Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ismail baru lima tahun ini membuat cobek. Sebelumnya, ia melayani pembuatan genting. Karena pembuat genting terus bermunculan, ia akhirnya beralih produk lain. ’’Cobek ini pasarnya selalu ramai dan permintaan terus bertambah,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Dalam membuat cobek, Ismail mengandalkan alat bot yang ia buat sendiri. Alat itu, terbuat dari lempengan cakram motor bekas dan sebuah dinamo mesin jahit untuk memutarnya. ’’Alat ini namanya bot, untuk menghaluskan sekaligus membuat cobek,’’ jelasnya.
Membuat cobek dengan alat bot prosesnya bisa cepat. Dalam sehari, Ismail mampu menuntaskan 300-400 cobek. ’’Pakai alat ini, satu menit bisa jadi satu cobek,’’ jelasnya.
Proses pembuatan dimulai dengan mencetak gumpalan tanah liat dengan alat press. Setelah diangin-anginkan beberapa jam, cobek yang setengah jadi lantas dihaluskan. ’’Saya kasih taburan pasir juga agar lebih awet dan kuat,’’ tambahnya.
Meski permintaan terus bertambah, cobek buatan Ismail sejak dulu harganya tetap. Ukuran kecil mulai Rp 1.500 dan ukuran besar Rp 2.800. ’’Cobek-cobek ini saya pasarkan ke luar kota seperti Sidoarjo, Mojokerto dan lainnya,’’ terangnya.
Kualitas Cobek Tergantung Cuaca
SEMENTARA ITU, pembuatan cobek Ismail di Desa Gendangan Mojowarno juga dipengaruhi faktor cuaca. Saat cuaca terlalu panas, cobek akan mengering dan rentan pecah. Jika cuaca mendukung, misalnya tidak terlalu panas dan tidak hujan, maka kualitas cobeknya bagus. ’’Kalau sedikit mendung itu bagus,’’ jelasnya.
Dalam membuat cobek, Ismail dibantu beberapa orang yang masih anggota keluarganya. ’’Saya ini dibantu dua orang, dari keluarga sendiri,’’ ucapnya (ang/jif/riz)
Advertisement
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement



