alexametrics
22.5 C
Jombang
Saturday, June 25, 2022

Manusia-Manusia Terpilih

ALHAMDULILLAHI rabbil ‘alamin. Itulah kalimat syukur yang harus senantiasa kita ucapkan, karena kita masih diberi hidup dan kehidupan oleh Sang Khaliq,  Allah SWT, terlebih lagi dalam keadaan Iman dan Islam.

Sejenak saya ingin mengajak untuk menengok ke belakang, Ramadan setahun dan dua tahun yang lalu. Masa di mana kita semua dihadapkan dengan permasalahan yang sama sekali belum pernah kita alami dan tidak pernah terbayangkan yaitu pandemi Covid-19.

Pusat keramaian ditutup, jalan-jalan disekat dan sepi, bahkan masjid, musala dan tempat ibadah lain pun tidak diperkenankan sebagai tempat berjamaah/berkumpul, atau setidaknya diatur untuk berjarak, tidak menggunakan karpet, ditutup dll. Yang ramai hanya rumah sakit dan suara sirine ambulance yang tiada henti melewati jalan bahkan gang-gang sempit di sekitar rumah kita.

Ditambah lagi suara corong dari masjid dan musala serta fasilitas umum di RT, RW dan balai desa yang menyuarakan Innalillahi wainna ilaihi raji’un, karena ada orang tua, saudara, kerabat atau tetangga kita yang meninggal dunia, baik dikarenakan Covid-19 maupun karena penyakit lain.

Rasanya tidak ada di antara kita yang saat ini hidup, yang tidak kehilangan satu atau beberapa anggota keluarga. Belum lagi berita yang beredar di HP kita, sehingga dengan mudah sekali menemukan stiker dukacita di WAG atau aplikasi lain. Pandemi Covid-19 mengenai siapa saja tanpa kecuali, mereka yang percaya ataupun tidak percaya bahwa ini adalah pandemi.

Baca Juga :  LP Maarif NU Jombang Berikan Apresiasi

Itulah sepenggal tulisan yang dapat menggambarkan satu sisi kejadian pandemi Covid-19 yang kita alami bersama-sama. Dengan memperhatikan itu, maka saya memberikan judul Manusia-Manusia Terpilih yang menggambarkan kita-kita itulah yang terpilih karena telah lolos dari saringan saat pandemi. Dan masih hidup dan diberi kehidupan oleh Allah SWT.

Karena itu pula kita harus kembali bersyukur. Apalagi kalau kita melihat realitas suasana yang ada di sekitar, dimana sudah jauh sekali berbeda dibandingkan dengan masa awal dan puncak pandemi beberapa waktu lalu, ditandai dengan diumumkan oleh pemerintah di awal dan pertengahan Ramadan dengan diperbolehkan salat tarawih berjamaah di masjid/musala hingga mudik untuk saudara/keluarga kita yang berada di daerah/kota lain sebagaimana sekarang ini. Namun demikian yang juga harus menjadi perhatian dan catatan kita adalah hingga sekarang pemerintah belum menetapkan bahwa pandemi sudah selesai. Sehingga kita harus tetap waspada dan hati-hati.

Salah satu hikmah yang dapat saya petik dan tuliskan di sini adalah betapa pentingnya kesehatan untuk diri kita. Karena itu Allah menetapkan sebagai suatu amanah yang harus kita jaga. Tatkala dalam keadaan sehat dan kita jaga kesehatan, segala macam virus dan bakteri atas izin Allah akan tidak mudah berakibat sakit. Sebaliknya, ketika seseorang memiliki suatu penyakit tertentu (ko-morbid), maka dengan mudah virus/bakteri itu dapat menimbulkan penyakit hingga juga fatal.

Baca Juga :  Refleksi Idul Fitri

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Allah sehingga kitalah yang ditetapkan sebagai khalifah di bumi ini. Nabi senantiasa mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berperilaku yang baik dan sehat, baik melalui makan dan minum yang baik hingga upaya preventif sebagaimana berbagai olahraga yang dianjurkan. Baik buruknya bumi dan segala isinya adalah tergantung kita. Karena itu marilah berbuat yang terbaik untuk bumi dan sekitar. Sehingga kita dapat mewariskan hal-hal yang baik untuk anak cucu. Apabila itu kita lakukan, maka Insya Allah dapat menjadi amal jariyah kita yang pahalanya terus mengalir, meski kita sudah tiada.

Selamat berpisah Ramadan, semoga puasa dan segala amalan ibadah kita diterima Allah SWT. Dan marilah kita rayakan Idul Fitri 1443 H dengan tidak hanya berbahagia sendirian, namun harus menjadikan orang-orang sekitar juga turut bahagia dan merayakannya dengan berbagi. Semoga kita dipertemukan di Ramadan yang akan datang. Amin ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lam bisshowab. (*)

 

Oleh: Dr, dr, HM Zulfikar As’ad, MMR

Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang

- Advertisement -

ALHAMDULILLAHI rabbil ‘alamin. Itulah kalimat syukur yang harus senantiasa kita ucapkan, karena kita masih diberi hidup dan kehidupan oleh Sang Khaliq,  Allah SWT, terlebih lagi dalam keadaan Iman dan Islam.

Sejenak saya ingin mengajak untuk menengok ke belakang, Ramadan setahun dan dua tahun yang lalu. Masa di mana kita semua dihadapkan dengan permasalahan yang sama sekali belum pernah kita alami dan tidak pernah terbayangkan yaitu pandemi Covid-19.

Pusat keramaian ditutup, jalan-jalan disekat dan sepi, bahkan masjid, musala dan tempat ibadah lain pun tidak diperkenankan sebagai tempat berjamaah/berkumpul, atau setidaknya diatur untuk berjarak, tidak menggunakan karpet, ditutup dll. Yang ramai hanya rumah sakit dan suara sirine ambulance yang tiada henti melewati jalan bahkan gang-gang sempit di sekitar rumah kita.

Ditambah lagi suara corong dari masjid dan musala serta fasilitas umum di RT, RW dan balai desa yang menyuarakan Innalillahi wainna ilaihi raji’un, karena ada orang tua, saudara, kerabat atau tetangga kita yang meninggal dunia, baik dikarenakan Covid-19 maupun karena penyakit lain.

Rasanya tidak ada di antara kita yang saat ini hidup, yang tidak kehilangan satu atau beberapa anggota keluarga. Belum lagi berita yang beredar di HP kita, sehingga dengan mudah sekali menemukan stiker dukacita di WAG atau aplikasi lain. Pandemi Covid-19 mengenai siapa saja tanpa kecuali, mereka yang percaya ataupun tidak percaya bahwa ini adalah pandemi.

Baca Juga :  Ingin Memuliakan Alquran

Itulah sepenggal tulisan yang dapat menggambarkan satu sisi kejadian pandemi Covid-19 yang kita alami bersama-sama. Dengan memperhatikan itu, maka saya memberikan judul Manusia-Manusia Terpilih yang menggambarkan kita-kita itulah yang terpilih karena telah lolos dari saringan saat pandemi. Dan masih hidup dan diberi kehidupan oleh Allah SWT.

- Advertisement -

Karena itu pula kita harus kembali bersyukur. Apalagi kalau kita melihat realitas suasana yang ada di sekitar, dimana sudah jauh sekali berbeda dibandingkan dengan masa awal dan puncak pandemi beberapa waktu lalu, ditandai dengan diumumkan oleh pemerintah di awal dan pertengahan Ramadan dengan diperbolehkan salat tarawih berjamaah di masjid/musala hingga mudik untuk saudara/keluarga kita yang berada di daerah/kota lain sebagaimana sekarang ini. Namun demikian yang juga harus menjadi perhatian dan catatan kita adalah hingga sekarang pemerintah belum menetapkan bahwa pandemi sudah selesai. Sehingga kita harus tetap waspada dan hati-hati.

Salah satu hikmah yang dapat saya petik dan tuliskan di sini adalah betapa pentingnya kesehatan untuk diri kita. Karena itu Allah menetapkan sebagai suatu amanah yang harus kita jaga. Tatkala dalam keadaan sehat dan kita jaga kesehatan, segala macam virus dan bakteri atas izin Allah akan tidak mudah berakibat sakit. Sebaliknya, ketika seseorang memiliki suatu penyakit tertentu (ko-morbid), maka dengan mudah virus/bakteri itu dapat menimbulkan penyakit hingga juga fatal.

Baca Juga :  Refleksi Idul Fitri

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Allah sehingga kitalah yang ditetapkan sebagai khalifah di bumi ini. Nabi senantiasa mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berperilaku yang baik dan sehat, baik melalui makan dan minum yang baik hingga upaya preventif sebagaimana berbagai olahraga yang dianjurkan. Baik buruknya bumi dan segala isinya adalah tergantung kita. Karena itu marilah berbuat yang terbaik untuk bumi dan sekitar. Sehingga kita dapat mewariskan hal-hal yang baik untuk anak cucu. Apabila itu kita lakukan, maka Insya Allah dapat menjadi amal jariyah kita yang pahalanya terus mengalir, meski kita sudah tiada.

Selamat berpisah Ramadan, semoga puasa dan segala amalan ibadah kita diterima Allah SWT. Dan marilah kita rayakan Idul Fitri 1443 H dengan tidak hanya berbahagia sendirian, namun harus menjadikan orang-orang sekitar juga turut bahagia dan merayakannya dengan berbagi. Semoga kita dipertemukan di Ramadan yang akan datang. Amin ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lam bisshowab. (*)

 

Oleh: Dr, dr, HM Zulfikar As’ad, MMR

Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/