Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Proses Pengemasan Daun Salam Dari Jombang, Mulai Produksi Sampai Dijual di Pasar

Anggi Fridianto • Rabu, 9 Agustus 2023 | 12:57 WIB

 

Warga tampak mengemas daun salam dengan cara ditusuk di Dusun Losari, Desa Mejoyolosari, Kecamatan Gudo. Daun salam ini, akan dijual ke sejumlah pasar hingga Surabaya.
Warga tampak mengemas daun salam dengan cara ditusuk di Dusun Losari, Desa Mejoyolosari, Kecamatan Gudo. Daun salam ini, akan dijual ke sejumlah pasar hingga Surabaya.
 

JOMBANG - Daun salam tak hanya sedap untuk masakan. Di kalangan emak-emak, daun salam juga bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Hanya dengan cara digulung dan ditusuk, penjualan daun salam mampu tembus luar kota hingga Surabaya. 

Lembaran daun salam hijau segar berserakan di sebuah rumah sederhana Dusun Losari, Desa Mejoyolosari Kecamatan Gudo. Siang kemarin, terlihat para emak menata rapi beberapa lidi bambu yang sudah dilancipkan.

Sejurus kemudian, mereka menusukkan satu persatu daun salam yang telah digulung ke sebuah lidi bambu. Satu lidi bambu berisi sekitar enam daun salam segar. Selanjutnya, kemasan daun salam itu dijual ke pasar-pasar.

Menurut Lasminah, 52, salah satu warga, daun salam yang sudah dikemas akan dikirim ke Surabaya. Setiap hari bersama ibu-ibu setempat, ia memang mengemas daun salam dengan cara digulung dan ditusuk.

”Ya ditusuk mirip sate seperti ini. Nanti jualnya per tusuk,’’ ujarnya kemarin.

Daun salam nantinya akan dijual ke pasar Pabean Cantikan Surabaya. Pengemasan daun dalam dengan cara ditusuk itu selain tahan lama, daun salam juga tidak cepat layu. ”Ini nanti digunakan untuk penyedap makanan,’’ jelas dia.

Lasminah dan emak-emak lainnya mengaku sudah setahun ini beraktivitas mengemas daun salam. Dalam sehari, mereka bisa menyelesaikan antara 200-300 tusuk.

Mereka diberi upah Rp 7.000 per 100 tusuk. ”Ya lumayan buat tambahan beli keperluan bumbu dapur,’’ jelasnya lagi.

Daun salam per tusuk itu dijual dengan harga Rp 1.000 kepada konsumen. Harga itu di tingkat konsumen. Beda lagi kalau harga di tingkat pedagang. ”Kalau di pasar harganya beda lagi, Rp 1.000 per tusuknya,’’ tambahnya.

Selama ini, permintaan daun salam untuk kebutuhan penyedap masakan memang masih tinggi. Aroma yang dihasilkan daun salam juga dinilai lebih khas, dibandingkan penyedap rasa buatan.

Tak heran, konsumen yang menggunakan daun salam untuk mengolah aneka masakan, tetap ada.

”Apalagi daun salam kan banyak manfaatnya untuk kesehatan. Mulai meningkatkan kekebalan tubuh, menurunkan kolestrol dan lain-lain,’’ pungkas Lasminah. (ang/bin/riz)

 

Editor : Achmad RW
#Jombang #bumbu #Mejoyolosari #gudo #daun salam