JOMBANG - Sejak dibuka tahun lalu, Pasar Barongan Kali Gunting di Dusun Sanan Timur, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, Jombang semakin eksis.
Bahkan, keberadaan pasar tradisional ini banyak menarik minat para pecinta kuliner tempo dulu dari berbagai kabupaten/kot.
Mereka ingin merasakan secara langsung berbelanja tidak menggunakan uang tunai melainkan batang bambu.
Pagi itu, suasana di Pasar Barongan sangat berbeda dengan pasar pada umumnya.
Lantunan musik gamelan terdengar cukup lantang disusuli lengkingan suara merdu sinden yang membawakan lagu-lagu jadul.
Selain itu, para pedagang ataupun pengunjung pasar yang kompak mengenakan pakaian adat Jawa semakin membuat para pengunjung betah berlama-lama mengelilingi pasar.
Tak hanya itu, beragam jajanan tradisional dan aneka produk kerajinan tersedia di pasar yang terletak di pinggiran kali Gunting Mojoagung.
Ya, itulah suasana Pasar Barongan di Dusun Sanan Timur, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung.
Di Pasar Barongan, ada berbagai kudapanan dan camilan yang dijual. Mulai jamu beras kencur, kopi rempah, legen, serta minuman tradisional lainnya.
Adapula kudapan bubur, gethuk, klepon, kelanting, serta aneka gorengan.
Sementara itu, ada juga makanan berat seperti lontong sayur, bobor yuyu, sayur lompong/talas, maupun nasi jagung dan nasi tiwul.
Setiap pekan, menu berbeda-beda tergantung pedagang yang berjualan di sana.
Selain makanan, ada juga beberapa produk UMKM yang dijual. Misalnya aneka kerajinan dari bambu, tanah liat, manik-manik kaca, serta batik.
Namun, untuk dapat menikmati itu, mata uang yang digunakan transaksi bukanlah rupiah.
Melainkan bambu yang dapat ditukar dengan nilai Rp 2 ribu per potongnyan di dekat pintu masuk pasar.
Dwi Santoso, 41, salah satu pengunjung pasar asal Kabupaten Tuban mengatakan, dirinya tertarik mengunjungi Pasar Barongan setelah membaca sebuah artikel.
”Ya tertarik setelah baca artikel. Ini ingin mencicipi, kopi rempah,” ujar dia, Minggu (15/10).
Menurutnya, konsep Pasar Barongan yang menyediakan makanan jadul dan aneka produk kerajinan UMKM adalah konsep unik. ”Cukup unik, karena tidak ada di daerah lain,’’ pungkasnya.
Sementara itu, Kades Mojotrisno, Nanang Sugiarto mengatakan Pasar Barongan sudah berdiri sejak 2022.
Awalnya, Pasar Barongan diinisiasi atas usulan mahasiswa asal Surabaya yang melakukan pengabdian masyarakat alias KKN.
“Kemudian sampai sekarang terus berkembang dan eksis,’’ jelas dia.
Untuk dapat mengunjungi Pasar Barongan, pengunjung harus memperhatikan jadwalnya agar tidak kecewa.
”Saat ini sesuai jadwal hanya kami buka dua kali dalam sebulan, yakni pekan pertama dan ketiga,’’ pungkasnya. (ang/naz/riz)
Editor : Achmad RW