alexametrics
24.1 C
Jombang
Sunday, August 7, 2022

How to Read (10)

’’Iqra’ bi ism Rabbik.’’ Al-qira’ah bi al-ism, reading by name, pembacaan dengan menyebut nama besar. Jika Anda dalam keadaan emergensi atau sangat membutuhkan, sedangkan semua usaha Anda sendiri mentok, maka sebagai manusia mesti menginginkan bantuan demi keberhasilan apa yang Anda kehendaki. Termasuk menggunakan nama besar yang Anda miliki.

Anda kena tilang polisi karena Anda berkendara dan tidak mematuhi aturan lalu lintas. Tidak membawa SIM dan tidak memakai helm. Lalu Anda merayu dan pak polisi tidak mau kompromi karena dia polisi yang tegas.

Begitu pak polisi membaca alamat yang ada pada KTP Anda, dia bertanya: Anda dari mana? Anda menjawab: ’’Saya dari pesantren A. Tadi pak kiai Fulan, pengasuhnya, menyuruh saya segera membeli spidol, karena habis di tengah-tengah mengajar. Langsung saya berangkat tanpa pikir membawa SIM.” Begitu Anda menyebut nama kiai Fulan, pak polisi sungkan dan hormat, karena dia kenal dan mengerti atau dia dulu santrinya.

Begitulah adanya. Itulah keadaan sebenarnya. Ketika Anda sekedar menyebut nama Tuhan, nama besar, nama Allah SWT ketika memulai sebuah pekerjaan. Anda akan terbantu oleh kebesaran nama itu dan semua syaitan penghalang minggat dan tidak berani datang mengganggu.

Baca Juga :  Motor Penumpang Tiga Orang Jatuh Tersenggol Truk, Satu Penumpangnya Tewas

Penggunaan kata ’’ism’’ pada ayat ini menunjukkan betapa saktinya sebuah nama. Apalagi nama besar, hingga reading tidak perlu menghadirkan Tuhan, melainkan cukup nama-Nya saja. Sebut nama-Nya saja, maka keadaan menjadi berubah. Yang susah menjadi mudah, yang sukar menjadi lancar dan yang buntu menjadi laju.

Itulah sebabnya ayat ini berbunyi ’’bi ism Rabbik’’ (dengan nama Tuhan-mu) dan tidak ’’bi Rabbik’’ (dengan Tuhan-mu). Ya, karena menghadirkan Rabb terlalu besar, toh yang dihadapai hanya sedekar urusan kecil. Semua urusan di dunia ini kecil sekali dan tak ada apa-apanya dibanding kebesaran ’’tangan’’ Tuhan. Maka cukup nama-Nya saja sudah beres seperti terpaparkan pada illustrasi di atas.

Penyebutan nama Tuhan atau reading berbasis teologis ini menjadi ajaran bagi orang beriman dalam setiap langkahnya. Hal demikian karena syaitan dan kroninya selalu hadir mengganggu.

Baca Juga :  Punya Empat Program Unggulan

Ketika sebuah rumah tidak pernah disebut asma Tuhan di dalamnya, maka syaitan bersemayan di situ. Ketika tuan rumahnya tidak menyebut asma Allah saat makan, maka syaitan nimbrung makan bersama. Ketika tuan rumah bersenggama, bersetubuh dan bermesraan tanpa menyebut asma Allah, maka syaitan ikutan menyetubuhi dan menikmati. Itulah maka kehadiran Tuhan mutlak dibutuhkan saat seorang mukmin beraktivitas.

Terseru dan paling dibenci syaitan adalah ketika seorang muslim hendak membaca kitab suci Alquran, maka syaitan di sekitar gelisah dan kepanasan. Lalu mengirim pesan melalui ’’WA’’ ke grup mereka. Isinya hendaknya mereka segera datang ke tempat yang ditunjuk demi membantu menggagalkan pembacaan Alquran atau proses belajar mengajar Alquran.

