Jumat, 03 Dec 2021
Radar Jombang
Home / Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Saat Perajin Genting Memutuskan Banting Setir ke Batu Bata

Pemasaran Lebih Mudah

16 Oktober 2021, 08: 25: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Saat Perajin Genting Memutuskan Banting Setir ke Batu Bata

TRADISIONAL: Proses pembuatan batu bata dari tanah liat. (Hadhana Sabilla/Magang IAIN Kediri)

Share this      

Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno dikenal dengan sentra industri kerajinan genting dari tanah liat. Saat ini jumlah perajin genting terus menurun, sebagian beralih ke industri pembuatan batu bata merah yang dirasa lebih menguntungkan.

Hadhana Sabilla, Mojowarno

Baca juga: Rebana Kulit Kambing Betina dari Pagerwojo Perak Jombang

Pagi itu, terlihat seorang pria tengah bersemangat mengolah tanah. Dengan tangannya yang masih belepotan, dia mengambil seember tanah untuk dibawa ke bangunan semi permanen di belakang rumahnya.

Di dalam bangunan itu, sudah menunggu pria lainnya yang tengah sibuk mengoperasikan mesin penggiling tanah. Hanya dalam sekejap saja, permukaan tanah yang semula kasar berubah menjadi halus seperti adonan kue.

Setelah melalui proses penggilingan, adonan tanah selanjutnya siap dicetak menjadi bata merah. Hanya dalam hitungan detik, dua hingga tiga bata merah berhasil dicetak. ”Buatnya pakai cetakan, jadi bisa cepat,” terang Ahmadi, 46, salah satu perajin bata merah asal Desa Gedangan, Senin (11/10).

Lebih lanjut Ahmadi menerangkan, sebelumnya dia merupakan satu di antara perajin genting. Dia mengaku sudah bertahun-tahun menekuni usaha kerajinan genting. Sayang, usahanya semakin tahun bukan berkibar, sebaliknya semakin redup. ”Perajin genting sulit pemasaran, belum lagi risiko rusak dan lainnya,” terangnya.

Melihat kondisi usahanya semakin redup, dia pun berfikir keras mencari peluang lain. Hingga sekitar 2008, dirinya memutuskan untuk mengembangkan usaha pembuatan bata merah. ”Awalnya saya belajar, coba-coba membuat tetapi kok ternyata malah lebih laku batu bata dari pada genting” ujarnya.

Melihat prospek produk batu batanya bagus, Ahmadi pun kian bersemangat membuat mengembangkan produk batu bata. Dibantu istri dan sejumlah karyawan lepas, setiap harinya Ahmadi bisa memproduksi ratusa bata mentah.

Menurutnya, keunggulan produk batu bata selain proses pembuatannya lebih mudah, dari segi pemasaran juga lebih mudah termasuk risikonya juga lebih sedikit dibanding produk genting. ”Kalau batu bata meskipun patah masih bisa dijual, sementara kalau genting tidak laku,” imbuhnya.

Untuk produksi, Ahmadi melakukanya sendiri dibantu istrinya. Terkadang juga dibantu sejumlah pekerja. ”Kalau pas pesanan banyak saya tambah tenaga. Kalau pesanan sedikit saya kerjakan sendiri,” bebernya.

Dia menerangkan, proses pembuatan batu bata tidak jauh berbeda dengan proses pembuatan genting. Dari bahan baku tanah, selanjutnya dihaluskan menggunakan mesin penggiling khusus. Setelah proses penghalusan selesai, selanjutnya proses cetak. ”Jadi sekarang lebih modern, pake mesin penggiling tanah, tidak manual seperti dulu, jadi lebih cepat,” bebernya.

Setelah dicetak proses selanjutnya penjemuran. Untuk penjemuran sendiri tergantung oleh cuaca. ” Jika cuaca sedang terik dan panas seperti sekarang satu hari penjemuran, kalau musim penghujan bisa sampai tiga hari nunggu kering,” ujarnya.

Lalu tahap terakhir dari pembuatan batu bata ini adalah pembakaran. ”Jadi setelah sudah terkumpul sekitar 25 ribu batu bata, proses selanjutnya pembakaran,” bebernya.

Setiap hari Ahmadi memulai produksi dari pukul 06.00 sampai 09.00. ”Tidak perlu terlalu menarget, yang penting badan tetap sehat agar bisa memproduksi setiap hari,” ujar Ahmadi.

Batu bata milik pak Ahmadi dijual sekitar Rp 480.000 untuk per 1.000 bata. Untuk pemasaran, tidak hanya di wilayah Jombang, batu bata Ahmadi juga laris manis dijual ke sejumlah Kabupaten/Kota di Jawa Timur. ”Bahkan sudah sampai Surabaya, Sidoarjo,” imbuhnya. Ahmadi juga memasarkan produknya secara online.

Di masa pandemi seperti ini, saat banyak usaha terancam gulung tikar atau megalami kerugian, produksi batu bata Ahmadi tetap bisa berkibar. ”Tidak terdampak sama sekali, justru harganya malah naik, permintaan juga semakin banyak,” imbuhnya.

(jo/riz/jif/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia