Jumat, 21 Jan 2022
Radar Jombang
Home / Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Binrohtal 1.303: Warisan yang Utama

02 Desember 2021, 08: 35: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Binrohtal 1.303: Warisan yang Utama

Pengasuh Pesantren Falahul Muhibbin, Watugaluh, Diwek, KH Nurhadi (Mbah Bolong)

Share this      

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (1/12), Pengasuh Pesantren Falahul Muhibbin, Watugaluh, Diwek, KH Nurhadi (Mbah Bolong), menjelaskan tiga nasehat Sayidina Ali karramallahu wajhah, menantu Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. ’’Pertama, warisan yang utama adalah ilmu,’’ tuturnya.

Mbah Bolong cerita, suatu hari Abu Hurairah mengumumkan kepada orang-orang yang ada di pasar. ’’Nabi membagi warisan, nabi membagi warisan,’’ ucapny. Orang-orang lalu meninggalkan pekerjaannya dan mendatangi nabi. Ternyata, saat itu nabi sedang ngaji menyampaikan ilmu. Orang-orang marah kepada Abu Hurairah. Namun Abu Hurairah menyatakan bahwa warisan nabi memang ilmu. Dan nabi sedang ngaji, membagi-bagikan warisan.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi menyatakan, ulama adalah pewaris para nabi. Mereka tidak mewariskan harta namun mewariskan ilmu. ’’Pengajian seperti ini sepertinya remeh, padahal dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala nilainya sangat besar,’’ kata Mbah Bolong. Saat ngaji, pasti yang diajarkan adalah ilmu yang bersumber dari Alquran dan hadis. Nah, ketika kita ngaji ilmu, maka rahmat Allah SWT akan diturunkan kepada kita. Sehingga semua masalah kita akan beres. Semua hajat kita akan dikabulkan. Semua yang sakit akan disembuhkan. Dan semua balak, musibah dan bencana akan diangkat. ’’Dengan rutin ngaji tiap usai salat Duhur seperti ini, mudah-mudahan keluarga besar Polres Jombang dihindarkan dari segala bahaya dan dimudahkan menjalankan tugas,’’ ucap Mbah Bolong diamini hadirin.

Baca juga: Student Journalism: Faedah Bergaul

Kedua, akhlak adalah perilaku yang paling utama. ’’Karena akhlak, salat bisa berubah,’’ ujarnya. Mbah Bolong cerita, dulunya, setiap pindah gerakan salat, yang dibaca yakni takbir. Sampai suatu hari, Ali telat datang salat Subuh untuk berjamaah dengan nabi. Penyebabnya, di jalan ada orang tua renta. Demi melaksanakan akhlak mulia, Ali tidak mendahului orang tua di depannya. Perjalanan Ali ke masjid menjadi sangat pelan dan telat. Ternyata, orang itu tidak menuju masjid. Jadi kepada orang tua renta yang non muslim pun, kita tetap harus berakhlak.

Demi menunggu Ali tiba di masjid, Allah perintah malaikat menahan matahari agar tidak keluar dulu. Agar waktu Subuh tidak cepat habis. Allah juga perintah malaikat menahan nabi yang sedang rukuk agar tidak bangkit. Supaya Ali tetap mendapati salat jamaah.

Begitu tiba di masjid dan tahu belum ketinggalan salat, Ali berucap keras, ’’Alhamdulillah..’’ Nabi yang mengetahui hal itu lantas bangkit dari rukuk dengan mengucap, ’’Samiallahu liman hamidah.’’ Sejak itu, perpindahan dari rukuk ke iktidal tidak lagi baca takbir. Namun baca samiallahu liman hamidah.

Ketiga, bekal yang utama yakni takwa. Sebagaimana disebutkan dalam QS Albaqarah 197. Siapkanlah bekal, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. ’’Tanda takwa yakni takut maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala,’’ tegas Mbah Bolong. Maksiat adalah melanggar larangan Allah dan tidak mengerjakan perintah Allah SWT. ’’Jika kita bertakwa, maka bekal kita akan terus bertambah dan bertambah,’’ ucapnya. Sehingga kelak sowan menghadap Allah subhanahu wa ta’ala dengan membawa banyak bekal.

(jo/jif/jif/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia