Jumat, 03 Dec 2021
Radar Jombang
Home / Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget
Berburu Kuliner Ekstrem di Utara Brantas

Olahan Rica-Rica Biawak, Kodok hingga Bekicot

20 November 2021, 08: 45: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Olahan Rica-Rica Biawak, Kodok hingga Bekicot

Share this      

SEBUAH warung di pinggir jalur provinsi Ploso-Babat, tepatnya di Desa Jatisari, Kecamatan Kabuh ini menyediakan menu langka. Warung ini, menyediakan tiga olahan kuliner ekstrem, yakni daging biawak, kodok sampai bekicot.

Warung ini, sangat mudah ditemukan. Lokasinya berada di pinggir jalan provinsi. Banner yang dipampang di depan warung ini juga sangat mencolok. ”Rica-rica Nyambik dan Kodok” isi tulisan di banner yang dipampang depan warung.

Dari bentuknya, bangunan warung cukup sederhana. Menu utamanya adalah tiga makanan olahan daging hewan amfibi, yakni biawak, kodok dan bekicot. ”Semuanya diolah dengan bumbu rica-rica. Semuanya pedas kalau di sini,” ungkap Suparmi, 41, pemilik warung.

Baca juga: Kenalkan Batik Jombangan di Ajang Putri Batik Remaja Indonesia

Olahan Rica-Rica Biawak, Kodok hingga Bekicot

Usaha warung Suparmi baru berjalan sekitar dua tahun. Sebelumnya dia membuka warung di wilayah Kecamatan Jombang. Seiring pandemi Covid-19, warungnya gulung tikar. ”Dulu jualnya pecel, rawon, soto begitu, tapi kena lockdown itu akhirnya tutup,” terang Suparmi.

Tak ingin menganggur, warga asal Kabuh ini akhirnya memutuskan memulai kembali usaha warungnya. Namun kali ini dia mencoba peruntungan dengan berjualan menu makanan yang langka. ”Akhirnya coba buka di sini. Saya juga memilih menu yang langka, akhirnya ketemu tiga menu ini,” lanjutnya.

Adapun untuk kebutuhan daging biawak, Kodok dan bekicot, ia dapatkan dari para pengepul di sejumlah kota di Jawa Timur. Biawak, ia biasa dapatkan dalam kondisi hidup dari wilayah Gudo Jombang ataupun wilayah Madura. Sementara untuk daging kodok dan bekicot, Suparmi mendapat pasokan dari wilayah Lamongan. ”Biasanya langsung diantar ke sini,” imbuhnya.

Proses pengolahannya, juga ia lakukan sendiri. Ia pun menjamin kebersihan seluruh daging hewan yang ia olah ini. ”Sebelum dibumbui, sudah ada proses perendaman soda sampai pemasakan sampai dua kali, jadi aman,” tambahnya.

Ditangan Suparmi, daging ketiga hewan amfibi ini diolahnya hingga menjadi sajian yang menggoda untuk disantap. ”Memasaknya untuk dua itu memang lama, karena keras dagingnya, kecuali kalau yang kodok tidak boleh lama, karena dagingnya sudah lembek,” lontarnya.

Untuk menikmati seporsi olahan kuliner ekstrem ini, Suparmi juga mematok harga yang relatif murah. Untuk seporsi makanan dengan nasi dan minuman, ia biasa menjualnya seharga Rp 15 ribu saja. ”Tapi bisa juga porsi lebih kecil atau lebih besar, tergantung yang beli saja,” pungkas warga Desa/Kecamatan Kabuh ini.

(jo/riz/jif/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia