23.6 C
Jombang
Saturday, December 10, 2022

Putusan Hakim untuk MSAT Terlalu Rendah, JPU Ajukan Banding

JOMBANG – Putusan Majelis Hakim PN Surabaya untuk MSAT, terdakwa kasus pencabulan dan pemerkosaan tak memuaskan kedua belah pihak. Jpu dan terdakwa pun, sama-sama menyatakan banding atas putusan itu.

“Untuk JPU, kita sudah menyatakan untuk banding sejak Selasa (22/11) kemarin,” terang Tengku Firdaus, Anggota Tim JPU dari Kejati Jatim.

Pria yang juga Kajari Jombang itu, menyebut keputusan melakukan banding itu didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama, adalah adanya perbedaan pengenaan pasal dalam dakwaan, pembuktian dan putusan hakim. “Di dakwaan, kami berikan pasal berlapis yakni 285 dan 289 KUHP, namun dalam pembuktian kami mengarah ke 285 tentang pemerkosaan, namun yang dibuktikan hakim adalah pasal 289 KUHP, tentang pencabulan,” lontarnya.

Selain itu, banding ini juga dilakukan karena JPU menilai besaran hukuman penjara selama 7 tahun yang diberikan kepada MSAT sangat rendah. Padahal, dalam tuntutan JPU menuntut MSAT dihukum dengan pidana penjara selama 16 tahun. “Pertimbangan kedua karena ada perbedaan yang sangat jauh antara hukuman tuntutan dan yang diputuskan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Harapan Veteran Bagi Pemuda: Walau Tidak Ikut Berjuang, Wajib Tahu Ceritanya

Setelah menyatakan banding, Tengku menyebut Jpu kini tengah menyusun memori banding yang nantinya akan dikirimkan. “Kita ada waktu 14 hari untuk menyusun memori banding ini,” lontarnya.

Dari data yang dimilikinya, Firdaus menyebut tak hanya pihaknya yang melakukan banding. Kubu MSAT, juga disebutnya telah menyatakan untuk melaksanakan banding. “Terdakwa juga banding, jadi nanti kami menyusun memori banding, kubu terdakwa juga menyiapkan kontra memori banding,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, setelah menyerahkan diri Kamis (7/7) malam, MSAT, tersangka pencabulan kepada satriwati di Jombang ditahap duakan ke kejaksaan oleh Diirreskrimum Polda Jatim Jumat (8/7) lalu. Usai proses tahap dua, Mas Bechi juga langsung dijebloskan ke sel tahanan Rutan Klas I Medaeng Sidoarjo.

Sidang kepadanya, dimulai pada (18/7) lalu. Dalam dakwaannya, JPU menjeratnya dengan pasal berlapis dengan dakwaan alternatif. Yakni pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan dengan ancaman pidana 12 tahun. Pasal kedua adalah 289 KUHP dengan ancaman pidana maksimal 9 tahun. Ketiga adalah 294 KUHP ayat 2 dengan ancaman pidana 7 tahun juncto pasal 65 ayat 1 KUHP.

Baca Juga :  Asyik Nyabu di Warkop, Pemuda Kesamben Ngoro Dibekuk Polisi

Proses persidanganpun berlangsung alot. MSAT melalui tim kuasa hukumnya mengajukan eksepsi usai pembacan dakwaan, meski akhirnya ditolak majelis hakim. Lebih dari 40 saksi juga dihadirkan selama persidangan itu, baik dari JPU maupun saksi meringankan dari terdakwa. Hingga pada sidang tuntutan (10/10) lalu, JPU memberikan tuntutan maksimal kepadanya. Yakni pidana penjara selama 16 tahun.

