alexametrics
31.5 C
Jombang
Wednesday, August 10, 2022

Hoax Syariah…?

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, tiap bulan puasa Unipdu Jombang menyelenggarakan kegiatan Kajian Ramadan yang dikelola Pusat Studi Alquran (PSQ) dengan topik-topik yang kontekstual. Narasumbernya dari berbagai disiplin ilmu.

Itu untuk meluaskan wawasan para santri dan mahasiswa yang telah mempelajari format tekstual di bangku pesantren atau kampus. Dengan demikian, antara teks-teks yang mereka pelajari dengan konteks problematika di lapangan yang bersifat kekinian, terbangun (meminjam istilah Prof Cornelis Lay ) linkage yang saling menguatkan.

Seperti Sabtu lalu dengan narasumber Prof Dr A Zahro MA, pada kajian tentang perdagangan online dalam tinjauan fikih. Beliau menyatakan, praktik perdagangan itu boleh asal terhindar dari unsur ghoror (penipuan), kabar bohong atas kondisi barang yang ditawarkan. Hal itu sekarang bisa dikategorikan hoax yang harus dilawan.

Baca Juga :  Bekas Lipstik & Bekas Sujud, Sama 'bekas' nya tapi Beda Wujudnya.

Nah, pada saat membahas kabar bohong atau hoax itulah ada mahasiwi yang bertanya. “Apakah termasuk hoax, bila seorang suami membuat kabar bohong pada istrinya?”

Kontan para suami senyum-senyum. Sementara para istri berwajah cemas, khawatir selama ini jadi korban hoax suaminya. Hehehe.

Prof Zahro menjawab bahwa berbohong pada pasangan adalah salah satu dari tiga kebohongan yang diperbolehkan oleh Islam. Karena tidak ada yang dirugikan dan bertujuan mulia. Seorang suami jangan berkata jujur ketika hidangan yang disajikan istrinya keasinan.

Begitu juga seorang istri, jangan berkata jujur ketika dibelikan suaminya baju yang ketinggalan zaman. Karena kejujuran itu justru akan berakibat singkur-singkuran dan perang dingin.

Baca Juga :  Keluarga Pencinta Kiai

Para suami istri yang hadir kemudian saling pandang dengan pasangan masing-masing dengan wajah saling memaklumi.

Sementara saya sendiri biasa-biasa saja. Hehehe. Bukan karena saya praktisi yang kompeten. Tapi karena hal itu sering saya sampaikan bila memberikan nasihat pernikahan pada kedua mempelai di pelaminan.

Saya hanya membayangkan, seorang suami dengan satu istri berarti si suami harus siap bikin satu kebohongan tiap hari. La kalau quota dipenuhi dengan empat istri, betapa mahir dan terlatih sekaligus terampilnya dia berbohong.

Hehehe.rasa-rasanya, saya kok tidak punya bakat ya…(*)

- Advertisement -

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, tiap bulan puasa Unipdu Jombang menyelenggarakan kegiatan Kajian Ramadan yang dikelola Pusat Studi Alquran (PSQ) dengan topik-topik yang kontekstual. Narasumbernya dari berbagai disiplin ilmu.

Itu untuk meluaskan wawasan para santri dan mahasiswa yang telah mempelajari format tekstual di bangku pesantren atau kampus. Dengan demikian, antara teks-teks yang mereka pelajari dengan konteks problematika di lapangan yang bersifat kekinian, terbangun (meminjam istilah Prof Cornelis Lay ) linkage yang saling menguatkan.

Seperti Sabtu lalu dengan narasumber Prof Dr A Zahro MA, pada kajian tentang perdagangan online dalam tinjauan fikih. Beliau menyatakan, praktik perdagangan itu boleh asal terhindar dari unsur ghoror (penipuan), kabar bohong atas kondisi barang yang ditawarkan. Hal itu sekarang bisa dikategorikan hoax yang harus dilawan.

Baca Juga :  Memangnya Aku Ini Siapa?

Nah, pada saat membahas kabar bohong atau hoax itulah ada mahasiwi yang bertanya. “Apakah termasuk hoax, bila seorang suami membuat kabar bohong pada istrinya?”

Kontan para suami senyum-senyum. Sementara para istri berwajah cemas, khawatir selama ini jadi korban hoax suaminya. Hehehe.

Prof Zahro menjawab bahwa berbohong pada pasangan adalah salah satu dari tiga kebohongan yang diperbolehkan oleh Islam. Karena tidak ada yang dirugikan dan bertujuan mulia. Seorang suami jangan berkata jujur ketika hidangan yang disajikan istrinya keasinan.

- Advertisement -

Begitu juga seorang istri, jangan berkata jujur ketika dibelikan suaminya baju yang ketinggalan zaman. Karena kejujuran itu justru akan berakibat singkur-singkuran dan perang dingin.

Baca Juga :  Suami Penjaga Rasa

Para suami istri yang hadir kemudian saling pandang dengan pasangan masing-masing dengan wajah saling memaklumi.

Sementara saya sendiri biasa-biasa saja. Hehehe. Bukan karena saya praktisi yang kompeten. Tapi karena hal itu sering saya sampaikan bila memberikan nasihat pernikahan pada kedua mempelai di pelaminan.

Saya hanya membayangkan, seorang suami dengan satu istri berarti si suami harus siap bikin satu kebohongan tiap hari. La kalau quota dipenuhi dengan empat istri, betapa mahir dan terlatih sekaligus terampilnya dia berbohong.

Hehehe.rasa-rasanya, saya kok tidak punya bakat ya…(*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/