Refleksi Idul Fitri

34

 

Dalam membicarakan topik Idul Fitri ini, kita terlebih dahulu harus meninjaunya dari hakikat Idul Fitri sebagai akhir dari sebuah perjalanan yang berupa ibadah puasa di dalam bulan Ramadan. Ibadah puasa sendiri mempunyai dua dimensi peribadatan yang tidak boleh berat sebelah, yakni dimensi ritualistik dan dimensi sosial.

Yang pertama adalah dimensi ritualistik. Yaitu ibadah puasa ditendensikan sebagai ibadah ritual semata sembari berharap dengan tekun menjalankannya maka akan mendapatkan imbalan pahala di sisi Tuhan. Selain berpuasa, banyak ibadah lain yang gemar dilakukan di bulan Ramadan ini untuk meningkatkan kadar ketaatan dan kesalihan kepada Tuhan, yakni dengan berlama-lama salat malam yang banyak jumlah rakaatnya, dan bertadarus Alquran semalam suntuk.

Di dalam Alquran, Tuhan memberikan penjelasan kepada kita bahwa satu-satunya tujuan diwajibkannya menjalankan syariat ibadah puasa adalah agar kamu sekalian menjadi orang yang bertakwa. Takwa sendiri merupakan sebuah proses perwujudan penghambaan diri kita kepada Tuhan yang berupa kepatuhan untuk melakukan semua yang diperintah oleh-Nya, dan menolak semua yang dilarang-Nya.

Takwa juga merupakan sebuah akibat dari berbagai macam sebab yang mempunyai nilai kebaikan, kebajikan dan keluhuran. Di antara salah satu dari berbagai macam sebab itu adalah melaksanakan ibadah puasa. Oleh karena itu, berpuasa merupakan salah satu ciri dari seseorang yang bersedia patuh kepada Tuhan karena mendambakan nilai keluhuran yang ada di dalamnya.

Baca Juga :  Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar Apresiasi Lomba

Yang kedua adalah dimensi sosial. Saya sependapat dengan banyak orang di antara kita yang mengatakan bahwa berpuasa merupakan bentuk penghayatan kita untuk ikut merasakan susah dan beratnya menjalani kehidupan sehari-hari dengan tidak terpenuhinya makanan dan minuman yang menimpa sebagian dari saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Sehingga dari ikut merasakan keprihatinan ini maka akan menumbuhkan rasa solidaritas dan simpati yang kuat di antara kita. Perasaan solidaritas yang kokoh inilah yang harus kita rawat untuk kemudian kita tumbuhkembangkan di dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal ini pulalah yang menjadikan bulan Ramadan ini menjadi bulan yang suci, karena di dalamnya terkandung ikatan sosial dalam bentuk persaudaraan yang kuat, yang didukung oleh rasa kebersamaan, keprihatinan dan kesetiaan untuk menolong orang lain, sehingga Tuhan menyediakan (maghfirah) ampunan yang dapat mensucikan diri kita.

Baca Juga :  Musim Libur Sekolah, 5.000 Orang Ziarahi ke Makam Gusdur Setiap Hari

Maka dari itu ibadah puasa yang telah kita jalani bersama hendaknya antara dimensi ritual dengan sosial harus seimbang. Puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga saja, tetapi diharapkan dari ibadah puasa kita mampu melebur hawa nafsu kita yang berupa keinginan untuk mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya, keinginan untuk mendapat kekuasaan dalam hal mencapai kesenangan pribadi dan kelompoknya, sehingga mengorbankan kelompok atau masyarakat yang lain, yang menjadikan pincangnya keharmonisan kehidupan bermasyarakat. Hal ini lah yang menjadi titik penting untuk dijadikan sebagai sebuah pijakan dan pedoman dalam berhari raya dan menjalani kehidupan ke depan.

Oleh karenanya, dalam merefleksikan hari raya Idul Fitri ini, marilah kita perkuat dan perkokoh tali persaudaraan di antara kita, dengan saling tolong-menolong dan mengasihi yang didasari atas rasa peduli dan rasa memiliki di antara satu sama lain. Sehingga akan tercipta kehidupan sosial bermasyarakat yang harmonis. (*)

Oleh:
KH Abdul Hakim Mahfudz
Pengasuh Ponpes Tebuireng, Cukir, Jombang.