Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Usahanya baru dikenal masyarakat 2013. ’’Saya belajar di Bali mulai 1996, selama 1,5 tahun. Kemudian membuka sendiri di rumah 2009,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Batik yang dihasilkan Suniyah, berbeda dengan batik lainnya. Warna yang dia gunakan bukanlah pewarna pakaian pada umumnya. Namun menggunakan pewarna alam. Misalnya, untuk menghasilkan warna coklat ia menggunakan kayu mahoni atau kayu sogo jambal. Warna merah kecoklatan menggunakan buah jalawe.
’’Pewarna alam bisa didapat dari pohonnya. Sebagian juga bisa didapat di toko jamu yang menjual,’’ tambahnya.
Proses membatiknya sama dengan lainnya. Menggunakan teknik batik tulis dan cap. Keunggulan pewarna alam, warna yang dihasilkan lebih kalem. ’’Ada warna khas. Tidak mencolok seperti warna sintetis,’’ terangnya.
Batik pewarna alam dinilai lebih awet. Bisa bertahan hingga tiga bahkan empat tahun. Berbeda dengan batik pewarna sintetis yang mudah luntur. ’’Meski cuaca panas tetap adem. Bahkan kalau dipakai di badan muncul auranya,’’ ungkapnya.
Harga Tergantung Kesulitan, Dipasarkan hingga Luar Jawa
HARGA batik pewarna alam dipatok berdasarkan tingkat kesulitan. Harga paling murah Rp 300 ribu per potong, hingga Rp 5 juta untuk jenis kain sutra. Batik asal Jombang ini sudah dipasarkan ke berbagai daerah termasuk luar Jawa.
’’Kain sutra menggunakan proses dua kali pewarnaan, maka tentu lebih mahal,’’ kata Suniyah. Batik kreasi Suniyah sudah memiliki pasar tetap. Produk batiknya sudah dikirim ke berbagai daerah di Indonesa. Mulai Jakarta, Lampung dan daerah di luar Jawa lainnya.
Batiknya bahkan diminati pembeli luar negeri. ’’Dulu pernah dibeli wisatawan dari Sri Langka, Hongkong dan Malaysia,’’ jelasnya.
Dalam sehari, Suniyah rata-rata bisa memproduksi satu potong kain. Namun itu juga tergantung pesanan yang masuk. ’’Jika banyak pesanan, saya minta bantuan ibu-ibu disekitar sini untuk menyelesaikan,’’ bebernya.
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement
