Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

”Saya mulai usaha ini bersamaan awal Covid-19. Kebetulan ekonomi keluarga terdampak, bertani juga hasilnya tak maksimal, diserang hama terus,” terang Sumadi, kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin.
Lebih lanjut Sumadi menceritakan, ide merintis usaha ini bermula dorongan perekonomian keluarganya yang sedikit terguncang lantaran badan Covid-19. Sementara sejumlah petak sawahnya pun tak bisa diandalkan lantaran terus- terusan jadi sasaran serangan hama. ”Mulai serangan tikus, wereng terus saja begitu,” bebernya.
Dihadapkan kondisi itu, Sumadi pun berusaha memeras pikiran untuk mencari jalan keluar. Sayang, karena kondisi keterbatasan fisiknya, dia pun tak mempunyai banyak pilihan. ”Tangan saya sakit, jadi sudah tidak bisa dibuat kerja kasar,” ungkapnya.
Setelah berfikir keras, dia pun terinspirasi mencari peluang usaha dari referensi medsos. ”Alhamdulillah, saya buka-buka medsos, YouTube, Facebook, Instagram akhirnya ketemulah ide budi daya talas beneng,” terangnya.
Setelah mempelajari cara pengolahan dan spesifikasi tanaman talas yang diminta, dia merasa mantap. Dia pun berusaha mencari rekanan yang bisa diajaknya bekerja sama. ”Akhirnya saya tersambungkan dengan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang ekspor talas,” imbuhnya.
Peluang itu tak disia-siakannya. Diapun segera mencari orang yang bisa membantunya mencarikan daun talas sebanyak-banyaknya. ”Awalnya cari di lahan-lahan liar, di pinggir sungai dan lain-lain,” bebernya.
Setelah daun-daun talas terkumpul. Dia pun memberdayakan sejumlah tetangganya untuk membantunya memproses daun talas sesuai permintaan pihak pabrik. ”Prosesnya mudah, saya belajar otodidak dari medsos,” bebernya.
Pertama, keseluruhan daun talas yang sudah terkumpul disortir. Daun-daun yang jelek, dia sisihkan. Selanjutnya diikat dalam beberapa gendel untuk mempermudah proses pengeraman. ”Pengeraman selama tiga hari,” bebernya.
Selanjutnya, daun-daun talas tersebut dirajang layaknya daun tembakau. ”Kebetulan orang sini banyak juga yang petani tembakau, jadi rata-rata sudah punya pengalaman merajang,” bebernya.
Setelah proses perajangan selesai, proses selanjutnya penjemuran. Untuk penjemuran, dia memanfaatkan panas matahari. ”Biasanya jemurnya sekitar dua hari sudah cukup kalau panasnya mendukung. Saya juga akhirnya belikan mesin open, karena cuaca sering mendung,” bebernya.
Setelah semuanya kering, selanjutnya hasil rajangan duan talas dikemas dalam ukuran tertentu. ”Bisa 10 kilogram atau 20 kilogram per plastik,” imbuhnya.
Setelahnya, dia tinggal menghubungi pihak rekanan yang siap mengambil barang. ”Saya tanya produknya ini dieskpor ke beberapa negara. Kurang tahu persis, sepertinya dibuat bahan produksi rokoh mungkin,” imbuhnya.
Terhitung sekitar dua tahun berjalan, usahanya kini terus berkembang. Agar tak sampai kesulitan stok, dia pun memilih budi daya sendiri tanaman talas memanfaatkan lahan sawahnya. ”Sekarang saya juga nanam sendiri sekitar 1,5 hektare. Juga kerja sama dengan petani di Wonosalam,” imbuhnya.
Saat ini, rata-rata dalam dua minggu, dia bisa memproduksi hingga mencapai sekitar 1 ton kering. Bhan baku sekitar 8 ton daun talas balas. ”Alhamdulillah, sekarang juga bisa berdayakan sekitar 25 warga sini. Lumayan buat tambahan pemasukan, terlebih kondisi Covid-19 seperti sekarang ini,” tegas Sumadi.
Advertisement
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement


