alexametrics
31.5 C
Jombang
Wednesday, August 10, 2022

Binrohtal 1.494 Prasangka Membawa Tobat

JOMBANG – Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (2/8), Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafid, menjelaskan pentingnya berprasangka baik.

’’Prasangka jelek itu berdosa. Sebaliknya, berprasangka baik itu berpahala,’’ tuturnya. Sebagaimana disebutkan dalam QS Alhujurat 12.

Ustad Yusuf lalu menceritakan kisah yang disampaikan Abu Abdullah al-Muhamili dari bapaknya. Di Bagdad kami punya teman seorang tukang kayu. Ia merendahkan kelompok sufi, membenci, dan sering menghina mereka. Namun, setelah itu, aku melihatnya bersahabat dengan mereka. la mau menginfakkan hartanya kepada mereka. Aku bertanya; Bukankah engkau membenci mereka? Ia berkata; Ternyata, tidak seperti yang aku duga.

Lebih lanjut ia berkata; Suatu hari aku pergi salat Jumat. Setelah itu, aku melihat Basyar Al Hafi terlihat buru-buru keluar dari masjid. Aku berkata dalam hati; Aku harus melihat apa yang akan dilakukan orang yang dijuluki sang zahid ini. Aku melihatnya mendekati tukang roti, kemudian ia membeli satu dirham.

Baca Juga :  Toriqoh 194: Kaya Harus Usaha

Setelah itu, ia mendatangi tukang sate, dan membeli satu dirham. Aku semakin marah. Setelah itu, ia mendatangi tukang kue, mereka bertransaksi  jenis kue. Aku berkata dalam hati; demi Allah, aku akan membantahnya  sebagai pezuhud, ketika ia duduk dan hendak menyantap makanan itu nanti.

Ternyata, ia pergi ke sahara. Aku menduga, itu karena ia menginginkan sayuran dan air. Ternyata, ia masih terus berjalan hingga ke Basrah, sedangkan aku masih menguntit di belakangnya. Setibanya di Basrah, ia memasuki sebuah masjid di sebuah desa. Di situ terbaring seseorang yang sakit, ia duduk di dekat kepalanya sambil menyuapkan makanan itu.

Aku melihat-lihat suasana desa itu, selang kemudian kembali ke masjid. Aku berkata kepada orang yang sakit, Di mana Basyar? Ia menjawab; Pergi ke Bagdad.  Aku bertanya lagi; Berapa jarak dari sini ke Bagdad? Ia menjawab, ’40 farsakh (221 km). Aku berkata; Innâ lillâh wa inna ilaihi raji’ûn, apa yang telah terjadi pada diriku?! Aku tak sanggup berjalan lagi.

Baca Juga :  Binrohtal 1.414: Ramadan Bulan Alquran

Orang itu berkata; Tunggu saja di sini sampai ia kembali. Aku pun memilih tinggal hingga Jumat berikutnya, barulah Basyar datang. Ia membawa makanan untuk disuapkan kepada yang sakit. Setelah selesai, orang itu berkata kepadanya; Wahai Abu Nashr, orang ini sahabatmu dari Bagdad, dia bersamaku sejak Jumat yang lalu.

Ia memandang seperti marah. Kemudian ia berkata; Mengapa engkau mengikutiku?’ Kukatakan; Aku keliru.  Ia berkata; Bangun dan pergilah. Aku pun berjalan ke arah barat. Ketika mendekati Bagdad,ia berkata kepadaku; Di mana tempat tinggalmu di kota ini?’ Kujawab; Di daerah ini dan ini.

Ia berkata; Pergilah dan jangan kembali lagi.  Sejak saat itu aku bertobat kepada Allah SWT atas kesalahan. Perkiraanku tentang mereka selama ini salah. Setelah itu, aku memilih bersahabat dengan mereka sampai kini. (jif/naz/riz)

 

- Advertisement -

JOMBANG – Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (2/8), Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafid, menjelaskan pentingnya berprasangka baik.

’’Prasangka jelek itu berdosa. Sebaliknya, berprasangka baik itu berpahala,’’ tuturnya. Sebagaimana disebutkan dalam QS Alhujurat 12.

Ustad Yusuf lalu menceritakan kisah yang disampaikan Abu Abdullah al-Muhamili dari bapaknya. Di Bagdad kami punya teman seorang tukang kayu. Ia merendahkan kelompok sufi, membenci, dan sering menghina mereka. Namun, setelah itu, aku melihatnya bersahabat dengan mereka. la mau menginfakkan hartanya kepada mereka. Aku bertanya; Bukankah engkau membenci mereka? Ia berkata; Ternyata, tidak seperti yang aku duga.

Lebih lanjut ia berkata; Suatu hari aku pergi salat Jumat. Setelah itu, aku melihat Basyar Al Hafi terlihat buru-buru keluar dari masjid. Aku berkata dalam hati; Aku harus melihat apa yang akan dilakukan orang yang dijuluki sang zahid ini. Aku melihatnya mendekati tukang roti, kemudian ia membeli satu dirham.

Baca Juga :  Binrohtal 1.435, Tanda Ramadan Diterima

Setelah itu, ia mendatangi tukang sate, dan membeli satu dirham. Aku semakin marah. Setelah itu, ia mendatangi tukang kue, mereka bertransaksi  jenis kue. Aku berkata dalam hati; demi Allah, aku akan membantahnya  sebagai pezuhud, ketika ia duduk dan hendak menyantap makanan itu nanti.

Ternyata, ia pergi ke sahara. Aku menduga, itu karena ia menginginkan sayuran dan air. Ternyata, ia masih terus berjalan hingga ke Basrah, sedangkan aku masih menguntit di belakangnya. Setibanya di Basrah, ia memasuki sebuah masjid di sebuah desa. Di situ terbaring seseorang yang sakit, ia duduk di dekat kepalanya sambil menyuapkan makanan itu.

- Advertisement -

Aku melihat-lihat suasana desa itu, selang kemudian kembali ke masjid. Aku berkata kepada orang yang sakit, Di mana Basyar? Ia menjawab; Pergi ke Bagdad.  Aku bertanya lagi; Berapa jarak dari sini ke Bagdad? Ia menjawab, ’40 farsakh (221 km). Aku berkata; Innâ lillâh wa inna ilaihi raji’ûn, apa yang telah terjadi pada diriku?! Aku tak sanggup berjalan lagi.

Baca Juga :  Tim Olimpiade MAN 1 Jombang Sabet 80 Medali Olnas Madrasah

Orang itu berkata; Tunggu saja di sini sampai ia kembali. Aku pun memilih tinggal hingga Jumat berikutnya, barulah Basyar datang. Ia membawa makanan untuk disuapkan kepada yang sakit. Setelah selesai, orang itu berkata kepadanya; Wahai Abu Nashr, orang ini sahabatmu dari Bagdad, dia bersamaku sejak Jumat yang lalu.

Ia memandang seperti marah. Kemudian ia berkata; Mengapa engkau mengikutiku?’ Kukatakan; Aku keliru.  Ia berkata; Bangun dan pergilah. Aku pun berjalan ke arah barat. Ketika mendekati Bagdad,ia berkata kepadaku; Di mana tempat tinggalmu di kota ini?’ Kujawab; Di daerah ini dan ini.

Ia berkata; Pergilah dan jangan kembali lagi.  Sejak saat itu aku bertobat kepada Allah SWT atas kesalahan. Perkiraanku tentang mereka selama ini salah. Setelah itu, aku memilih bersahabat dengan mereka sampai kini. (jif/naz/riz)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/