alexametrics
24.1 C
Jombang
Sunday, August 7, 2022

Binrohtal 1.495, Tanda Ngaji Berkah

JOMBANG – Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (3/8), Pengasuh PP Falahul Muhibbin, Watugaluh, Diwek, KH Nurhadi (Mbah Bolong), menjelaskan tanda ngaji berkah.

’’Kita bersyukur tiap hari bisa ngaji seperti ini. Orang yang ngajinya berkah, tandanya ada empat,’’ tuturnya.

Pertama, takwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. ’’Orang yang ngajinya berkah, akan muncul rasa takut kepada Allah SWT dalam hatinya,’’ jelasnya. Dia akan selalu melaksanakan perintah Allah SWT. Serta menjauhi semua larangan Allah subhanahu wa ta’ala. ’’Dalam kesendirian, dia menangisi dosa-dosanya,’’ terangnya. Mata yang menangis karena menyesali dosa-dosanya tidak akan disiksa oleh Allah SWT.

’’Dia menyesali dosa-dosanya, kenapa selama ini tidak salat. Kenapa selama ini tidak puasa. Kenapa selama ini tidak zakat. Kenapa selama ini maksiat,’’ bebernya. Orang yang ngajinya berkah, akan semakin meninggalkan kemaksiatan dan dosa. Serta semakin memperbanyak ibadah dan amal saleh.

Kedua, tanda orang yang ngajinya berkah yakni zuhud. ’’Zuhud itu maksudnya, secukupnya masalah dunia,’’ terangnya. Dia tidak menghalalkan segala cara meraih dunia. Dia tidak korupsi. Dia profesional, amanah dan tidak foya-foya.

Baca Juga :  Binrohtal 1.480, Surga dan Neraka karena Lalat

Dia tidak susah kehilangan dunia. Temannya naik pangkat, dia tidak naik pangkat, biasa saja. Temannya punya mobil, dia tak punya mobil, biasa saja. Tapi kerjanya tetap profesional dan amanah. ’’Ketika punya harta dan jabatan, dia juga tidak kemelinti. Tetap bersikap biasa saja,’’ bebernya.

Mbah Bolong lalu cerita KH Abdul Jalil Mustakim Tulungagung. Suatu ketika Kiai Jalil ditanya tentang zuhud. Kiai Jalil lalu minta orang itu menimba air sampai bak mandi besar penuh. Orang itu lalu disuruh mandi. Kemudian ditanya, apakah semua air di bak mandi besar dia habiskan untuk mandi? Dia menjawab tidak. Dia hanya memakai air secukupnya. Nah, Kiai Jalil menjelaskan, seperti itulah zuhud. Kita boleh mencari dunia sebanyak-banyaknya dengan cara halal. Namun yang kita pakai hanya secukupnya. Lainnya disedekahkan dan dimanfaatkan untuk ibadah.

Baca Juga :  Toriqoh 178: Ilmu karena Allah

Ketiga tawaduk. ’’Menghargai orang lain dan menghargai semua ciptaan Allah SWT,’’ tuturnya. Melihat orang lebih tua, berprasangka bahwa orang itu amalnya lebih banyak. Melihat anak lebih muda, berprasangka anak itu dosanya lebih sedikit. ’’Bahkan melihat pelacur pun tetap berprasangka positif, setiap saat dia bisa tobat dan diampuni Allah SWT,’’ bebernya.

Mbah Bolong lalu cerita orang yang menghina kecoa. ’’Untuk apa Allah SWT menciptakan kecoa?,’’ ucapnya. Orang itu lalu sakit koreng di kepalanya. Setelah konsultasi, obatnya adalah disuruh membakar kecoa. Lalu abunya ditaburkan di koreng. Setelah itu dilakukan, dia pun sembuh. Sejak itu dia pun yakin, kecoa pun ada manfaatnya.

Keempat, orang yang ngajinya berkah akan bisa merangi hawa nafsu. ’’Nafsu ingin marah, dia tahan. Nafsu ngajak bermusuhan, dia tahan,’’ paparnya. Nafsu ingin pelit, dia lawan dengan tetap bersikap dermawan. Nafsu ngajak maksiat dia belokkan kearah kebaikan. (jif/naz/riz)

 

- Advertisement -

JOMBANG – Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (3/8), Pengasuh PP Falahul Muhibbin, Watugaluh, Diwek, KH Nurhadi (Mbah Bolong), menjelaskan tanda ngaji berkah.

’’Kita bersyukur tiap hari bisa ngaji seperti ini. Orang yang ngajinya berkah, tandanya ada empat,’’ tuturnya.

Pertama, takwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. ’’Orang yang ngajinya berkah, akan muncul rasa takut kepada Allah SWT dalam hatinya,’’ jelasnya. Dia akan selalu melaksanakan perintah Allah SWT. Serta menjauhi semua larangan Allah subhanahu wa ta’ala. ’’Dalam kesendirian, dia menangisi dosa-dosanya,’’ terangnya. Mata yang menangis karena menyesali dosa-dosanya tidak akan disiksa oleh Allah SWT.

’’Dia menyesali dosa-dosanya, kenapa selama ini tidak salat. Kenapa selama ini tidak puasa. Kenapa selama ini tidak zakat. Kenapa selama ini maksiat,’’ bebernya. Orang yang ngajinya berkah, akan semakin meninggalkan kemaksiatan dan dosa. Serta semakin memperbanyak ibadah dan amal saleh.

Kedua, tanda orang yang ngajinya berkah yakni zuhud. ’’Zuhud itu maksudnya, secukupnya masalah dunia,’’ terangnya. Dia tidak menghalalkan segala cara meraih dunia. Dia tidak korupsi. Dia profesional, amanah dan tidak foya-foya.

Baca Juga :  Binrohtal 1.480, Surga dan Neraka karena Lalat

Dia tidak susah kehilangan dunia. Temannya naik pangkat, dia tidak naik pangkat, biasa saja. Temannya punya mobil, dia tak punya mobil, biasa saja. Tapi kerjanya tetap profesional dan amanah. ’’Ketika punya harta dan jabatan, dia juga tidak kemelinti. Tetap bersikap biasa saja,’’ bebernya.

- Advertisement -

Mbah Bolong lalu cerita KH Abdul Jalil Mustakim Tulungagung. Suatu ketika Kiai Jalil ditanya tentang zuhud. Kiai Jalil lalu minta orang itu menimba air sampai bak mandi besar penuh. Orang itu lalu disuruh mandi. Kemudian ditanya, apakah semua air di bak mandi besar dia habiskan untuk mandi? Dia menjawab tidak. Dia hanya memakai air secukupnya. Nah, Kiai Jalil menjelaskan, seperti itulah zuhud. Kita boleh mencari dunia sebanyak-banyaknya dengan cara halal. Namun yang kita pakai hanya secukupnya. Lainnya disedekahkan dan dimanfaatkan untuk ibadah.

Baca Juga :  Liburan, Madrasah di Jombang Tetap Masuk

Ketiga tawaduk. ’’Menghargai orang lain dan menghargai semua ciptaan Allah SWT,’’ tuturnya. Melihat orang lebih tua, berprasangka bahwa orang itu amalnya lebih banyak. Melihat anak lebih muda, berprasangka anak itu dosanya lebih sedikit. ’’Bahkan melihat pelacur pun tetap berprasangka positif, setiap saat dia bisa tobat dan diampuni Allah SWT,’’ bebernya.

Mbah Bolong lalu cerita orang yang menghina kecoa. ’’Untuk apa Allah SWT menciptakan kecoa?,’’ ucapnya. Orang itu lalu sakit koreng di kepalanya. Setelah konsultasi, obatnya adalah disuruh membakar kecoa. Lalu abunya ditaburkan di koreng. Setelah itu dilakukan, dia pun sembuh. Sejak itu dia pun yakin, kecoa pun ada manfaatnya.

Keempat, orang yang ngajinya berkah akan bisa merangi hawa nafsu. ’’Nafsu ingin marah, dia tahan. Nafsu ngajak bermusuhan, dia tahan,’’ paparnya. Nafsu ingin pelit, dia lawan dengan tetap bersikap dermawan. Nafsu ngajak maksiat dia belokkan kearah kebaikan. (jif/naz/riz)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/