Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Suami Suniah ini mulai menggeluti batik warna alam sekitar 2012. ”Sebelumnya saya pernah usaha Batik di bali, tapi batik sintetis,” bebernya. Hingga pada 2005 dia mulai tinggal di Jombang. ”Usaha di bali bangkrut, saya kena tipu,” imbuhnya.
Dalam kondisi ekonomi keluarga sulit, Amin sempat bekerja sampingan sebagai kuli batu. Meski jatih, Amin masih punya tekad mengembangkan keterampilan membatiknya di Jombang. ”Nah, ingat saya Oktober 2009, batik mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai warisan bangsa Indonesia. Setelah itu, batik seolah menjadi primadona, banyak dicari orang,” bebernya.
Gayung bersambut, Amin mendapat tawaran mengerjakan pesanan batik tulis dari salah satu perajin di Mojokerto. ”Itu saya jalani setahun lebih. Pulang-pergi ke Mojokerto setor barang bawa sepeda pancal,” bebernya.
Seiring berjalannya waktu, dirinya pun mulai mengembangkan jaringan di Jombang. ”Terus saya kenal dengan perajin di Jombang, akhirnya ditawari ikut kerjakan pesanan. Saya kerjakan di rumah,” imbuhnya.
Pada 2012, dirinya mendapat tawaran mengikuti program pelatihan membatik difasilitasi dinas. Tanpa pikir panjang, dirinya pun berangkat. ”Pelatihannya di Yogyakarta, fokus batik warna alam,” bebernya.
Sepulang dari kegiatan pelatihan tersebut, selain mendapat wawasan baru di dunia membatik, Amin juga sedikit mendapat bantuan modal untuk mengembangkan usaha. ”Mulai saat itu, saya mulai merintis kerajinan batik warna alam,” bebernya.
Berbeda dengan batik sistetis, menurutnya batik warna alam memiliki daya tarik sendiri, salah satunya dari bahan pewarnanya yang berasal dari bahan-bahan alami, bukan pewarna buatan (kimiawi). ”Jadi bahannya, misalnya dari kulit pohon mangga, mahoni, serabut kelapa, dedaunan dan bahan-bahan alam lainnya. Itu kemudian di ekstrak, diambil sarinya untuk bahan pewarna,” bebernya.
Karena menggunakan pendekatan tradisional, otomatis produksinya memerlukan proses relatif lebih lama. Mulai dari mencari bahan kain, setelah kain siap, selanjutnya diketel. Dicelupkan dengan larutan air bekas bakaran merang. ”Terus berulang-ulang, celup kering-celup kering sampai tujuh kali. Proses ini memakan waktu cukup lama,” bebernya.
Setelahnya, kain-kain tersebut dicuci bersih baru setelahnya siap dipola. ”Biasanya menggunakan pensil, belum lagi proses canting,” bebernya.
Selanjutnya proses pewarnaan. Ini juga membutuhkan waktu cukup panjang. ”Sama prosesnya, celup kering-celup kering sampai tujuh kali, itu kalau produk saya. Terus juga ada proses penguncian, menjaga warna agar tidak pudar. Jadi dicelupkan dalam ari tawar atau juga air batu tunjung,” imbuhnya.
Kebanyakan motif batik warna alam yang banyak dicari pelanggannya motif kuno, namun demikian, Amin juga mengembangkan sejumlah produknya dengan motif kontemporer. ”Motif kuno, misal parang, udan liris, sekar jagad,” imbuhnya.
Selain indah, motif-motif ini lanjut Amin ini juga menyimpan nilai filosofi yang tinggi, ada ceritanya. Misalnya, udan liris, biasanya dipakai perempuan yang sudah menikah, sekar jagad filosofinya junjung derajat dan masih banyak lagi,” bebernya.
Melihat proses pembuatannya yang njlimet, tak pelak produk batik warna alam memiliki nilai jual cukup tinggi. ”Harga per lembar, kisaran Rp 350 ribu hingga Rp 1,5 juta juga ada. Harga menyesuaikan teknik pembuatan dan kualitas bahan,” tegasnya.
Seiring produknya kian dikenal, banyak pembeli berdatangan. Amin pun mulai kewalahan. Dia pun memberdayakan sejumlah warga sekitar menyelesaikan pesanan.
Untuk pemasaran produk, Amin juga sering ikut pameran. Selain itu juga memanfaatkan marketplace. ”Anak saya yang buka marketplace lewat Tokopedia, dari banyaknya pembeli kebanyakan dari mulut ke mulut. Alhamdulillah, penjualan batik ini udah tembus sampai ke luar kota, seperti Lumajang, Mojokerto, Jakarta, Kediri. Dan bahkan sampai ke luar negri seperti Malaysia dan Srilangka,” sambung Suniyah.
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement
