26.9 C
Jombang
Wednesday, February 8, 2023

Cerita Kafilussyafi’ As-syauqi, Pelajar Jombang yang kini Kuliah di Yaman

JOMBANG – Dukungan orang tua mengantarkan Kafilussyafi’ As-syauqi studi di Yaman. Tepatnya di Universitas Al-Wasathiyyah Hadhramaut. Ia, membagi cerita saat ia tinggal dan bermukim di negeri para wali itu.

’’Sebenarnya saya juga lolos beasiswa ke Syria, tapi oleh orang tua disuruh berangkat ke Yaman yang biaya mandiri,’’ kata sulung dari empat bersaudara pasangan Masduki dan Siti Niswatun Chasanah yang sehari-hari tinggal di Perum Tambakrejo Asri Blok M11 Tambakberas, Jombang.

Hal itu semata demi mencari berkah. Yaman terkenal sebagai negara yang paling banyak walinya. Mayoritas wali yang berdakwah di nusantara berasal dari Yaman. ’’Saya mengikuti seleksi di Pasuruan 6 juni 2022, pengumuman lolos 15 Agustus, kemudian saya tiba di Yaman 11 Oktober,’’ urai santri kelahiran 22 Februari 2002. Dia sekarang duduk di bangku kelas persiapan bahasa.

Sebelum berangkat ke Yaman, dia mondok di PP Darussalam Sumbersari Kencong Kepung Pare Kediri selama enam tahun. Mulai MTs hingga lulus SMA. Kemudian menghafalkan Alquran di PP As Sa’idiyyah 1 Tambakberas Jombang selama 1,5 tahun. ’’Alhamdulillah sudah dapat tujuh juz,’’ ungkap santri yang bercita-cita menjadi dosen ini.

Sebelum berangkat ke Yaman, dia mengikuti seleksi di Markaz Al-Adeni Nongkojajar Pasuruan. Materinya, seputar nahwu shorof dan fiqh dasar hingga menengah. Selanjutnya, ujian istima’ atau mendengarkan penguji membaca beberapa kalimat kemudian menuliskannya di lembar jawaban (imla’). Setelah itu  wawancara, percakapan dalam bahasa Arab. ’’Seleksi ada tiga tahap,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Molor 1,5 Bulan, Denda Keterlambatan Proyek Pasar Pon Hampir Rp 200 Juta

Syauqi mengaku bersyukur bisa mondok di  Ribath Imam Al Muhajir Husaisah Seiyun Hadhramaut. Banyak pengalaman yang telah dia dapatkan. Diantaranya, bisa menginjakkan kaki di negara penyelenggara FIFA world cup 2022, Qatar. ’’Bisa satu pesawat bersama Habib Umar di Yemenia Airways ketika perjalan dari Kairo ke Yaman,’’ terangnya.

Dia juga tak bisa melupakan pengalaman makan bersama orang Badui. Waktu berkunjung ke pasar Tarim untuk belanja kebutuhan sehari-hari, dia mampir ke dapur untuk makan siang. ’’Saya lihat di dalam ada orang Yaman dan beberapa dari mereka Badui,’’ ucapnya.

Melihatnya sendirian dan halaqohnya masih empat orang, mereka pun memanggil Syauqi. Karena tiap halaqoh biasanya lima orang. Dia pun duduk dalam halaqoh mereka dan saling bercerita, sembari menunggu datangnya makanan.

Setelah makanan di hidangkan, dia lihat ada nasi hangat berkuah sedikit dengan lauk ayam besar dan ada bonus apel sama pisang. Dia pun pergi untuk cuci tangan. Setelah beberapa saat, dia pun kembali ke halaqoh. Saat makan, ternyata kuahnya berubah jadi rasa pisang. ’’Ternyata orang Badui tadi mencampur apel sama pisangnya ke dalam nampan jadi satu layaknya tukang masak nyampur bumbu ke dalam masakan,’’ urainya.

