Senin, 17 Jan 2022
Radar Jombang
Home / Hukum
icon featured
Hukum

Berkas Oknum Persekutuan Doa Cabul Belum Lengkap

07 Januari 2022, 09: 25: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Berkas Oknum Persekutuan Doa Cabul Belum Lengkap

Share this      

JOMBANG – Berkas penyidikan kasus persetubuhan yang menjerat tersangka HPN, 39, oknum anggota persekutuan doa (PD) di Kecamatan Mojowarno terhadap remaja usia SMP, sebut saja Sari, 14, (nama samaran) belum lengkap. Dari hasil penelitian jaksa, masih ada kekurangan berkas yang harus dilengkapi.

”Berkas masih ada kekurangan, masih P19,” terang Kasipidum Kejaksaan Negeri (Kejari) Jombang Achmad Jaya Muhiddinkepada Jawa Pos Radar Jombang, Kamis (6/1) kemarin.

Meski tak menerangkan detail kekurangan berkas, Jaya menyebut sudah memberikan petunjuk kepada penyidik kepolisian terkait apa yang harus dilengkapi dalam berkas. ”Sudah kita berikan petunjuk,” singkat Jaya.

Baca juga: Pencarian Ahmada Yakub Masih Buram

Seperti diberitakan sebelumnya, usai menaikkan status HPN, 39, sebagai tersangka, polisi mengebut berkas pemeriksaan. ”Berkas sudah kita limpahkan ke kejaksaan sejak kemarin (9/12),” terang Kasatreskrim Polres Jombang AKP Teguh Setiawan, Jumat (10/12) kemarin.

Saat ini pihaknya tinggal menunggu hasil penelitian berkas dari jaksa. Segera setelah dinyatakan lengkap, pihaknya akan segera menyerahkan tersangka ke kejaksaan agar segera bisa disidangkan. ”Mudah-mudahan sudah lengkap, sehingga tersangka bisa segera kita limpahkan untuk tahap duanya,” pungkas Teguh.

Seperti diberitakan sebelumnya, HDP, 39, oknum anggota persekutuan doa (PD) di Kecamatan Mojowarno dibekuk polisi. Menyusul tindakannya diduga menyetubuhi remaja usia SMP, sebut saja Sari, 14. (bukan nama sebenarnya).

Kasus ini terungkap bermula sekitar 2019. Orang tua korban meminta bantuan pelaku datang ke rumah korban untuk mendoakan Sari, 14, yang diketahui sering mengalami kejang-kejang. ”Kebetulan pelaku ini sering ditunjuk jadi pemimpin doa di persekutuan,” terang Wakapolres Jombang Kompol Ari Trestiawan, Senin (22/11).

Singkatnya, pada 10 Agustus 2019, pelaku datang ke rumah korban. Pelaku berhasil memperdayai orang tua korban. ”Ibu korban diminta menunggu di ruang tamu, ayah korban diminta berdoa di rumah saudaranya yang sedang sakit, sementara pelaku bersama korban berdua di kamar,” bebernya.

Pelaku berhasil memperdayai korban dengan dalih ritual pengobatan. ”Setelah doa bersama dengan korban selesai, tersangka menyetubuhi korban di kamar. Pelaku berdalih persetubuhan itu untuk kesembuhan korban,” kata Wakapolres.

Pelaku berhasil memperdayai korban, dengan dalih dirinya merupakan Hamba Tuhan yang perkataannya harus ditaati supaya menjadi berkat. Modus itulah yang dilakukan oleh HPN. ”Korban hanya menurut,” bebernya.

Merasa tindakan pertamanya aman, tindakan bejat pelaku berlanjut. Kali ini perbuatannya dilakukan di kamar tamu PD di Kecamatan Mojowarno. Tak tahan dengan perlakukan pelaku, korban akhirnya menceritakan kejadian ke orang tuanya.

Kasusnya dilaporkan ke polisi. ”Pelaku kita tangkap pada 16 November 2021 dirumahnya. Hasil pemeriksaan, pelaku melakukan persetubuhan sebanyak dua kali. Modusnya pengobatan melalui doa,” tandas Wakapolres. Selain mengamankan pelaku, polisi juga menyita sejumlah pakaian yang dikenakan korban dan pelaku sebagai barang bukti. ”Pelaku dijerat pasal 81 ayat (2) UURI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” tegas Kompol Ari Trestiawan.

(jo/riz/jif/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia