Anak & Pengemis

7

Baru-baru ini di beranda FB saya bertebaran postingan dengan judul; ’’Jangan Ajari Anakmu Jadi Pengemis di Hari Idul Fitri.’’

Narasinya bagus, hanya saja saya agak beda pendapat.

Begini…

Anak-anak itu punya dunia sendiri yang sangat berkebalikan dengan dunia kita, orang dewasa.

Bila pegang spidol, dia dengan imajinasinya akan gambari tembok rumah kita yang bersih sesuai hayalan mereka. Meski yang dia torehkan tak jelas bentuknya dan membuat kita kesal.

Ketika di masjid, dia dengan kebosanannya dan ketidakmengertiannya tentang apa itu khusyuk atau fokus, akan membuatnya terus bergerak bahkan berlarian, di depan jamaah yang sedang salat. Padahal kita sudah menasihati berkali-kali.

Begitu juga bila mendapati boneka atau mainan, dia dengan khayalannya akan mengajak bicara atau menyuarakan boneka atau mainan itu bak seorang dalang. Padahal dia tidak kita ajari melakukan itu.

Nah, ketika kita ingin membangun kedekatan dengan dunia anak, kita akan dengan senang hati berpikir dan berperilaku seperti mereka. Ikut-ikutan menyuarakan boneka atau mainan yang ada di tangan kita, di hadapan mereka.

Baca Juga :  Manusia-Manusia Terpilih

Apakah dengan begitu, kita mengajari anak-anak kita supaya kelak lancar bicara dengan benda mati (boneka/mainan )…?

Tentu tidak.

Kita hanya memanfaatkan “boneka bicara” itu sebagai instrumen / sarana / wasilah untuk membangun komunikasi yang efektif dengan anak-anak yang pola pikirnya masih imajinatif.

Begitu usia mereka bertambah, berangsur pola pikir mereka makin realistik. Sehingga kita tak lagi menggunakan “boneka bicara” untuk berkomunikasi dengan mereka. Kecuali kita ingin mereka tertawakan karena kita mengangap mereka anak kecil.

Dari analogi atau qiyas di atas, maka ketika kita menyuruh anak-anak itu mendekat ke eyang, pakde, bude, om atau tantenya di saat Idul Fitri dengan kalimat: “Liat tuh pakde datang. Salim sana biar dapat uang.” Itu sangat jauh dari maksud mengajari anak sebagai pengemis. Karena tujuan utamanya adalah mendekatkan atau membangun silaturahim dengan keluarga dalam “perspektif” anak yang masih lebih senang dengan kualitas kebaruan uang dari pada kuantitas nominalnya.

Baca Juga :  Setahun, MAN 3 Jombang Raih 92 Prestasi

Itu artinya, uang receh yang baru hanya sebagai sarana atau wasilah memotivasi anak-anak untuk salim dengan sesepuhnya.

Saya yakin, ketika dia SMA nanti, sudah mulai muncul rasa malu untuk “berburu” uang Lebaran ke saudara-saudaranya, karena sudah mulai mengerti apa arti silaturahim.

Di sisi lain, saya punya pendapat bahwa tradisi Lebaran “sesepuh memberi uang pada anak-anak (galak gampil)”  adalah tradisi yang patut dilestarikan. Karena di situlah sebenarnya proses peneguhan status “yang tua” dan “yang muda” dipertegas.

Di samping itu, terdapat juga proses pendidikan pada anak-anak untuk berperilaku dermawan, senang memberi sebagaimana yang diteladankan para sesepuhnya itu.

Bukankah secara psikologis, jiwa anak-anak itu masih sangat imitatif.

Maka, mari beri contoh yang baik pada anak-anak dengan menyiapkan uang baru untuk mereka. Berapa pun nominalnya.