Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cuan Puluhan Juta dari Kawin Silang Gen Lovebird, Pria Ini Contohnya

Achmad RW • Senin, 13 Februari 2023 | 14:00 WIB
Latif menunjukkan anakan Lovebird hasil kawin silang indukan dengan gen Red Factor
Latif menunjukkan anakan Lovebird hasil kawin silang indukan dengan gen Red Factor
JOMBANG – Beternak dan mengembangkan burung lovebird bisa jadi peluang usaha yang menjanjikan. Seperti yang ditekuni Latif Akbar, 30. Warga Desa Kebontemu, Kecamatan Peterongan ini, sukses mengembangkan lovebird dengan metode kawin silang gen tertentu.

Latif punya dua lokasi untuk peternakan burung kecil nan indah itu. Lokasi pertama,  ia memanfaatkan rumahnya ia gunakan untuk pembesaran anakan lovebird. Di sini, puluhan anakan lovebird yang masih belum berbulu disimpan dan dirawat hingga tumbuh bulu cantiknya.

Yang kedua, adalah kandang indukan. Kandang ini berlokasi di sebuah rumah di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan. Di kandang yang terletak di sebuah ruangan belakang rumah ini, berjajar puluhan kandang dengan belasan pasangan lovebird di dalamnya. Kicau burung ini juga terdengar sangat merdu dari kejauhan. ”Ada belasan indukan di sini. Ada yang sedang bertelur dan mengeram, ada juga yang sedang proses kawin,” ucapnya sembari menunjukkan burung yang sedang mengeram.

Warna burung di kandang indukannya itu, mayoritas berwarna hijau kuning merah dan biru bercampur ungu terang. ”Yang di sini jenisnya ada tiga, palle fallow, aqua dan biola sama yang paling unggulan itu red factor. Karena ini indukannya, warnanya memang cenderung sama, tapi kita mainnya kan di persilangan gen,” lanjutnya.

Latif menjelaskan, persilangan gen itu yang jadi kunci peternakannya selama ini. Ia mengawinkan burung lovebird jenis gen unggul dengan sesama gen unggul untuk mencetak burung dengan warna unggulan juga. ”Yang paling mahal itu red factor itu, asalkan indukannya punya gen red factor, apa paun warnanya nanti kalau dikawinkan akan menetaskan burung jenis red factor,” ungkapnya.

Lovebird red factor adalah jenis lovebird yang memiliki buru menyala merah terang. Burung jenis ini, disebut Latif paling mahal dan dicari orang di pasaran. ”Yang saya hasilkan itu sempat laku sampai Rp 10 juta satu ekornya di Bali waktu itu,” lontarnya.

Dengan belasan pasang indukan itu, Latif juga menyebut bisa panen burung setiap bulannya. ”Setiap bulan bertelur, satu indukan itu bisa menghasilkan minimal 3 butir sampai maksimal 8 butir telur. Setelah menetas, usia dua bulan sudah bisa dijual,” rincinya. Burung hasil ternak itu, dijual dengan harga paling murah Rp 100 ribu. Untuk jenis biasanya hingga puluhan juta untuk jenis red factor.

Meskipun tak semua lovebird bisa menghasilkan red factor, tiap kali bertelur, ia mengaku omzet penjualannya sangat lumayan. Burung hasil peternakannya itu, juga telah dijual ke sejumlah kabupaten/kota di Jawa dan luar Pulau Jawa. ”Sampai Sumatra, Bali, Kalimantan sudah ada juga. Kalau omzetnya sekitar Rp 5 juta - Rp 10 juta per bulannya, tergantung hasil panennya,” pungkasnya.

Hama dan Cuaca Jadi Tantangan Peternak

LIMA tahun jadi peternak lovebird, membuat Latif juga hafal betul kendala yang dihadapi para peternak. Utamanya dua masalah yang penting, yakni hama dan cuaca. Jika tak ditangani dengan benar, dua faktor itu bisa memengaruhi hasil panen burungnya bahkan risikonya bisa gagal.

Untuk hama, yang paling menganggu adalah hama tikus. Lokasi kandang yang berada di belakang rumahnya dan berbatasan langsung dengan kebun, membuat hewan pengerat itu bisa dengan mudah masuk. ”Karena itu harus dilakukan pengecekan rutin agar tidak ada gangguan tikus, kandang juga harus rutin dibersihkan,” lanjutnya.

Selain itu, adalah hama ulat yang biasanya bersarang di sarang burung. Untuk itu, ia memilih bahan tertentu untuk sarang burungnya yang akan bertelur. ”Saya pakai batang dan daun serai, ditaruh saja nanti biasanya ditata sendiri sama burungnya,” lontarnya.

Dengan memakai sarang dari daun serai, ia menyebut tak banyak hewan atau hama penganggu yang akan hinggap di sarang. Sehingga telur burung dan anakannya nanti tak terganggu perkembangannya. ”Kalau pakai jerami biasanya muncul ulat dan belatungnya, itu juga kan menganggu,” imbuhnya.

Yang jadi tantangan selanjutnya adalah faktor cuaca. Menurut Latif, Burung lovebird cenderung akan lebih nyaman bertelur ketika suhu di kandang mereka lebih hangat dan tak terlalu dingin. ”Burung ini kan asalnya dari Afrika, jadi sukanya lebih hangat atau panas,” tambah Latif.

Karenanya, ia harus pintar-pintar menjaga suhu ruangan di kandangnya agar burung dan telurnya bisa menetas maksimal. ”Kalau tidak diatur, kadang burungnya tidak mau bertelur, atau sudah bertelu tapi dalamnya kopong,” pungkasnya. (riz/naz/riz)

  Editor : Achmad RW
#Peternakan #peterongan #Kawin silang #Jombang #Penangkaran #Red Factor #burung kicau #burung #Burung hias #Burung Lovebird #Jombang Banget