Rasanya menjadi tidak terduga. ’’Bayangkan saja, nasi ayam dicampur kecut manisnya apel di tambah kuah dengan rasa khasnya pisang,’’ paparnya.

Melihat ekspresi wajahnya berubah, mereka pun bertanya kenapa? ’’Saya hanya menjawab kaget karena panas sambil tertawa. Padahal sebenarnya saya ingin lari dari halaqoh itu dan beli makanan sendiri,’’ ungkapnya. Demi menghormati mereka, dia tetap memaksa makan sambil cerita kesana kemari hingga habis. ’’Namun besoknya, saya sakit perut,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Bertemu Petinggi International Energy Agency, Menko Airlangga Bahas Ini

Ia, membagi resep agar bisa belajar ke luar negeri. Menurutnya, bagi siswa yang ingin belajar di luar negeri harus tahu kondisi negara yang kita tuju. Juga harus mempersiapkan mental agar tidak gampang down atau menyerah. Yang tak kalah penting, adalah selalu update mencari informasi pendaftaran dan beasiswa ke negara tujuan. ’’Kita juga bisa mencari lembaga-lembaga kursus yang profesional di bidang persiapan kuliah ke luar negeri. Minta restu orang tua, guru dan orang-orang terdekat,’’ sarannya.

Menurutnya, mahasiswa Indonesia juga tak perlu takut belajar ke Yaman. ’’Di sini banyak orang Indonesia. Tak ada satupun ribath atau kuliah yang tidak ada orang Indonesianya,’’ bebernya.

Selain itu, akses pada bahasa juga sangat mudah. Bahkan menurutnya, jika butuh apapun di sana tinggal bilang. ’’Orang Yaman juga banyak yang tahu bahasa Indonesia karena saking banyaknya pelajar Indonesia yang ke sini,’’ urainya.

Dia juga menyarankan agar selektif memilih mediator. ’Pastikan yang ahlussunnah wal jamaah. “Karena ada teman saya pakai mediator non aswaja, sehingga berakhir di ribath Wahabi di Kota Mukalla,’’ jelasnya.  (jif/naz/riz)






Reporter: Wenny Rosalina

JOMBANG – Dukungan orang tua mengantarkan Kafilussyafi’ As-syauqi studi di Yaman. Tepatnya di Universitas Al-Wasathiyyah Hadhramaut. Ia, membagi cerita saat ia tinggal dan bermukim di negeri para wali itu.

’’Sebenarnya saya juga lolos beasiswa ke Syria, tapi oleh orang tua disuruh berangkat ke Yaman yang biaya mandiri,’’ kata sulung dari empat bersaudara pasangan Masduki dan Siti Niswatun Chasanah yang sehari-hari tinggal di Perum Tambakrejo Asri Blok M11 Tambakberas, Jombang.

Hal itu semata demi mencari berkah. Yaman terkenal sebagai negara yang paling banyak walinya. Mayoritas wali yang berdakwah di nusantara berasal dari Yaman. ’’Saya mengikuti seleksi di Pasuruan 6 juni 2022, pengumuman lolos 15 Agustus, kemudian saya tiba di Yaman 11 Oktober,’’ urai santri kelahiran 22 Februari 2002. Dia sekarang duduk di bangku kelas persiapan bahasa.

Sebelum berangkat ke Yaman, dia mondok di PP Darussalam Sumbersari Kencong Kepung Pare Kediri selama enam tahun. Mulai MTs hingga lulus SMA. Kemudian menghafalkan Alquran di PP As Sa’idiyyah 1 Tambakberas Jombang selama 1,5 tahun. ’’Alhamdulillah sudah dapat tujuh juz,’’ ungkap santri yang bercita-cita menjadi dosen ini.

