Jumat, 03 Dec 2021
Radar Jombang
Home / Hukum
icon featured
Hukum

Oknum Rohaniwan Cabul, Dilakukan Beberapa Kali, Modusnya Bisikan Gaib

23 November 2021, 08: 50: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Oknum Rohaniwan Cabul, Dilakukan Beberapa Kali, Modusnya Bisikan Gaib

Share this      

JOMBANG – Polisi akhirnya membuka kasus pencabulan yang dilakukan Hendra, 39, oknum rohaniwan di Kecamatan Mojowarno. Pelaku telah melakukan perbuatan itu beberapa kali dengan modus yang sama bisikan gaib.

“Menurut keterangan pelaku, perbuatannya kepada korban dilakukan tiga kali, tapi menurut korban lebih dari 10 kali dalam kurun waktu dua tahun terakhir,” ucap Kasatreskrim Polres Jombang AKP Teguh Setiawan, kemarin.

Ia menjelaskan, perkenalan korban dan pelaku memang berkat sebuah Persekutuan Doa di Mojowarno, bernama PD Efrata. Keduanya sama-sama jemaat salah satu gereja di Mojowarno. Namun dalam PD itu, Hendra memiliki posisi lebih tinggi. “Pelaku sudah lama ditunjuk untuk jadi pemimpin doa di persekutuan itu,” lanjutnya.

Baca juga: Pleidoi Belum Siap, Sidang Ditunda Dua Minggu

Sementara posisi korban adalah anak yang memiliki riwayat sakit. Orang tua korban, awalnya bermaksud meminta pelaku agar mau mendoakan korban, agar segera mendapat penyembuhan. “Hingga Agustus 2019, keduanya bertemu, Hendra memanfaatkan kesempatan saat melakukan doa berdua di rumah korban untuk melakukan pencabulan dan persetubuhan,” tambah dia.

Kejadian pertama itu kemudian disusul dengan kejadian serupa dengan modus yang hampir sama. Dari data yang berhasil digali polisi, perbuatan itu sempat dilakukan di rumah korban dan di lokasi PD Efrata, tempat pelaku bertindak sebagai pemimpin doa.

Modus yang digunakan juga semua serupa. Setiap kali akan melakukan aksi, Hendra mengaku mendapat bisikan berupa hikmat dari Tuhan untuk melakukan ritual cabul. Ia pun meyakinkan korban agar mau menuruti nafsu bejatnya. “Pakai bujuk rayu,” imbuhnya.

Setelah melakukan perbuatannya, ia kembali meminta korban agar tidak menceritakan pencabulannya kepada siapapun. Pelaku beralasan, menceritakan ritual itu dapat menyebabkan penyakit korban tak kunjung sembuh. “Selain itu, kalau korban menceritakan kejadian itu maka disebut pelaku akan bisa dipanggil Tuhan,” lontar Teguh.

Namun karena semakin sering dilakukan, korban akhirnya tak kuat lagi merasakan penderitaan. Korban juga sering bertanya kepada pelaku apakah ritual yang sama juga dilakukan kepada jemaat lain yang minta doa khusus kepadanya. “Akhirnya korban cerita kepada orang tuanya sampai kasus ini terbongkar,” lontarnya lagi.

Teguh juga memastikan, Hendra telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur. Pria dengan tiga istri ini akan diancam dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara. “Sesuai pasal 81 ayat (2) Undang Undang No 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang No 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UndangUndang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” pungkasnya.

(jo/riz/jif/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia