JOMBANG – Musim kemarau menjadi berkah bagi para perajin layangan. Seperti yang dirasakan Sucipto, warga Desa Ngandulor, Kecamatan Peterongan yang banjir pesanan.
Selain membuat banyak model, layangan buatan Sucipto juga banyak ukuran. Untuk layangan model gapangan misalnya, ukurannnya mencapai tinggi 2,5 meter dan lebar 3,5 meter. ”Sudah sejak awal Juni banyak yang pesan,” kata Sucipto membuka pembicaraan.
Kerangka layangan yang baru saja dirakit terpampang di halaman depan rumah Sucipto di Dusun Gempoldampet. Tangannya dengan terampil memasang plastik di setiap rangka. Tak berselang lama, setiap bagian dilem.
Dia merupakan salah satu perajin layangan dadakan di dusun setempat. Maklum, selain Sucipto ada banyak warga setempat kini sibuk membikin layangan. ”Hanya ngerakit pas musim kemarau, setelah itu nggak buat lagi,” imbuh dia.
Diceritakan, sejak tiga tahun terakhir dia membuat layangan saat memasuki musim kemarau. Awalnya coba-coba, kemudian dijual online perjalanannya banyak pesanan. ”Belajarnya juga lewat YouTube,” tutur Sucipto.
Bahan yang dibutuhkan, lanjut dia, paling utama bambu. Ada dua jenis bambu yang dipergunakan, masing-masing ori dan Betung. ”Bambu ori dipakai untuk rangkanya, sementara bambu betung buat sendaren,” lanjut dia.
Maklum, layangan yang dibuat Sucipto memiliki banyak model. Dibentuk tergantung permintaan setiap pelanggannya. Di antaranya yang baru saja selesai digarap layangan dengan ukuran jumbo.
Memiliki lebar 3,5 meter dan tinggi 2,5 meter. ”Awalnya bambu diraut untuk rangka sayap, kemudian ekor dan bagian tengahnya,” tutur lelaki yang kini berusia 40 tahun ini.
Proses itu, lanjut dia, paling menentukan. Sebab, rautan bambu sebagai rangka harus imbang. Biasanya membutuhkan waktu lama.
”Apalagi kalau buat yang besar, kanan dan kiri harus imbang. Misalnya berat sebelah harus diraut lagi sampai pas, kalau tidak begitu nanti waktu diterbangkan bisa gagal,” lanjut Sucipto.
Setelah proses perakitan itu rampung dilanjut pemasangan plastik kemudian pemberian aksesori. Menurutnya, pemasangan asesori juga tergantung pesanan pelanggan, biasanya ada yang meminta dibuatkan seperti topeng barong. ”Ini butuh tambahan bahan, untuk mata dan mulut,” tutur dia.
Paling akhir, lanjut lanjut Sucipto, yakni memasang sendaren atau lebih akrab dengan sebutan soangan. Bahan yang dipakai pada bagian itu menggunakan bambu betung lantaran bentuknya lurus.
Ini dilakukan agar mempermudah untuk pemasangan pita. ”Bentuknya seperti busur, sebenarnya tergantung selera dipasang mika kadang juga pakai pita,” lanjut Sucipto.
Selain membikin layangan jumbo, juga berukuran kecil dengan model yang sama. Ada berbentuk kelelawar, orang-orangan hingga kupu-kupu.
”Tergantung pemesan mau buat model apa, harganya variatif paling kecil Rp 50.000 sementara paling besar Rp 300 rubu,” kata Sucipto sembari menyebut sudah merakit 15 layangan pesanan pelanggan. (fid/naz/riz)
Editor : Achmad RW