Makanya, manusia lebih enjoy dan bahkan ketagihan membaca pesan, situs, game atau apa saja dalam ponselnya ketimbang membaca Alquran, kitab sucinya sendiri. Jika Anda seperti itu, maka itu pertanda spiritual reading Anda rendah. Kita sama-sama beristigfar. (bersambung, insya Allah). (*)

- Advertisement -

’’Iqra’ bi ism Rabbik.’’ Al-qira’ah bi al-ism, reading by name, pembacaan dengan menyebut nama besar. Jika Anda dalam keadaan emergensi atau sangat membutuhkan, sedangkan semua usaha Anda sendiri mentok, maka sebagai manusia mesti menginginkan bantuan demi keberhasilan apa yang Anda kehendaki. Termasuk menggunakan nama besar yang Anda miliki.

Anda kena tilang polisi karena Anda berkendara dan tidak mematuhi aturan lalu lintas. Tidak membawa SIM dan tidak memakai helm. Lalu Anda merayu dan pak polisi tidak mau kompromi karena dia polisi yang tegas.

Begitu pak polisi membaca alamat yang ada pada KTP Anda, dia bertanya: Anda dari mana? Anda menjawab: ’’Saya dari pesantren A. Tadi pak kiai Fulan, pengasuhnya, menyuruh saya segera membeli spidol, karena habis di tengah-tengah mengajar. Langsung saya berangkat tanpa pikir membawa SIM.” Begitu Anda menyebut nama kiai Fulan, pak polisi sungkan dan hormat, karena dia kenal dan mengerti atau dia dulu santrinya.

Begitulah adanya. Itulah keadaan sebenarnya. Ketika Anda sekedar menyebut nama Tuhan, nama besar, nama Allah SWT ketika memulai sebuah pekerjaan. Anda akan terbantu oleh kebesaran nama itu dan semua syaitan penghalang minggat dan tidak berani datang mengganggu.

Baca Juga :  Motor Penumpang Tiga Orang Jatuh Tersenggol Truk, Satu Penumpangnya Tewas

Penggunaan kata ’’ism’’ pada ayat ini menunjukkan betapa saktinya sebuah nama. Apalagi nama besar, hingga reading tidak perlu menghadirkan Tuhan, melainkan cukup nama-Nya saja. Sebut nama-Nya saja, maka keadaan menjadi berubah. Yang susah menjadi mudah, yang sukar menjadi lancar dan yang buntu menjadi laju.

Itulah sebabnya ayat ini berbunyi ’’bi ism Rabbik’’ (dengan nama Tuhan-mu) dan tidak ’’bi Rabbik’’ (dengan Tuhan-mu). Ya, karena menghadirkan Rabb terlalu besar, toh yang dihadapai hanya sedekar urusan kecil. Semua urusan di dunia ini kecil sekali dan tak ada apa-apanya dibanding kebesaran ’’tangan’’ Tuhan. Maka cukup nama-Nya saja sudah beres seperti terpaparkan pada illustrasi di atas.

- Advertisement -

Penyebutan nama Tuhan atau reading berbasis teologis ini menjadi ajaran bagi orang beriman dalam setiap langkahnya. Hal demikian karena syaitan dan kroninya selalu hadir mengganggu.

Baca Juga :  Ingin Memuliakan Alquran

Ketika sebuah rumah tidak pernah disebut asma Tuhan di dalamnya, maka syaitan bersemayan di situ. Ketika tuan rumahnya tidak menyebut asma Allah saat makan, maka syaitan nimbrung makan bersama. Ketika tuan rumah bersenggama, bersetubuh dan bermesraan tanpa menyebut asma Allah, maka syaitan ikutan menyetubuhi dan menikmati. Itulah maka kehadiran Tuhan mutlak dibutuhkan saat seorang mukmin beraktivitas.

Terseru dan paling dibenci syaitan adalah ketika seorang muslim hendak membaca kitab suci Alquran, maka syaitan di sekitar gelisah dan kepanasan. Lalu mengirim pesan melalui ’’WA’’ ke grup mereka. Isinya hendaknya mereka segera datang ke tempat yang ditunjuk demi membantu menggagalkan pembacaan Alquran atau proses belajar mengajar Alquran.

Makanya, manusia lebih enjoy dan bahkan ketagihan membaca pesan, situs, game atau apa saja dalam ponselnya ketimbang membaca Alquran, kitab sucinya sendiri. Jika Anda seperti itu, maka itu pertanda spiritual reading Anda rendah. Kita sama-sama beristigfar. (bersambung, insya Allah). (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/