26.9 C
Jombang
Wednesday, February 8, 2023

Najwa Fuady Muhammad, Santri Jombang yang Kuliah di Yordania

JOMBANG – Najwa Fuady Muhammad, adalah satu dari banyak santri Jombang  melanjutkan studi ke luar negeri. Begini ceritanya selama menempuh pendidikan  Jurusan Ushuluddin, Fakultas Syariah, University Of Jordan.

’’Saya tiba di Jordan September 2022. Insya Allah Maret nanti pindah ke Universitas Islam Madinah (UIM),’’ katanya. Sejak 2015, santri asal Tulunagung ini mondok di PP Hidayatul Quran Darul Ulum Rejoso. Mulai kelas 7 SMPN 3 Peterongan hingga lulus MA Unggulan Darul Ulum 2021.

Lulus sekolah, dia tidak langsung boyong. Dia pun menyelesaikan setoran hafalan Quran 30 juz ke Dr KH Afifuddin Dimyati Alhafid (Gus Awis). ’’Saya neruskan setoran hafalan,’’ ujarnya.

Desember 2021, dia lantas mendaftar ikut seleksi beasiswa kuliah di UIM. Mulai seleksi berkas, akte, ijazah, sertifikat hafalan Quran, rekomendasi dari tokoh, SKKB, SKCK, sertifikat dauroh ilmiyah, setifikat matan ilmiyah dan beberapa berkas lainnya. Ada seleksi Bahasa Arab juga. ’’Seleksinya Januari 2022, semuanya di lakukan online, saya mengikutinya ketika masih di pondok,” imbuhnya.

Hingga beberapa bulan usai seleksi, pengumuman dari UIM belum keluar.  ’’Kabar dari mahasiswa yang sudah ada di Universitas Islam Madinah, pengumuman lolosnya tak bisa dipastikan. Ada yang harus menunggu satu tahun. Bahkan ada yang sampai 2-3 tahun baru keluar pengumuman lolos,’’ paparnya.

Dia lantas disarankan salah satu guru alumnus Yordania, Ustad Fahmi, untuk kuliah disana. Namun dengan biaya mandiri.  ’’Pesan Gus Awis, jangan malu kuliah mandiri, jika memang dikasih rezeki, waktu dan kesempatan. Salah satu bentuk rasa syukur terhadap rezeki yang telah diberi, kalau bisa bayar sendiri, ya kenapa tidak,’’ kata santri kelahiran Kalabahi, NTT, 24 April 2003.

Baca Juga :  Tolong! Ratusan Warga di Jombang ini Keluhkan Krisis Air Bersih

Apalagi sejak awal, kedua orang tua mendorongnya untuk kuliah di luar negeri. ’’Orang tua merekomendasi kuliah di luar negeri agar dapat pengalaman lebih,’’ kata bungsu dari tiga bersaudara pasangan Mohammad Huda Najaya dan Wati Marwati.

Dia lantas mengikuti pembinaan di Rehlata (salah satu lembaga yang bergerak di perkuliahan di timur tengah) untuk mendaftar di University Of Jordan. Seleksi awal dengan mengirim berkas, ijazah dan akte yang diterjemah dan legalisir oleh kemenag dan kemenkumham.

Lalu seleksi di kampus University of Jordan  berupa tes Bahasa Arab. Meliputi nahwu shorof, fahmul masmu’ (pemahaman dalam mendengarkan perkataan orang Arab asli), fahmul maqru’ (pemahaman dalam teks berbahasa Arab), dan alamat tarqim (penggunaan tanda baca dalam Bahasa Arab). ’’Saya tiba di Yordania 26 September,  seleksinya 29 September 2022,’’ bebernya. Dia akhirnya kuliah disana.

November 2022, pengumuman UIM keluar. Ia, termasuk salah satu dari 230 mahasiswa Indonesia yang diterima di Universitas Islam Madinah. Beasiswa di Madinah bisa didapat dengan lolos seleksi berkas. Tes bahasa menentukan apakah calon mahasiswa harus ikut kelas persiapan bahasa atau langsung kuliah. ’’Pendaftarannya melalui website, ada di instagram PPMI Madinah. Disitu juga lengkap tahap-tahapnya,’’ paparnya.

Baca Juga :  Tunggu Perbaikan, Ruas Ploso-Bawangan Hancur Berlumpur

Agar bisa kuliah ke luar negeri, harus belajar dengan giat dan doa yang kuat dari diri sendiri, guru dan orang tua. Jangan malas mengikuti dauroh ilmiyah yang biasanya mendatangkan syekh dari luar negeri. Selain ilmu yang disampaikan, juga bisa memahami cara bertutur dalam Bahasa Arab.

’’Inti dari kuliah di luar negeri yakni pemahaman bahasanya dan juga ilmu dasar yang kita pelajari di pondok,’’ jelasnya. Orang Indonesia yang berbahasa Arab dengan orang Arab asli yang berbicara sangat berbeda. ’’Terutama dalam hal kecepatan berbicaranya,’’ tegasnya.

Selama di Yordania, dia menghadapi ujian dari kampus yang mengharuskan belajar keras. ’’Kita juga diuji dengan cuaca yang ekstrim,’’ ucapnya. Sebentar lagi, dia akan menghadapi ujian akhir semester. Sedangkan cuacanya selalu dibawah 10 derajat, walapun itu siang hari dan ada matahari. ’’Pas berangkat ke kampus banyak kabut dan masih mendung. Walaupun hujan gerimis juga tetap masuk kuliah. Sangking dinginnya, di kamar pun pas kita ngomong keluar embun,’’ bebernya. (jif/naz/riz)

 

 

JOMBANG – Najwa Fuady Muhammad, adalah satu dari banyak santri Jombang  melanjutkan studi ke luar negeri. Begini ceritanya selama menempuh pendidikan  Jurusan Ushuluddin, Fakultas Syariah, University Of Jordan.

