Selasa, 18 Jan 2022
Radar Jombang
Home / Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Binrohtal 1.304: Tak Perlu Serakah

03 Desember 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Binrohtal 1.304: Tak Perlu Serakah

Pengasuh Pesantren Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadzik

Share this      

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (2/12/2021), Pengasuh Pesantren Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq menjelaskan pentingnya pemimpin adil. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Annahl 90. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan. Memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

’’Contoh pemimpin adil yakni Umar bin Abdul Aziz,’’ tuturnya. Umar bin Abdul Aziz tercatat dalam sejarah dengan tinta emas sebagai pemimpin yang adil, jujur, bersajaha dan sederhana. Tak hanya sebagi khalifah, Umar bin Abdul Aziz juga merupakan seorang ulama. Serta dikelilingi ulama-ulama besar saat menjalankan pemerintahannya.

Kesalehan Umar bin Abdul Aziz sangat masyhur. Dia dipandang sebagai seorang pemimpin muslim teladan. Dia kerap disejajarkan dengan empat khalifah rasyidah.

Baca juga: BEM Fakultas Ilmu Pendidikan Unwaha Sambangi SDN Pakel 3

Dia menawarkan tunjangan kepada para guru dan mendorong pendidikan. Melalui teladan pribadinya, dia menanamkan kesalihan, ketabahan, etika bisnis, dan kejujuran moral di masyarakat.

Pernah pada suatu hari, Umar bin Abdul Aziz mengundang makan malam para pejabat tinggi Dinasti Umayyah. Sebelumnya, dia sudah menginstruksikan para koki agar menunda dulu penyajian makanan.

Ketika para undangan mulai menyentuh perut mereka sebagai pertanda lapar, barulah Umar bin Abdul Aziz menyuruh agar para pelayan menyiapkan hidangan. Umar menyuruh agar para pelayan terlebih dulu menyajikan roti bakar.

Makanan sederhana itu pun langsung disantap Umar yang kemudian diikuti oleh para tamu.

Tak berapa lama, “menu utama” pun terhidang. Umar bin Abdul Aziz kemudian mempersilakan para tamu undangan untuk menyantapnya. Namun para tamu menolak lantaran sudah kenyang.

Pada waktu itu, Umar bin Abdul Aziz berkata, ’’Saudara-saudara, jika Anda bisa memuaskan nafsu makan dengan makanan sederhana, mengapa harus serakah, sewenang-wenang sampai-sampai harus merampas milik orang lain?”

Mendengar perkataan tersebut, hadirin yang merupakan para petinggi negara tertunduk malu. Itulah Umar: adil, tegas dan sederhana.

Ketegasan, keadilan dan kesederhanaannya itulah yang membuatnya dicintai oleh banyak orang, baik muslim maupun non-muslim. Umar bin Abdul Aziz dipandang sebagai sosok yang saleh dan kerap disebut sebagai khulafaur rasyidin kelima.

Sayangnya pada saat yang sama, ia juga dibenci oleh keluarga, kelompok, teman dekat serta orang-orang yang berhati busuk dan serakah. Itulah risiko menjadi pemimpin adil dan bersih.

(jo/jif/jif/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia