alexametrics
24.5 C
Jombang
Friday, June 24, 2022

Kasus Obat Kedaluwarsa Puskesmas Bandarkedungmulyo

Dua Perawat Disanksi, Anggota Dewan : Atasannya Tak Tersentuh?

JOMBANG – Kasus pemberian obat kedaluwarsa kepada pasien balita di Puskesmas Bandarkedungmulyo, akhirnya berujung sanksi. Namun sanksi yang diberikan hanya kepada dua perawat. Sanksi ini dinilai kalangan dewan tidak adil lantaran di dalamnya ada apoteker dan kepala puskesmas yang harusnya ikut bertanggungjawab.

“Saya dapat laporan, Intinya dua perawat yang memberikan obat kedaluwarsa disanksi, keduanya diberi surat peringatan (SP) dan tidak diberikan japel selama sebulan,” kata Mustofa anggota Komisi D DPRD Jombang.

Sembari menunjukkan bukti kertas jadwal jaga, kedua perawat honorer itu tak lagi bertugas di Puskesmas Bandarkedungmulyo sejak Senin (13/6) lalu. Terlihat absen jadwal jaga keduanya kosong. Menurutnya, pemberian sanksi itu salah alamat karena hanya dua petugas bagian ujung pelayanan.

“Padahal kalau jeli, harusnya ada beberapa orang di atas mereka yang juga ikut bertanggungjawab, yakni apoteker dan kepala puskesmas,” lontarnya.

Apoteker harus bertanggungjawab penuh terkait keberadaan obat kedaluwarsa yang masih berada di rak obat. Padahal, telah jelas obat itu sudah kedaluwarsa. “Sudah seminggu lagi kedaluwarsanya, kenapa masih ada di puskesmas? kenapa tidak segera dimusnahkan?” ungkap dia.

Baca Juga :  Inspektorat Jombang Minta Segera Ditindaklanjuti Terkait Obat Kadaluwarsa

Lebih dari itu, kepala puskesmas (kapus) juga lalai dalam mengontrol bawahannya. Sebagai puskesmas yang berstatus BLUD, harusnya kapus bertindak cepat mengatasi temuan obat kedaluwarsa. “Sudah tiga tahun jadi BLUD, kan mengelola uang sendiri? kenapa lamban kerjanya, kalau saya jadi Kepala Dinkes, seharusnya ada sanksi sampai ke atas,” imbuh politisi PKS ini.

Terlebih, dua perawat itu hanya tenaga honorer yang gajinya tidak seberapa dibanding apoteker dan kapus. “Kalau mereka kehilangan haknya (japel,Red) karena ada unsur kelalaian atasannya, kan ya tidak adil,” lontar Mustofa.

Untuk itu pihaknya minta Dinkes kembali mengevaluasi penerapan kebijakan penerapan BLUD di sejumlah puskesmas. Jangan asal memberikan status BLUD, sementara pelayanannya sangat kurang dan tidak maksimal. “BLUD boleh, bagus, tapi pelayanannya ya harus baik, tidak asal jadi BLUD untuk ngejar japel saja,” pungkasnya.

Baca Juga :  Kasus Pabrik Aqua, Senin Depan Eks Sekdes Grobogan Jalani Sidang Perdana

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, Kapus Bandarkedungmulyo dr Ira Yulia Dianti belum bisa dikonfirmasi terkait sanksi dua perawat honorer tersebut. Baik pesan yang dikirim hingga panggilan yang diarahkan ke nomornya tak direspon.

Seperti diberitakan sebelumnya, balita 2 tahun, jadi korban pemberian obat kedaluwarsa saat berobat ke Puskesmas Bandarkedungmulyo. Selasa (7/6) lalu, balita ini dibawa ibunya Kiki Niamita Witami ke Puskesmas Bandarkedungmulyo karena mengalami demam, diare dan muntah.

Sesampainya di lokasi, salah satu perawat menyambut dengan kata-kata kasar saat melakukan pemeriksaan kepada anaknya. Saat pulang, diberi tiga jenis obat, sirup, puyer dan oralit. Dua hari diminumkan, balita itu tak juga sembuh. Selain tubuhnya makin lemas, gemetar dan tak mampu berjalan. Diare dan muntahnya juga makin hebat.

Hingga diketahui jika oralit yang diberikan kepada balita itu sudah kedaluwarsa sejak Mei 2022. Sang balita pun akhirnya dirujuk ke RSUD Kertosono. Belakangan, pihak puskesmas mengakui memberikan obat kedaluwarsa karena ketidaksengajaan. (riz/bin)

- Advertisement -

JOMBANG – Kasus pemberian obat kedaluwarsa kepada pasien balita di Puskesmas Bandarkedungmulyo, akhirnya berujung sanksi. Namun sanksi yang diberikan hanya kepada dua perawat. Sanksi ini dinilai kalangan dewan tidak adil lantaran di dalamnya ada apoteker dan kepala puskesmas yang harusnya ikut bertanggungjawab.

“Saya dapat laporan, Intinya dua perawat yang memberikan obat kedaluwarsa disanksi, keduanya diberi surat peringatan (SP) dan tidak diberikan japel selama sebulan,” kata Mustofa anggota Komisi D DPRD Jombang.

Sembari menunjukkan bukti kertas jadwal jaga, kedua perawat honorer itu tak lagi bertugas di Puskesmas Bandarkedungmulyo sejak Senin (13/6) lalu. Terlihat absen jadwal jaga keduanya kosong. Menurutnya, pemberian sanksi itu salah alamat karena hanya dua petugas bagian ujung pelayanan.

“Padahal kalau jeli, harusnya ada beberapa orang di atas mereka yang juga ikut bertanggungjawab, yakni apoteker dan kepala puskesmas,” lontarnya.

Apoteker harus bertanggungjawab penuh terkait keberadaan obat kedaluwarsa yang masih berada di rak obat. Padahal, telah jelas obat itu sudah kedaluwarsa. “Sudah seminggu lagi kedaluwarsanya, kenapa masih ada di puskesmas? kenapa tidak segera dimusnahkan?” ungkap dia.

Baca Juga :  Tunggu Hasil Tes Kejiwaan, Penculik Bayi Belum Ditahan

Lebih dari itu, kepala puskesmas (kapus) juga lalai dalam mengontrol bawahannya. Sebagai puskesmas yang berstatus BLUD, harusnya kapus bertindak cepat mengatasi temuan obat kedaluwarsa. “Sudah tiga tahun jadi BLUD, kan mengelola uang sendiri? kenapa lamban kerjanya, kalau saya jadi Kepala Dinkes, seharusnya ada sanksi sampai ke atas,” imbuh politisi PKS ini.

- Advertisement -

Terlebih, dua perawat itu hanya tenaga honorer yang gajinya tidak seberapa dibanding apoteker dan kapus. “Kalau mereka kehilangan haknya (japel,Red) karena ada unsur kelalaian atasannya, kan ya tidak adil,” lontar Mustofa.

Untuk itu pihaknya minta Dinkes kembali mengevaluasi penerapan kebijakan penerapan BLUD di sejumlah puskesmas. Jangan asal memberikan status BLUD, sementara pelayanannya sangat kurang dan tidak maksimal. “BLUD boleh, bagus, tapi pelayanannya ya harus baik, tidak asal jadi BLUD untuk ngejar japel saja,” pungkasnya.

Baca Juga :  Kasus Pabrik Aqua, Senin Depan Eks Sekdes Grobogan Jalani Sidang Perdana

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, Kapus Bandarkedungmulyo dr Ira Yulia Dianti belum bisa dikonfirmasi terkait sanksi dua perawat honorer tersebut. Baik pesan yang dikirim hingga panggilan yang diarahkan ke nomornya tak direspon.

Seperti diberitakan sebelumnya, balita 2 tahun, jadi korban pemberian obat kedaluwarsa saat berobat ke Puskesmas Bandarkedungmulyo. Selasa (7/6) lalu, balita ini dibawa ibunya Kiki Niamita Witami ke Puskesmas Bandarkedungmulyo karena mengalami demam, diare dan muntah.

Sesampainya di lokasi, salah satu perawat menyambut dengan kata-kata kasar saat melakukan pemeriksaan kepada anaknya. Saat pulang, diberi tiga jenis obat, sirup, puyer dan oralit. Dua hari diminumkan, balita itu tak juga sembuh. Selain tubuhnya makin lemas, gemetar dan tak mampu berjalan. Diare dan muntahnya juga makin hebat.

Hingga diketahui jika oralit yang diberikan kepada balita itu sudah kedaluwarsa sejak Mei 2022. Sang balita pun akhirnya dirujuk ke RSUD Kertosono. Belakangan, pihak puskesmas mengakui memberikan obat kedaluwarsa karena ketidaksengajaan. (riz/bin)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/