alexametrics
21.7 C
Jombang
Monday, August 8, 2022

Cerita Penjual Tikar di Trotoar A Yani yang Makin Ditinggal Pembeli

JOMBANG – Lazimnya, trotoar berfungsi sebagai akses pejalan kaki. Namun, di  Jl A Yani, Jombang trotoar, trotoar telah jadi harapan dan tempat mengais nafkah sekaligus tempat tinggal sejak puluhan tahun lalu. Khususnya bagi penjual tikar pandan.

Hujan gerimis baru saja reda sore itu. Di salah satu sudut trotoar jalan A Yani Jombang, terlihat beberapa gulungan tikar pandan tertata rapi di depan pertokoan yang terlihat tutup.

Tampak sejumlah lansia berada di sampingnya tengah duduk-duduk santai, dengan sabar menunggu pembeli datang sambil. Meski pemasukan yang mereka dapat dari berjualan tikar tradisional kini semakin sepi, bahkan harus tidur di trotoar, mereka tak punya pilihan lain kecuali melanjutkan usaha yang sudah mereka jalani selama bertahun-tahun.

Kepada Jawa Pos Radar Jombang, Subagiyo, 67, salah satu penjual tikar anyaman pandan mengaku sudah bertahun-tahun berjualan tikar pandan di trotoar kawasan Jl A Yani. ” Saya jualan tikar di sini sudah delapan tahun, sejak 2014. Yang lainnya malah ada yang lebih lama dari saya,’’ ujar dia sembari menata tikarnya (29/5).

Baca Juga :  Disajikan dengan Saus Cuko, Rasanya Pedasnya Bikin Nagih

Bapak tiga anak tidak membuat tikar pandan sendiri, namun mendatangkan dari perajin di Kecamatan Kabuh. Di sana, ia memiliki kerabat yang membolehkan membawa tikarnya untuk dijual. ”Setiap seminggu sekali kadang dikirim, sesuai kebutuhan. Ada yang tikar kecil, sedang dan besar,’’ papar dia.

Dijelaskan, penghasilan menjual tikar dari bahan pandan tak menentu. Jika beruntung, dalam sehari bisa terjual antara lima hingga delapan tikar. Sebaliknya, jika kurang beruntung, sehari kadang tak ada pembeli sama sekali. ”Tak menentu, karena peminat sekarang menurun. Apalagi sejak ada pandemi kadang laku kadang tidak,’’ tambahnya.

Dari penjualan per potong tikar, Subagyo  mendapatkan keuntungan sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 7.500. ”Untuk yang paling kecil harganya Rp 40 ribu, yang sedang Rp 60 ribu dan yang besar Rp 80 ribu. Keuntungannya yang tergantung berapa yang kita jual,’’ paparnya.

Menurutnya, selain menjadi tempat mengais rejeki, trotoar jalan tempat dia berjualan seolah menjadi tempat tinggal keduanya. Sehari-hari ia dan beberapa penjual tikar lain tidur di atas trotoar jalan.

Baca Juga :  Produksi Warangka Keris dari Kayu Langka di Ploso

Untuk kebutuhan mandi, ia pergi ke ponten umum yang ada di kawasan pasar. Sedangkan untuk makan dan minum, ia membeli di warung. Tak jarang para penjual tikar mendapat kiriman nasi bungkus dari para dermawan. ”Kadang kalau capek, saya pulang ke rumah kerabat di Sariyolo, Desa Sambongdukuh utara pasar sini,’’ jelas dia.

Suka duka berjualan tikar pandan ia jalani hari demi hari. Meski pemasukan yang dia dapat dari berjualan tikar tak menentu, ia memilih tetap bertahan karena tak ada pilihan lain. ”Ya intinya tetap bersyukur,’’ pungkas pria asli Madiun ini.

Dihadapkan dengan pandemi Covid-19, perjuangannya kian berat. Pasalnya, penjualan tikarnya semakin sepi. ”Pandemi pembeli sepi,” imbuhnya.

Senada juga diungkapkan Suliyem, 90, pedagang lainnya. Dalam sehari, pendapatan yang didapat dari menjual tikar tak menentu. ”Ya kalau beruntung laku sampai lima tikar. Kalau tidak ya satu, dua pembeli,’’ ujar dia dengan nada terbata bata. (ang/naz/riz)






Reporter: Anggi Fridianto
- Advertisement -

JOMBANG – Lazimnya, trotoar berfungsi sebagai akses pejalan kaki. Namun, di  Jl A Yani, Jombang trotoar, trotoar telah jadi harapan dan tempat mengais nafkah sekaligus tempat tinggal sejak puluhan tahun lalu. Khususnya bagi penjual tikar pandan.

Hujan gerimis baru saja reda sore itu. Di salah satu sudut trotoar jalan A Yani Jombang, terlihat beberapa gulungan tikar pandan tertata rapi di depan pertokoan yang terlihat tutup.

Tampak sejumlah lansia berada di sampingnya tengah duduk-duduk santai, dengan sabar menunggu pembeli datang sambil. Meski pemasukan yang mereka dapat dari berjualan tikar tradisional kini semakin sepi, bahkan harus tidur di trotoar, mereka tak punya pilihan lain kecuali melanjutkan usaha yang sudah mereka jalani selama bertahun-tahun.

Kepada Jawa Pos Radar Jombang, Subagiyo, 67, salah satu penjual tikar anyaman pandan mengaku sudah bertahun-tahun berjualan tikar pandan di trotoar kawasan Jl A Yani. ” Saya jualan tikar di sini sudah delapan tahun, sejak 2014. Yang lainnya malah ada yang lebih lama dari saya,’’ ujar dia sembari menata tikarnya (29/5).

Baca Juga :  Tak Melulu Manis, Madu Klanceng ini Punya Rasa Asam yang Khas

Bapak tiga anak tidak membuat tikar pandan sendiri, namun mendatangkan dari perajin di Kecamatan Kabuh. Di sana, ia memiliki kerabat yang membolehkan membawa tikarnya untuk dijual. ”Setiap seminggu sekali kadang dikirim, sesuai kebutuhan. Ada yang tikar kecil, sedang dan besar,’’ papar dia.

Dijelaskan, penghasilan menjual tikar dari bahan pandan tak menentu. Jika beruntung, dalam sehari bisa terjual antara lima hingga delapan tikar. Sebaliknya, jika kurang beruntung, sehari kadang tak ada pembeli sama sekali. ”Tak menentu, karena peminat sekarang menurun. Apalagi sejak ada pandemi kadang laku kadang tidak,’’ tambahnya.

- Advertisement -

Dari penjualan per potong tikar, Subagyo  mendapatkan keuntungan sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 7.500. ”Untuk yang paling kecil harganya Rp 40 ribu, yang sedang Rp 60 ribu dan yang besar Rp 80 ribu. Keuntungannya yang tergantung berapa yang kita jual,’’ paparnya.

Menurutnya, selain menjadi tempat mengais rejeki, trotoar jalan tempat dia berjualan seolah menjadi tempat tinggal keduanya. Sehari-hari ia dan beberapa penjual tikar lain tidur di atas trotoar jalan.

Baca Juga :  Restorasi Honda C70 Pertahankan Keasilan Super Cup Lawas

Untuk kebutuhan mandi, ia pergi ke ponten umum yang ada di kawasan pasar. Sedangkan untuk makan dan minum, ia membeli di warung. Tak jarang para penjual tikar mendapat kiriman nasi bungkus dari para dermawan. ”Kadang kalau capek, saya pulang ke rumah kerabat di Sariyolo, Desa Sambongdukuh utara pasar sini,’’ jelas dia.

Suka duka berjualan tikar pandan ia jalani hari demi hari. Meski pemasukan yang dia dapat dari berjualan tikar tak menentu, ia memilih tetap bertahan karena tak ada pilihan lain. ”Ya intinya tetap bersyukur,’’ pungkas pria asli Madiun ini.

Dihadapkan dengan pandemi Covid-19, perjuangannya kian berat. Pasalnya, penjualan tikarnya semakin sepi. ”Pandemi pembeli sepi,” imbuhnya.

Senada juga diungkapkan Suliyem, 90, pedagang lainnya. Dalam sehari, pendapatan yang didapat dari menjual tikar tak menentu. ”Ya kalau beruntung laku sampai lima tikar. Kalau tidak ya satu, dua pembeli,’’ ujar dia dengan nada terbata bata. (ang/naz/riz)






Reporter: Anggi Fridianto

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/