Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Di halaman depan rumah Arifudin ada lima potongan kayu yang berada di atas tiang. Diatasnya terdapat semacam atap berbentuk segitiga. Potongan-potongan kayu itu merupakan tempat bersarangnya klanceng.
Bagian atas yang disebut toping merupakan tempat kantong madu. Sekilas, bentuknya menyeramkam. Namun ketika kantong dibuka memakai pipet, terlihat jelas di dalamnya terdapat madu. Bahkan terkadang madu itu keluar dengan sendirinya. ’’Ini madu klanceng,’’ kata Arif.
Dia membudidaya lebah madu sejak dua tahun terakhir. Tepatnya ketika pandemi Covid-19. ’’Dulunya saya berjualan kaos,’’ ucapnya. Dia mengawali dengan budidaya klanceng jenis lokal. Namun, hasilnya kurang maksimal. Lebah klanceng lokal produktivitasnya sedikit. Kurun waktunya juga relatif lama. Antara tiga sampai enam bulan.
Ia pun mencari klanceng jenis baru yang lebih produktif dan proses panennya lebih cepat. ’’Akhirnya saya datangkan klanceng jenis Itama Sumatera,’’ bebernya. Bentuknya lebih besar dan produktivitasnya lebih tinggi. ’’Hanya satu bulan sudah panen,’’ ungkapnya.
Saat ini dia sudah memiliki memiliki empat koloni. Masing-masing koloni, berada di satu potongan pohon. ’’Semuanya jenis Itama Sumatera, jadi habitat aslinya ada di hutan Sumatera,’’ lanjutnya.
Dalam waktu satu bulan, satu koloni bisa menghasilkan satu liter madu. Rasa madunya sedikit berbeda. Sebab tak hanya manis, namun ada campuran asam. ’’Rasa khas madu klanceng ini ada asamnya, jadi ya asam manis,’’ terangnya.
Selanjutnya.......
Dipanen Higienis, Tak Tersentuh Tangan
Lebah madu klanceng milik Arifudin perawatannya terbilang minim. Sebab lebih banyak fokus ke tanaman sekitar sarang. Selain itu, madu ini juga lebih higienis karena cara panennya nyaris tak tersentuh tangan.
’’Kita minimalisir predator, seperti cicak, semut, katak dan lainnya,’’ urai Arif kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Perawatan untuk lebah hanya 20 persen. Sisanya untuk tumbuhan atau tanaman yang dibutuhkan. Tujuannya, untuk memenuhi kelangsungan hidup atau kebutuhan makanan lebah. ’’Kalau ingin hasil panen bertambah banyak, koloni ditambah,’’ ucapnya. Sekarang dia fokus menambah tanaman agar lebih banyak lagi.
Karena itu disekeliling rumah Arif terdapat banyak tanaman. Utamanya tanaman yang berbunga sepanjang musim. ’’Seperti bunga santos, lalu bunga air mata pengantin,’’ bebernya. Dengan begitu, kebutuhan makanan lebah bisa terus tercukupi. Produktivitas madu juga menjadi lebih tinggi.
’’Alhamdulillah lingkungan sini masih aman. Kalau mau hasil madunya lebih banyak lagi, tanamannya harus terus ditambah,’’ terangnya.
Cara memanen madu klanceng sangat khas. Caranya dengan disedot. Kantong madu dibuka, kemudian disedot menggunakan pipet.’’Untuk incip biasanya pakai pipet atau suntikan. Jadi tidak sampai dirusak, sehingga bisa diisi lagi,” tambahnya.
Jika panen banyak, ia biasanya menggunakan alat sedot hasil modifikasi. ’’Langsung dari kantong masuk ke botol, jadi tidak ada kontak dengan tangan pembudiddaya, lebih hiegenis,’’ tuturnya.
Dia memasarkan madu klanceng dari mulut ke mulut. ’’Karena sekarang cari madu berkualitas susah,’’ ujarnya. Harganya pun memang lebih mahal dari madu lebah biasa. Untuk kemasan 100 mililiter dia jual Rp 65.000. Serta 200 mililiter Rp 150 ribu. ’’Bisa juga minta satu liter Rp 550 ribu, cuma harus nunggu,’’ ungkapnya. (fid/jif/riz)
Advertisement
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement



