alexametrics
29.3 C
Jombang
Sunday, August 7, 2022

Binrohtal 1.497, Iblis Tak Pernah Menyerah

JOMBANG – Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (4/8), Pengasuh Pesantren Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq, menjelaskan pentingnya menjadikan setan sebagai musuh.

’’Iblis tak pernah menyerah menyesatkan manusia, sehingga kita harus selalu mewaspadai godaannya,’’ tuturnya. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Fatir 6. Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu. Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Dalam QS Albaqarah 168 dan 208 Allah SWT juga tegas meminta kita menjadikan setan sebagai musuh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

Gus Fahmi lalu cerita Abdullah bin Ummi Maktum. Dia merupakan sahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang mulia. Ia menyandang disabilitas, kedua matanya tak bisa melihat. Suatu kali, Abdullah mengikuti kajian Rasulullah SAW di masjid. Rasul menyampaikan tentang kewajiban setiap muslim untuk menunaikan salat di masjid.

Karena kondisi fisiknya, Abdullah memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah. ’’Wahai Rasulullah, apakah saya juga diwajibkan salat di masjid kendati saya tidak bisa melihat?’’ Rasul bertanya balik; Apakah engkau mendengar azan? ’’Ya, saya mendengarnya.’’

Baca Juga :  Binrohtal 1.467, Kurban Tanda Takwa

Maka, Rasul pun memerintahkannya agar tetap pergi ke masjid meskipun sambil merangkak. Dengan penuh keimanan, setiap waktu salat tiba, Abdullah pun selalu bergegas pergi ke masjid untuk berjamaah dengan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

Suatu ketika, azan Subuh berkumdang. Abdullah bin Ummi Maktum bergegas ke masjid. Di tengah jalan, kakinya tersandung sehingga jatuh. Meski demikian, dia tetap bangkit dan meneruskan langkah ke masjid.

Subuh keesokan harinya, seorang pemuda menghampirinya untuk menuntunnya ke masjid. Selama beberapa hari, si pemuda selalu mengantarnya ke masjid. Abdullah bin Ummi Maktum ingin sekali membalas kebaikannya. ’’Wahai saudaraku, siapakah namamu? Aku ingin mengetahui namamu agar bisa mendoakanmu kepada Allah SWT,’’ ujarnya.

’’Apa untungnya bagi Anda mengetahui namaku dan aku tak mau engkau doakan,’’ jawab si pemuda. ’’Jika demikian, cukup sampai di sini saja engkau membantuku. Aku tak mau kamu menolongku lagi karena engkau tak mau didoakan.’’

Baca Juga :  Binrohtal 1.474, Bertetangga karena Allah

Akhirnya, si pemuda memperkenalkan diri. ’’Wahai Abdullah bin Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis.’’

Abdullah tersentak. ’’Kalau engkau memang iblis, mengapa menolongku dan mengantarku ke masjid? Bukankah semestinya engkau mencegahku agar tidak ke masjid?’’ tanya Abdullah bin Ummi Maktum.

Si pemuda kemudian berkata; Wahai Abdullah bin Ummi Maktum, masih ingatkah engkau beberapa hari yang lalu tatkala engkau hendak ke masjid dan engkau kesandung lalu jatuh? Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Sebab, lantaran engkau terjatuh, Allah SWT telah mengampuni dosamu yang separuh. Aku takut kalau engkau tersandung lagi, Allah SWT akan menghapuskan dosamu yang separuhnya lagi sehingga terhapuslah dosamu seluruhnya. Maka, sia-sialah kami menggodamu selama ini.

’’Ini menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya iblis tak akan pernah berhenti untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Dalam hal yang baik pun, iblis selalu berusaha untuk membelokkan orang yang beriman ke arah yang dimurkai Allah SWT,’’ tegas Gus Fahmi. (jif/riz)

- Advertisement -

JOMBANG – Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (4/8), Pengasuh Pesantren Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq, menjelaskan pentingnya menjadikan setan sebagai musuh.

’’Iblis tak pernah menyerah menyesatkan manusia, sehingga kita harus selalu mewaspadai godaannya,’’ tuturnya. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Fatir 6. Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu. Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Dalam QS Albaqarah 168 dan 208 Allah SWT juga tegas meminta kita menjadikan setan sebagai musuh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

Gus Fahmi lalu cerita Abdullah bin Ummi Maktum. Dia merupakan sahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang mulia. Ia menyandang disabilitas, kedua matanya tak bisa melihat. Suatu kali, Abdullah mengikuti kajian Rasulullah SAW di masjid. Rasul menyampaikan tentang kewajiban setiap muslim untuk menunaikan salat di masjid.

Karena kondisi fisiknya, Abdullah memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah. ’’Wahai Rasulullah, apakah saya juga diwajibkan salat di masjid kendati saya tidak bisa melihat?’’ Rasul bertanya balik; Apakah engkau mendengar azan? ’’Ya, saya mendengarnya.’’

Baca Juga :  Binrohtal 1.483, Tiga Perkara yang Disukai Nabi

Maka, Rasul pun memerintahkannya agar tetap pergi ke masjid meskipun sambil merangkak. Dengan penuh keimanan, setiap waktu salat tiba, Abdullah pun selalu bergegas pergi ke masjid untuk berjamaah dengan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

- Advertisement -

Suatu ketika, azan Subuh berkumdang. Abdullah bin Ummi Maktum bergegas ke masjid. Di tengah jalan, kakinya tersandung sehingga jatuh. Meski demikian, dia tetap bangkit dan meneruskan langkah ke masjid.

Subuh keesokan harinya, seorang pemuda menghampirinya untuk menuntunnya ke masjid. Selama beberapa hari, si pemuda selalu mengantarnya ke masjid. Abdullah bin Ummi Maktum ingin sekali membalas kebaikannya. ’’Wahai saudaraku, siapakah namamu? Aku ingin mengetahui namamu agar bisa mendoakanmu kepada Allah SWT,’’ ujarnya.

’’Apa untungnya bagi Anda mengetahui namaku dan aku tak mau engkau doakan,’’ jawab si pemuda. ’’Jika demikian, cukup sampai di sini saja engkau membantuku. Aku tak mau kamu menolongku lagi karena engkau tak mau didoakan.’’

Baca Juga :  Anak & Pengemis

Akhirnya, si pemuda memperkenalkan diri. ’’Wahai Abdullah bin Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis.’’

Abdullah tersentak. ’’Kalau engkau memang iblis, mengapa menolongku dan mengantarku ke masjid? Bukankah semestinya engkau mencegahku agar tidak ke masjid?’’ tanya Abdullah bin Ummi Maktum.

Si pemuda kemudian berkata; Wahai Abdullah bin Ummi Maktum, masih ingatkah engkau beberapa hari yang lalu tatkala engkau hendak ke masjid dan engkau kesandung lalu jatuh? Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Sebab, lantaran engkau terjatuh, Allah SWT telah mengampuni dosamu yang separuh. Aku takut kalau engkau tersandung lagi, Allah SWT akan menghapuskan dosamu yang separuhnya lagi sehingga terhapuslah dosamu seluruhnya. Maka, sia-sialah kami menggodamu selama ini.

’’Ini menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya iblis tak akan pernah berhenti untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Dalam hal yang baik pun, iblis selalu berusaha untuk membelokkan orang yang beriman ke arah yang dimurkai Allah SWT,’’ tegas Gus Fahmi. (jif/riz)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/