumu berjalan sejajar. Aku turun dari unta, mendekatimu karena aku ingin mencium pahamu. Namun, tiba-tiba engkau mengangkat pecut dan pecut itu mengenai perutku. Aku tidak tahu, apakah kejadian itu engkau sengaja atau engkau ingin memecut unta.

Baca Juga :  Binrohtal 1.392: Rahmat Allah

Rasulullah langsung berkata; Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan memecutmu dengan sengaja. Wahai Bilal. Pergilah engkau ke rumah Fatimah, dan ambilkan pecut yang tergantung.

Bilal langsung berangkat menuju rumah Fatimah. Tangan Bilal menepuk kepala sambil teriak histeris; Luar biasa. Ini utusan Allah meminta dirinya untuk diqisas dibalas)!

Sampai di rumah Fatimah, Bilal mengetuk pintu dan berkata; Wahai putri Rasulullah. Ambilkan pecut yang tergantung itu. Serahkan kepadaku.

Fatimah bertanya; Wahai Bilal, apa yang akan dilakukan ayahku dengan pecut ini? Bilal menjawab; Wahai Fatimah, kamu pasti tahu akhlak ayahmu. Beliau menitipkan satu agama. Beliau akan meninggalkan dunia ini. Dan beliau memberikan kesempatan pada siapa pun untuk membalas kesalahannya.

Fatimah lantas berkata; Wahai Bilal, siapa orang yang tega menuntut balas dari Rasulullah? Katakanlah kepada Hasan dan Husein, agar keduanya saja yang menerima pembalasan itu, sebagai pengganti Rasulullah.

Bilal kembali ke masjid dan meyerahkan pecut itu kepada Rasulullah. Rasulullah SAW lantas menyerahkan pecut itu kepada Ukasyah. Abu Bakar dan Umar segera berdiri dan berkata kepada Ukasyah; Wahai Ukasyah, balaslah kepada kami berdua. Kami ada di hadapanmu. Jangan engkau balas Rasulullah.

Baca Juga :  Binrohtal 1.425, Memaafkan dan Silaturahmi

Rasulullah berkata kepada Abu Bakar dan Umar; Diamlah kalian berdua, wahai Abu Bakar dan Umar. Allah tahu ketinggian derajat kalian berdua.

Ali pun berdiri dan berkata; Wahai Ukasyah, sepanjang hidupku, aku selalu bersama Rasulullah. Sungguh aku tidak tega melihat Rasulullah dipecut. Ini badanku. Balaslah. Pecutlah aku seratus kali. Jangan kau balas Rasulullah.

Rasulullah berkata; Wahai Ali, duduklah. Allah tahu derajatmu dan niat baikmu.

Selanjutnya Hasan dan Husein berdiri dan berkata; Wahai Ukasyah, Engkau kan tahu bahwa kami adalah darah daging Rasulullah. Engkau membalas kepada kami sama dengan engkau membalas Rasulullah.

Rasulullah berkata; Duduklah, buah hatiku. Allah tidak akan melupakan kemuliaan kalian. Rasulullah kemudian berkata kepada Ukasyah. Wahai Ukasyah; silakan, pecutlah aku. Ukasyah menjawab; Wahai Rasulullah, ketika engkau memecut perutku, perutku dalam keadaan terbuka.

Rasulullah langsung menyingkap pakaian hingga perutnya terbuka. Jamaah semakin histeris melihat pemandangan itu. Mereka menangis menjadi-jadi. Mereka menegur Ukasyah; Apakah engkau betul-betul akan memecut Rasulullah, wahai Ukasyah?

Ukasyah lantas melihat perut Rasulullah, dan dia tak kuasa menahan diri, langsung memeluk tubuh Rasulullah dan menciumi perutnya. ’’Demi ayah dan ibuku, siapa orang yang tega melakukan pembalasan kepadamu, wahai Rasulullah,’’ ujar Ukasyah.

Rasulullah berkata; Lastas katakanlah, kau ingin membalas atau memaafkan aku? Ukasyah menjawab; Sungguh aku telah memaafkanmu karena aku berharap mendapatkan ampunan dari Allah pada hari kiamat.

Rasulullah berkata; Siapa yang ingin melihat temanku di surga nanti, lihatlah kakek ini. Setiap kesalahan pasti akan dihisab. Maka kita harus minta maaf atau minta dibalas di dunia agar kelak tidak dibalas di akhirat.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/