’’Saya tiba di Jordan September 2022. Insya Allah Maret nanti pindah ke Universitas Islam Madinah (UIM),’’ katanya. Sejak 2015, santri asal Tulunagung ini mondok di PP Hidayatul Quran Darul Ulum Rejoso. Mulai kelas 7 SMPN 3 Peterongan hingga lulus MA Unggulan Darul Ulum 2021.

Lulus sekolah, dia tidak langsung boyong. Dia pun menyelesaikan setoran hafalan Quran 30 juz ke Dr KH Afifuddin Dimyati Alhafid (Gus Awis). ’’Saya neruskan setoran hafalan,’’ ujarnya.

Desember 2021, dia lantas mendaftar ikut seleksi beasiswa kuliah di UIM. Mulai seleksi berkas, akte, ijazah, sertifikat hafalan Quran, rekomendasi dari tokoh, SKKB, SKCK, sertifikat dauroh ilmiyah, setifikat matan ilmiyah dan beberapa berkas lainnya. Ada seleksi Bahasa Arab juga. ’’Seleksinya Januari 2022, semuanya di lakukan online, saya mengikutinya ketika masih di pondok,” imbuhnya.

Hingga beberapa bulan usai seleksi, pengumuman dari UIM belum keluar.  ’’Kabar dari mahasiswa yang sudah ada di Universitas Islam Madinah, pengumuman lolosnya tak bisa dipastikan. Ada yang harus menunggu satu tahun. Bahkan ada yang sampai 2-3 tahun baru keluar pengumuman lolos,’’ paparnya.

Dia lantas disarankan salah satu guru alumnus Yordania, Ustad Fahmi, untuk kuliah disana. Namun dengan biaya mandiri.  ’’Pesan Gus Awis, jangan malu kuliah mandiri, jika memang dikasih rezeki, waktu dan kesempatan. Salah satu bentuk rasa syukur terhadap rezeki yang telah diberi, kalau bisa bayar sendiri, ya kenapa tidak,’’ kata santri kelahiran Kalabahi, NTT, 24 April 2003.

Baca Juga :  Tampil di Tong-Tong Fair, Pemberdayaan UMKM BRI Sukses Bawa UMKM Go Global

Apalagi sejak awal, kedua orang tua mendorongnya untuk kuliah di luar negeri. ’’Orang tua merekomendasi kuliah di luar negeri agar dapat pengalaman lebih,’’ kata bungsu dari tiga bersaudara pasangan Mohammad Huda Najaya dan Wati Marwati.

Dia lantas mengikuti pembinaan di Rehlata (salah satu lembaga yang bergerak di perkuliahan di timur tengah) untuk mendaftar di University Of Jordan. Seleksi awal dengan mengirim berkas, ijazah dan akte yang diterjemah dan legalisir oleh kemenag dan kemenkumham.

Lalu seleksi di kampus University of Jordan  berupa tes Bahasa Arab. Meliputi nahwu shorof, fahmul masmu’ (pemahaman dalam mendengarkan perkataan orang Arab asli), fahmul maqru’ (pemahaman dalam teks berbahasa Arab), dan alamat tarqim (penggunaan tanda baca dalam Bahasa Arab). ’’Saya tiba di Yordania 26 September,  seleksinya 29 September 2022,’’ bebernya. Dia akhirnya kuliah disana.

November 2022, pengumuman UIM keluar. Ia, termasuk salah satu dari 230 mahasiswa Indonesia yang diterima di Universitas Islam Madinah. Beasiswa di Madinah bisa didapat dengan lolos seleksi berkas. Tes bahasa menentukan apakah calon mahasiswa harus ikut kelas persiapan bahasa atau langsung kuliah. ’’Pendaftarannya melalui website, ada di instagram PPMI Madinah. Disitu juga lengkap tahap-tahapnya,’’ paparnya.

Baca Juga :  Pemkab Mutasi Pejabat, DPRD Tekankan Evaluasi Kinerja

Agar bisa kuliah ke luar negeri, harus belajar dengan giat dan doa yang kuat dari diri sendiri, guru dan orang tua. Jangan malas mengikuti dauroh ilmiyah yang biasanya mendatangkan syekh dari luar negeri. Selain ilmu yang disampaikan, juga bisa memahami cara bertutur dalam Bahasa Arab.

’’Inti dari kuliah di luar negeri yakni pemahaman bahasanya dan juga ilmu dasar yang kita pelajari di pondok,’’ jelasnya. Orang Indonesia yang berbahasa Arab dengan orang Arab asli yang berbicara sangat berbeda. ’’Terutama dalam hal kecepatan berbicaranya,’’ tegasnya.

Selama di Yordania, dia menghadapi ujian dari kampus yang mengharuskan belajar keras. ’’Kita juga diuji dengan cuaca yang ekstrim,’’ ucapnya. Sebentar lagi, dia akan menghadapi ujian akhir semester. Sedangkan cuacanya selalu dibawah 10 derajat, walapun itu siang hari dan ada matahari. ’’Pas berangkat ke kampus banyak kabut dan masih mendung. Walaupun hujan gerimis juga tetap masuk kuliah. Sangking dinginnya, di kamar pun pas kita ngomong keluar embun,’’ bebernya. (jif/naz/riz)

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/