Toriqoh 196, Kesembuhan dari Allah

30

Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Ketua MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, mengingatkan pentingnya menyelaraskan ikhtiar lahir dan ikhtiar batin. Dalam hal kesehatan, kita tidak boleh hanya mengandalkan obat-obatan. ’’Abu Bakar Assiddiq menasehati; Orang tidak akan bisa meraih kesehatan dengan obat-obatan medis. Orang hanya akan sehat setelah mendapatkan obat dari Allah subhanahu wa ta’ala,’’ tuturnya.

 

Sebagaimana ditegaskan dalam QS Al Isra 82. Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

 

Juga seperti ditegaskan dalam QS Asy Syuara 80; Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.

 

’’Allah subhanahu wa ta’ala bisa memberikan kesembuhan dengan perantara, maupun dengan tanpa perantara,’’ tegasnya. Makanya ketika sedang sakit, kita harus berobat. Namun juga harus berdoa memohon kesembuhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Suatu ketika, Nabi Musa alaihissalam sakit. Nabi Musa terus berdoa namun tak kunjung sembuh. Nabi Musa lalu bertanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bagaimana caranya agar cepat sembuh. Allah subhanahu wa ta’ala lalu menyuruhnya mengambil dedaunan untuk diminum. Nabi Musa alihissalam akhirnya sembuh.

Baca Juga :  Ingin Memuliakan Alquran

 

Pada waktu yang lain, Nabi Musa sakit lagi dengan sakit yang sama. Nabi Musa langsung mengambil dedaunan itu namun tidak kunjung sembuh. Nabi Musa lalu tanya kepada Allah SWT. Allah menjawab; Pada saat sakit kedua ini, Nabi Musa mengandalkan kesembuhan pada daun. Makanya Allah SWT tidak memberikan kesembuhan.

 

Suatu hari Imam Junaid Albagdadi terkena sakit mata parah sehingga konsultasi dengan dokter. Si dokter menyarankan agar matanya jangan sampai terkena air.

Saran dokter ini tentu sulit dilakukan oleh Imam Junaid karena dia harus wudu setiap hendak salat. Dan ketika wudu, kedua matanya pasti terkena air.

Pulang dari dokter, Imam Junaid nekad wudu dengan membasuh seluruh wajahnya dengan air. Kemudian melaksanakan salat dan tidur. Anehnya, setelah bangun tidur, justru sakit matanya sembuh.

Baca Juga :  Toriqoh 187: Nyaman Bersama Allah

Di tengah keanehan tersebut, tiba-tiba terdengar suara. ’’Junaid mengabaikan kedua matanya demi mendapat keridaan-Ku. Seandainya ahli neraka minta kepada-Ku seperti semangat Junaid, niscaya pasti akan dikabulkan permintaannya,’’ kata suara itu.

Setelah dokter melihat kedua mata Imam Junaid sembuh dengan cepat,  dia menjadi heran dan bertanya; Apa yang telah engkau lakukan?

’’Aku telah melakukan wudu dengan membasuh seluruh muka dan kemudian melaksanakan salat,’’ jawab Imam Junaid.

Kebetulan dokter tersebut beragama Nasrani. Setelah melihat peristiwa itu, dia seketika mengikrarkan keimanan.

’’Ini adalah obat dari Tuhan, bukan makhluk. Aku ini sebenarnya yang sedang sakit mata (mata hati), dan engkaulah dokternya,’’ kata si dokter.

Inilah sebabnya, warga toriqoh diajari zikir dengan kaifiah dan haiah tertentu. Agar zikir gampang masuk ke dalam hati. Ketika zikir sudah masuk ke dalam hati, maka mata hati akan terbuka. Sehingga dalam setiap langkah, kita selalu selaras dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.