Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jemari Paini, 61, terlihat begitu lihai mencetak adonan kue. Dibantu sejumlah pekerja, Paini bisa membuat puluhan kilogram kue selama satu hari. Ya, Paini adalah salah satu produsen kue sagon yang masih eksis. Selama Ramadan, produksi kue sagon miliknya ini kebanjiran order.
”Jajanan ini hanya ada saat Lebaran. Kita juga hanya membuat kue sagon saat menjelang Lebaran, jadi semacam bisnis dadakan setiap bulan Ramadan,” kata Yuli Sandra Dewi, 35, anak Paini kepada Jawa Pos Radar Jombang (26/4).
Sandra mengatakan, menjelang Lebaran, pembuatan kue sagon semakin dipercepat. Sebab, pesanan kue tradisional ini terus bertambah hingga mencapai ratusan kilogram dan harus dipenuhi sebelum Lebaran tiba. Selama Lebaran ini, ia mencatat ada 150 kilogram pesanan. ”Untuk sementara saya sudah close order karena keterbatasan pegawai,’’ tambahnya.
Menurut dia, usaha kue sagon yang digelutinya merupakan usaha turun-temurun dari keluarga yang masih terus dipertahankan. Setiap pertengahan bulan Ramadan, Sandra dan keluarganya mulai membuka pesanan, baik melalui mulut ke mulut dan juga melalui media online. ”Ternyata banyak sekali yang pesan,” imbuhnya.
Dijelaskan, butuh keuletan untuk membuat kue sagon. Kue tersebut dibuat menggunakan bahan utama kelapa, ketan, gula dan mentega. Prosesnya cukup mudah, dimulai dengan memarut kelapa kemudian disangrai. Setelah masak, selanjutnya dicampur dengan adonan tepung ketan, gula dan mentega. ”Bahan-bahan tersebut kemudian diaduk sampai benar-benar menyatu. Setelah tercampur secara merata, adonan dicetak dengan cetakan bentuk oval kemudian ditaruh di loyang dan dimasukkan ke dalam oven,’’ kelas dia.
Semua proses itu dilakukan secara manual. Butuh waktu sekitar 15 menit sampai adonan berwarna kuning kecoklatan.
Ia selalu bersyukur karena setiap tahun menjelang Lebaran pesanan kue sagon menjadi berkah tersendiri bagi keluarganya. Ia juga mempekerjakan beberapa tetangga untuk membantu proses produksi.
Melalui usaha ini, keuntungan yang didapatkan memang cukup besar. Pelanggan pun tidak hanya datang dari sejumlah daerah di Jawa Timur. Ia juga mengirim kue sagon untuk pelanggan yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. ”Kue sagon ini kita jual dengan harga Rp 65 ribu per kilogram. Dijamin rasanya masih asli dan khas, karena kita menggunakan resep turun-menurun dari keluarga,” ujarnya.
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement
