Atsar Ramadan

6

Ramadan adalah bulan pelatihan. Sedangkan Syawal adalah bulan peningkatan.  Semua amal ibadah dan amal saleh kita di bulan Ramadan harus terus ditingkatkan di bulan Syawal.

Jangan sampai setelah Ramadan, amal kita justru terjun bebas. Pada bulan Ramadan kita puasa satu bulan penuh. Itu menunjukkan bahwa kita kuat dan mampu berpuasa. Maka di luar Ramadan, kita harus tetap senang berpuasa sunah. Termasuk puasa enam hari di bulan Syawal.

Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam bersabda; Orang yang puasa Ramadan lalu ditambah puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti puasa satu tahun penuh.

Kedua salat malam. Pada bulan Ramadan, tiap malam kita salat tarawih 20 rakaat. Lalu witir tiga rakaat. Di bulan Ramadan kita kuat dan mampu salat 23 rakaat setiap malam. Maka selepas Ramadan, kita harus tetap melaksanakan salat malam. Salat sunat bakda Isya, tahajud dan witir.

Baca Juga :  Saatnya Jemput Pahala

Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, tiap malam selalu salat witir  11 rakaat.

Nabi Muhammad sollallahu alaihi wa sallam berpesan; Jangan tinggalkan salat witir meskipun hanya satu rakaat. Jangan tinggalkan salat tahajud meskipun hanya dua rakaat yang cepat.

Ketiga, selama Ramadan kita sangat ringan bersedekah. Membagi takjil, memberi makan buka, sahur maupun santunan anak yatim. Itu menunjukkan kita mampu bersedekah.

Setelah Ramadan, kita tetap harus senang sedekah. Sebab orang yang butuh makan di bulan Ramadan, mereka tetap butuh makan di luar Ramadan. Usai Ramadan, kita juga tetap harus menyantuni anak yatim. Sebab anak yatim yang butuh makan di bulan Ramadan, juga tetap butuh makan di luar Ramadan.

Baca Juga :  Binrohtal 1.393: Bapak dan Anak Apik

Keempat, selama Ramadan kita kuat dan mampu membaca Alquran satu juz tiap hari. Maka selepas Ramadan, kita juga harus tetap membaca Alquran satu juz tiap hari.

Selama Ramadan, kita kuat dan mampu menahan mulut untuk tidak berkata bohong, membuka aib orang lain, adu domba, sumpah palsu dan tidak melihat dengan syahwat. Maka selepas Ramadan, kita juga pasti mampu untuk tidak melakukan kelimanya.

Oleh:

Prof Ahmad Zahro

Rektor Unipdu