alexametrics
30 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

Binrohtal 1.427, Anjuran Saling Memaafkan

SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (10/5), Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafid, menjelaskan pentingnya saling memaafkan. ’’Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya ada di sisi Allah SWT,’’ tuturnya mengutip QS As Syura 40.

.Ustad Yusuf cerita, kelak di hari kiamat ada suara yang memanggil; Berdirilah orang yang mempunyai pahala disisi Allah!

Maka tidak ada yg berdiri kecuali orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Allah menyayangi seorang hamba yang mempunyai kesalahan (berbuat zalim) pada saudaranya, baik terkait kehormatan atau harta, lalu ia mendatanginya dan meminta kehalalan darinya. Sebelum ia dihukum di suatu masa di mana dinar dan dirham tidak berguna yakni hari akhirat. Jika tidak dihalalkan hingga hari akhirat, jika dia memiliki amal kebaikan, maka pahala amalnya akan diambil. Jika dia tidak memiliki amal kebaikan, maka mereka (orang-orang yang pernah dizalimi) akan membebankan dosa kejelekan mereka kepada pelaku kezaliman.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam juga bersabda: Barangsiapa yang saudaranya meminta maaf padanya dengan sebuah alasan, lalu ia tidak menerima permohonan maafnya, maka ia akan mendapatkan dosa kejelekan sebagaimana dosa pelaku pemalakan.

Baca Juga :  Binrohtal 1.386: Kejujuran

Dalam hadis lain disebutkan: Barangsiapa didatangi saudaranya yang meminta maaf, maka terimalah permohonan maafnya, baik dia benar ataupun salah! Jika ia tidak melakukannya (tidak mau memaafkannya) maka dia tidak akan bisa sampai ke telaga Kautsar Rasulullah.

Dalam Ihya Ulumiddin disebutkan,  Fudhail bin iyyadh berkata:  Sikap jantan adalah memaafkan kekhilafan teman.

Suatu hari, Rasulullah Muhammad SAW sedang berkumpul dengan para sahabat. Di tengah perbincangan, tiba-tiba Rasulullah  tertawa ringan sampai terlihat gigi depannya.

Sahabat Umar radiyallahu anhu  yang berada di situ, bertanya: Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah ?

Rasulullah SAW menjawab:  Aku diberitahu malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Salah seorang mengadu kepada Allah sambil berkat: Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku.

Allah SWT berfirman: Bagaimana mungkin Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya sedikitpun?

Orang itu berkata: Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya. Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca. Rasulullah SAW tidak mampu menahan tetesan airmatanya.

Beliau menangis. Lalu Rasulullah berkata: Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya.

Baca Juga :  Binrohtal 1.415: Setan Tak Pernah Menyerah

Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya. Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi: Sekarang angkat kepalamu. Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata: Ya Rabb, aku melihat di depan ku ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan puri dan singgasananya yang terbuat dari emas dan perak bertatahkan intan berlian!

Istana-istana itu untuk nabi, siddiq dan syuhada  yang mana, ya Rabb?

Allah Swt berfirman:  Istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya. Orang itu berkata: Siapakah yang  mampu membayar harganya, ya Rabb?

Allah berfirman: Engkaupun mampu membayar harganya.

Orang itu terheran-heran, sambil berkata: Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?

Allah berfirman: Caranya, engkau memaafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku.

Orang itu berkata: Ya Rabb, kini aku memaafkannya.

Allah berfirman: Kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu.

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam berkata: Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai dan memaafkan. Sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin.

- Advertisement -

SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (10/5), Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafid, menjelaskan pentingnya saling memaafkan. ’’Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya ada di sisi Allah SWT,’’ tuturnya mengutip QS As Syura 40.

.Ustad Yusuf cerita, kelak di hari kiamat ada suara yang memanggil; Berdirilah orang yang mempunyai pahala disisi Allah!

Maka tidak ada yg berdiri kecuali orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Allah menyayangi seorang hamba yang mempunyai kesalahan (berbuat zalim) pada saudaranya, baik terkait kehormatan atau harta, lalu ia mendatanginya dan meminta kehalalan darinya. Sebelum ia dihukum di suatu masa di mana dinar dan dirham tidak berguna yakni hari akhirat. Jika tidak dihalalkan hingga hari akhirat, jika dia memiliki amal kebaikan, maka pahala amalnya akan diambil. Jika dia tidak memiliki amal kebaikan, maka mereka (orang-orang yang pernah dizalimi) akan membebankan dosa kejelekan mereka kepada pelaku kezaliman.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam juga bersabda: Barangsiapa yang saudaranya meminta maaf padanya dengan sebuah alasan, lalu ia tidak menerima permohonan maafnya, maka ia akan mendapatkan dosa kejelekan sebagaimana dosa pelaku pemalakan.

Baca Juga :  Binrohtal 1.774: Cukup Allah Sebagai Penolong

Dalam hadis lain disebutkan: Barangsiapa didatangi saudaranya yang meminta maaf, maka terimalah permohonan maafnya, baik dia benar ataupun salah! Jika ia tidak melakukannya (tidak mau memaafkannya) maka dia tidak akan bisa sampai ke telaga Kautsar Rasulullah.

- Advertisement -

Dalam Ihya Ulumiddin disebutkan,  Fudhail bin iyyadh berkata:  Sikap jantan adalah memaafkan kekhilafan teman.

Suatu hari, Rasulullah Muhammad SAW sedang berkumpul dengan para sahabat. Di tengah perbincangan, tiba-tiba Rasulullah  tertawa ringan sampai terlihat gigi depannya.

Sahabat Umar radiyallahu anhu  yang berada di situ, bertanya: Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah ?

Rasulullah SAW menjawab:  Aku diberitahu malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Salah seorang mengadu kepada Allah sambil berkat: Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku.

Allah SWT berfirman: Bagaimana mungkin Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya sedikitpun?

Orang itu berkata: Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya. Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca. Rasulullah SAW tidak mampu menahan tetesan airmatanya.

Beliau menangis. Lalu Rasulullah berkata: Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya.

Baca Juga :  Binrohtal 1.425, Memaafkan dan Silaturahmi

Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya. Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi: Sekarang angkat kepalamu. Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata: Ya Rabb, aku melihat di depan ku ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan puri dan singgasananya yang terbuat dari emas dan perak bertatahkan intan berlian!

Istana-istana itu untuk nabi, siddiq dan syuhada  yang mana, ya Rabb?

Allah Swt berfirman:  Istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya. Orang itu berkata: Siapakah yang  mampu membayar harganya, ya Rabb?

Allah berfirman: Engkaupun mampu membayar harganya.

Orang itu terheran-heran, sambil berkata: Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?

Allah berfirman: Caranya, engkau memaafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku.

Orang itu berkata: Ya Rabb, kini aku memaafkannya.

Allah berfirman: Kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu.

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam berkata: Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai dan memaafkan. Sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/