Namun, dalam sidang putusan (17/11) lalu, majelis hakim memvonisnya melanggar Pasal 289 KUHP juncto pasal 65 ayat 1 KUHP dan UU 8 tahun 1981. Majelis Hakim pun menghukumnya dengan penjara selama 7 tahun. (riz)

JOMBANG – Putusan Majelis Hakim PN Surabaya untuk MSAT, terdakwa kasus pencabulan dan pemerkosaan tak memuaskan kedua belah pihak. Jpu dan terdakwa pun, sama-sama menyatakan banding atas putusan itu.

“Untuk JPU, kita sudah menyatakan untuk banding sejak Selasa (22/11) kemarin,” terang Tengku Firdaus, Anggota Tim JPU dari Kejati Jatim.

Pria yang juga Kajari Jombang itu, menyebut keputusan melakukan banding itu didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama, adalah adanya perbedaan pengenaan pasal dalam dakwaan, pembuktian dan putusan hakim. “Di dakwaan, kami berikan pasal berlapis yakni 285 dan 289 KUHP, namun dalam pembuktian kami mengarah ke 285 tentang pemerkosaan, namun yang dibuktikan hakim adalah pasal 289 KUHP, tentang pencabulan,” lontarnya.

Selain itu, banding ini juga dilakukan karena JPU menilai besaran hukuman penjara selama 7 tahun yang diberikan kepada MSAT sangat rendah. Padahal, dalam tuntutan JPU menuntut MSAT dihukum dengan pidana penjara selama 16 tahun. “Pertimbangan kedua karena ada perbedaan yang sangat jauh antara hukuman tuntutan dan yang diputuskan,” imbuhnya.

Baca Juga :  MPLS Siswa Baru, Dinas P dan K : Jangan Ada Perpeloncoan!

Setelah menyatakan banding, Tengku menyebut Jpu kini tengah menyusun memori banding yang nantinya akan dikirimkan. “Kita ada waktu 14 hari untuk menyusun memori banding ini,” lontarnya.

Dari data yang dimilikinya, Firdaus menyebut tak hanya pihaknya yang melakukan banding. Kubu MSAT, juga disebutnya telah menyatakan untuk melaksanakan banding. “Terdakwa juga banding, jadi nanti kami menyusun memori banding, kubu terdakwa juga menyiapkan kontra memori banding,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, setelah menyerahkan diri Kamis (7/7) malam, MSAT, tersangka pencabulan kepada satriwati di Jombang ditahap duakan ke kejaksaan oleh Diirreskrimum Polda Jatim Jumat (8/7) lalu. Usai proses tahap dua, Mas Bechi juga langsung dijebloskan ke sel tahanan Rutan Klas I Medaeng Sidoarjo.

Sidang kepadanya, dimulai pada (18/7) lalu. Dalam dakwaannya, JPU menjeratnya dengan pasal berlapis dengan dakwaan alternatif. Yakni pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan dengan ancaman pidana 12 tahun. Pasal kedua adalah 289 KUHP dengan ancaman pidana maksimal 9 tahun. Ketiga adalah 294 KUHP ayat 2 dengan ancaman pidana 7 tahun juncto pasal 65 ayat 1 KUHP.

Baca Juga :  Pakar Hukum Jombang Nilai Putusan Hakim kepada Mutik Terlalu Ringan

Proses persidanganpun berlangsung alot. MSAT melalui tim kuasa hukumnya mengajukan eksepsi usai pembacan dakwaan, meski akhirnya ditolak majelis hakim. Lebih dari 40 saksi juga dihadirkan selama persidangan itu, baik dari JPU maupun saksi meringankan dari terdakwa. Hingga pada sidang tuntutan (10/10) lalu, JPU memberikan tuntutan maksimal kepadanya. Yakni pidana penjara selama 16 tahun.

Namun, dalam sidang putusan (17/11) lalu, majelis hakim memvonisnya melanggar Pasal 289 KUHP juncto pasal 65 ayat 1 KUHP dan UU 8 tahun 1981. Majelis Hakim pun menghukumnya dengan penjara selama 7 tahun. (riz)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/