RadarJombang.id - Rumah seorang ketua partai plus anggota DPRD Jombang di Mojowarno digeruduk puluhan warga Senin (1/4) malam.
Aksi geruduk rumah DPRD Jombang ini, lantaran para warga merasa tertipu aplikasi trading Smart Wallet.
Kedatangan mereka tak lain meminta pertanggungjawaban sebagai leader atas uang yang digunakan sebagai modal investasi di aplikasi trading smart wallet itu.
Rumah anggota DPRD Jombang yang digeruduk massa itu, adalah rumah Ahmad Thohari, anggota DPRD Jombang dari Partai perindo.
Pantauan di lapangan, tampak satu persatu korban tiba di rumah Tohari sejak pukul 17:00.
Mereka berkumpul di halaman depan rumah yang sekaligus toko bangunan.
Mereka mendapat informasi bahwa Tohari berada di rumah dan akan menemui, setelah dua hari sebelumnya mengikuti agenda luar kota.
"Kita sepertinya kena tipu, yang katanya smart wallet ini menguntungkan, tapi ternyata banyak merugikan korban," kata Juned salah seorang korban.
Karena itu ia bersama puluhan korban yang lain meminta pertanggungjawaban dengan mengembalikan semua uang yang sudah ditransfer.
"Kalau korbannya lebih dari 500 orang, dengan kerugian lebih dari ratusan juta," katanya.
Juned menceritakan, awal mula dirinya ikut trading Smart Wallet karena tergiur dengan iming-iming keuntungan lebih besar.
"Ini kan ada leadernya yang iming-iming dengan bonus tinggi, dengan bunga besar hingga 2 persen nilai tukar USD, bukan rupiah ya. Akhirnya kita ikut join," bebernya.
Awal investasi, dirinya merasa senang karena proses Withdraw (WD), beberapa kali sukses.
Namun, semenjak ada event 5 Maret 2024, ia tak bisa lagi lakukan WD. Dia mengalami kerugian sebesar Rp 18 juta.
"Awalnya sih lancar-lancar saja, setelah ada event hingga sekarang tak bisa WD lagi, selalu pending. Bahkan, leader-leader yang mengajak, kita hubungi juga angkat tangan, nggak ada yang mau bertanggungjawab," terangnya serius.
Senada dengan Tiami, 55, korban lain yang mengalami kerugian hingga total puluhan juta rupiah.
Malahan, sejak bergabung investasi 25 Januari 2024 lalu, ia mengaku belum pernah WD sama sekali.
"Awal ikut bulan Januari Rp 4 juta, kedua ngisi lagi 2 Maret Rp 25 juta, terus 14 Maret Rp 20 juta dan terakhir Rp 2,5 juta. Pokoknya total semua Rp 55 juta dan belum pernah WD," terangnya lagi.
Padahal, saat ada promo event dijanjikan keuntungan hingga 100 persen.
Bahkan, korban disuruh mencari mitra baru agar mendapatkan bonus lebih banyak.
"Waktu ada event kita akhirnya habis-habisan, istilahnya ngebom. Katakan modal Rp 20 juta, setelah transfer hari itu juga langsung dapat Rp 20 juta, terus ada bonusnya lagi Rp 10 juta, jadi total menjadi Rp 50 juta," beber Tiami.
Sebagai korban, akhirnya ia terpaksa mencari jalan keluar sendiri dengan mendatangi rumah direktur smart wallet.
Tidak sendirian, ia datang bersama warga lain yang turut menjadi korban.
Baca Juga: Puluhan Orang jadi Korban Arisan Bodong di Jombang, Kerugiannya Ratusan Juta
Mereka menginginkan agar semua modal dikembalikan utuh. Semua bonus yang dijanjikan sudah direlakan.
Hingga selesai salat taraweh, Tohari tak kunjung menemui para korban. Bahkan, rumahnya tertutup rapat.
Tak ada satupun lampu yang menyala. Suasana rumah sangat gelap.
Merasa tak dihiraukan, para korban akhirnya membubarkan diri dan berencana melaporkan dugaan penipuan yang dialaminya ke Polres Jombang. (yan/bin/riz)
.
Editor : Achmad RW