Sebelum berangkat ke Yaman, dia mengikuti seleksi di Markaz Al-Adeni Nongkojajar Pasuruan. Materinya, seputar nahwu shorof dan fiqh dasar hingga menengah. Selanjutnya, ujian istima’ atau mendengarkan penguji membaca beberapa kalimat kemudian menuliskannya di lembar jawaban (imla’). Setelah itu  wawancara, percakapan dalam bahasa Arab. ’’Seleksi ada tiga tahap,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Molor 1,5 Bulan, Denda Keterlambatan Proyek Pasar Pon Hampir Rp 200 Juta

Syauqi mengaku bersyukur bisa mondok di  Ribath Imam Al Muhajir Husaisah Seiyun Hadhramaut. Banyak pengalaman yang telah dia dapatkan. Diantaranya, bisa menginjakkan kaki di negara penyelenggara FIFA world cup 2022, Qatar. ’’Bisa satu pesawat bersama Habib Umar di Yemenia Airways ketika perjalan dari Kairo ke Yaman,’’ terangnya.

Dia juga tak bisa melupakan pengalaman makan bersama orang Badui. Waktu berkunjung ke pasar Tarim untuk belanja kebutuhan sehari-hari, dia mampir ke dapur untuk makan siang. ’’Saya lihat di dalam ada orang Yaman dan beberapa dari mereka Badui,’’ ucapnya.

Melihatnya sendirian dan halaqohnya masih empat orang, mereka pun memanggil Syauqi. Karena tiap halaqoh biasanya lima orang. Dia pun duduk dalam halaqoh mereka dan saling bercerita, sembari menunggu datangnya makanan.

Setelah makanan di hidangkan, dia lihat ada nasi hangat berkuah sedikit dengan lauk ayam besar dan ada bonus apel sama pisang. Dia pun pergi untuk cuci tangan. Setelah beberapa saat, dia pun kembali ke halaqoh. Saat makan, ternyata kuahnya berubah jadi rasa pisang. ’’Ternyata orang Badui tadi mencampur apel sama pisangnya ke dalam nampan jadi satu layaknya tukang masak nyampur bumbu ke dalam masakan,’’ urainya.

Rasanya menjadi tidak terduga. ’’Bayangkan saja, nasi ayam dicampur kecut manisnya apel di tambah kuah dengan rasa khasnya pisang,’’ paparnya.

Melihat ekspresi wajahnya berubah, mereka pun bertanya kenapa? ’’Saya hanya menjawab kaget karena panas sambil tertawa. Padahal sebenarnya saya ingin lari dari halaqoh itu dan beli makanan sendiri,’’ ungkapnya. Demi menghormati mereka, dia tetap memaksa makan sambil cerita kesana kemari hingga habis. ’’Namun besoknya, saya sakit perut,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Waduh! Jembatan Kasemen Bolong Lagi

Ia, membagi resep agar bisa belajar ke luar negeri. Menurutnya, bagi siswa yang ingin belajar di luar negeri harus tahu kondisi negara yang kita tuju. Juga harus mempersiapkan mental agar tidak gampang down atau menyerah. Yang tak kalah penting, adalah selalu update mencari informasi pendaftaran dan beasiswa ke negara tujuan. ’’Kita juga bisa mencari lembaga-lembaga kursus yang profesional di bidang persiapan kuliah ke luar negeri. Minta restu orang tua, guru dan orang-orang terdekat,’’ sarannya.

Menurutnya, mahasiswa Indonesia juga tak perlu takut belajar ke Yaman. ’’Di sini banyak orang Indonesia. Tak ada satupun ribath atau kuliah yang tidak ada orang Indonesianya,’’ bebernya.

Selain itu, akses pada bahasa juga sangat mudah. Bahkan menurutnya, jika butuh apapun di sana tinggal bilang. ’’Orang Yaman juga banyak yang tahu bahasa Indonesia karena saking banyaknya pelajar Indonesia yang ke sini,’’ urainya.

Dia juga menyarankan agar selektif memilih mediator. ’Pastikan yang ahlussunnah wal jamaah. “Karena ada teman saya pakai mediator non aswaja, sehingga berakhir di ribath Wahabi di Kota Mukalla,’’ jelasnya.  (jif/naz/riz)






Reporter: Wenny Rosalina

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/