alexametrics
24.1 C
Jombang
Sunday, August 7, 2022

Tali dari Limbah Karung Goni Produksi Jombang yang Tembus Pasar Luar Pulau

JOMBANG – Punya tali dari limbah karung goni? Bisa jadi itu berasal dari Dusun Banggle, Desa Dapurkejambon, Kecamatan Jombang. Pembuatan tali disitu sudah puluhan tahun. Jumiran, pemiliknya, generasi kedua yang meneruskan usaha turun temurun dari keluarga. bahkan, pasarnya kini sampai ke luar pulau.

’’Awalnya dari paman sekitar 1970,’’ kata Jumiran. Banyak tumpukan limbah karung goni di samping rumah Jumiran. Ada yang sudah kumel lantaran campur dengan tanah. Ada pula yang benangnya sudah terurai. Karung yang mayoritas warna kecokelatan itu diubah Jumiran menjadi tali.

Sampai sekarang tak ada perubahan signifkan dalam proses pembuatan tali. Sejak dulu sampai sekarang masih dilakukan secara manual. ’’Tahapannya, setelah dapat karung goni, benangnya dicabuti atau diurai,’’ ucapnya. Setelah itu disambung jadi satu. Baru kemudian benang digiling.

Baca Juga :  Manfaatkan Bahan dari Alam Sekitar, Lebih Ramah Lingkungan

Proses pencabutan benang di setiap karung, biasanya dilakukan para ibu rumah tangga. Jumiran memberdayakan tetangga di kanan kiri rumahnya. ’’Sejak dulu ya begini, manual semua,’’ lanjutnya.

Benang yang sudah diurai dari karung itu kemudian dikirim ke rumahnya.  Baru kemudian dilakukan proses pembuatan tali. Dia dibantu dua orang mengerjakannya. Mereka menarik ujung tali dengan panjang sekira 10 meter. Kemudian satu pekerja menyatukan benang satu dengan yang lain sehingga menjadi tali. ’’Tahap ini disebut menggiling,’’ ujarnya.

Memakai alat semacam roda, kemudian diputar. Sehingga, seluruh benang tersambung jadi satu. Setelah benang terkumpul di rumah, lalu disambung dijadikan satu. Baru kemudian digiling. ’’Prosesnya juga manual, gilingannya diputar,’’ tutur lelaki berusia 46 tahun ini.

Baca Juga :  Restorasi Yamaha As1, Nostalgia Era Awal Motor Dua Silinder

Setelahnya, tali langsung dikemas menjadi satu ikat. Per ikat ini, biasanya beratnya lima kilogram. ’’Hitungannya per-kilogram,’’ ujarnya. Satu karung goni bekas kacang yang kecil atau setengah kilograman, bisa jadi satu ikat tali.

Untuk mendapat karung goni, saat ini tak seperti dulu. Sebab limbah karung goni sulit didapat. ’’Dulu masih banyak pabrik yang pakai karung goni. Sekarang sudah berkurang,’’ ungkapnya. Dia dapat pasokan karung goni dari tengkulak di Tuban dan Kudus, Jawa Tengah. ’’Karungnya ini bekas dari luar negeri,’’ jelasnya.






Reporter: Ainul Hafidz
- Advertisement -

JOMBANG – Punya tali dari limbah karung goni? Bisa jadi itu berasal dari Dusun Banggle, Desa Dapurkejambon, Kecamatan Jombang. Pembuatan tali disitu sudah puluhan tahun. Jumiran, pemiliknya, generasi kedua yang meneruskan usaha turun temurun dari keluarga. bahkan, pasarnya kini sampai ke luar pulau.

’’Awalnya dari paman sekitar 1970,’’ kata Jumiran. Banyak tumpukan limbah karung goni di samping rumah Jumiran. Ada yang sudah kumel lantaran campur dengan tanah. Ada pula yang benangnya sudah terurai. Karung yang mayoritas warna kecokelatan itu diubah Jumiran menjadi tali.

Sampai sekarang tak ada perubahan signifkan dalam proses pembuatan tali. Sejak dulu sampai sekarang masih dilakukan secara manual. ’’Tahapannya, setelah dapat karung goni, benangnya dicabuti atau diurai,’’ ucapnya. Setelah itu disambung jadi satu. Baru kemudian benang digiling.

Baca Juga :  Dua Pj Kades di Jombang Mundur untuk Ikut Kontestasi KDAW

Proses pencabutan benang di setiap karung, biasanya dilakukan para ibu rumah tangga. Jumiran memberdayakan tetangga di kanan kiri rumahnya. ’’Sejak dulu ya begini, manual semua,’’ lanjutnya.

Benang yang sudah diurai dari karung itu kemudian dikirim ke rumahnya.  Baru kemudian dilakukan proses pembuatan tali. Dia dibantu dua orang mengerjakannya. Mereka menarik ujung tali dengan panjang sekira 10 meter. Kemudian satu pekerja menyatukan benang satu dengan yang lain sehingga menjadi tali. ’’Tahap ini disebut menggiling,’’ ujarnya.

Memakai alat semacam roda, kemudian diputar. Sehingga, seluruh benang tersambung jadi satu. Setelah benang terkumpul di rumah, lalu disambung dijadikan satu. Baru kemudian digiling. ’’Prosesnya juga manual, gilingannya diputar,’’ tutur lelaki berusia 46 tahun ini.

Baca Juga :  Makanan Sehat Cukup Dikukus atau Direbus, Kaya Nutrisi dan Tinggi Protein
- Advertisement -

Setelahnya, tali langsung dikemas menjadi satu ikat. Per ikat ini, biasanya beratnya lima kilogram. ’’Hitungannya per-kilogram,’’ ujarnya. Satu karung goni bekas kacang yang kecil atau setengah kilograman, bisa jadi satu ikat tali.

Untuk mendapat karung goni, saat ini tak seperti dulu. Sebab limbah karung goni sulit didapat. ’’Dulu masih banyak pabrik yang pakai karung goni. Sekarang sudah berkurang,’’ ungkapnya. Dia dapat pasokan karung goni dari tengkulak di Tuban dan Kudus, Jawa Tengah. ’’Karungnya ini bekas dari luar negeri,’’ jelasnya.






Reporter: Ainul Hafidz

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/