Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

”Jadi dari data yang saya punya, stasiun ini dibangun sejak 1880, dan resmi dibuka Februari 1881, dan jadi bagian dari ruas jalur Mojokerto-Sembung sepanjang 32 kilometer,” terang Tjahjana Indra Kusuma, salah satu penelusur sejarah.
Saat berdiri, stasiun ini adalah aset dari Staatspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Kolonial Belanda.
Jejak perkembangan stasiun ini, disebut Tjahjana bisa dilihat dari sebuah foto lama pada 1925. Foto hitam putih itu, ia dapat dari laman Ninskaphotos.com. Dalam foto itu, terlihat nama jelas DJOMBANG +44 M. ”Jadi istilah angka itu menggambarkan ketinggian atau posisi stasiun, kalau +44, artinya dia ketinggiannya 44 meter di atas permukaan air laut,” ungkapnya.
Dalam foto itu, terlihat pula sebuah rel putus tepat di samping jalan menuju emperan dalam stasiun. Bangunan stasiun masih nampak tidak terlalu besar. Di sampingnya, terlihat warung. ”Dalam foto itu juga terlihat ada beberapa orang yang sedang makan, kemungkinan pegawai kalau melihat bajunya,” ungkapnya.
Tjahjana juga menyebut, dalam catatannya Stasiun Jombang ini sempat hancur ketika masa revolusi 1948. Bangunan ini, ikut dihancurkan para pejuang karena dinilai bisa mempermudah akses pasukan Belanda untuk masuk ke Jombang. ”Namun, setelah tahun 1950-an, renovasi besar-besaran sempat dilakukan di stasiun ini dan sampai sekarang berdiri,” pungkasnya.
Terpisah, Efandi Setyobudi, Kepala Stasiun Jombang pun mengakui keberadaan foto lama itu. Menurutnya, jika dilihat dari tata letaknya, foto lama itu kemungkinan besar diambil di bagian timur stasiun. ”Kalau dilihat bangunannya ya memang fotonya menghadap barat ini,” ungkapnya.
Rel putus di foto itu, disebutnya kemungkinan besar adalah rel simpanan. Efandi menyebut, rel itu akrab dipakai untuk parkir atau menyimpan kereta ketika tidak sedang digunakan. ”Artinya rel itu memang bukan jalur utamanya,” lontarnya.
Sementara untuk titiknya kini, Efendi juga mengaku tak bisa memastikan bagian mana dari bangunan itu yang masih asli. Terlebih adanya fakta jika bangunan stasiun ini sempat dihancurkan. ”Namun yang jelas, kalau bangunan lama ya mulai di sebelah timur itu, ada penutup samping atap yang dari kayu jati, itu bangunan lama, kalau yang sudah besi itu pelebaran,” pungkasnya.

Advertisement
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement


