alexametrics
26.4 C
Jombang
Wednesday, May 25, 2022

Keripik dari Bawang Putih, Alternatif Camilan Dari Peterongan

JOMBANG – Bawang putih bukan hanya dijadikan bumbu dapur untuk menyajikan berbagai hidangan. Di tangan Miftakhur Rofiatur Rozako, 29, bawang putih menjadi bahan utama cemilan yang renyah dan gurih.

”Namanya keripik bawang, dan memang bahan utamanya  bawang putih,” ucap ibu satu anak yang akrab disapa Zaqo ini. Sejak 2019, ia produksi keripik bawang di rumahnya sendiri, Dusun Budug, Desa Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan.

Sebagai ibu muda, ia memang tak ingin berpangku tangan pada suami. Ingin punya penghasilan sendiri dengan membuat usaha keripik bawang. Mulanya, ia membuat dalam jumlah sedikit untuk dikonsumsi sendiri. Sebagian diberikan kepada teman, tetangga dan saudara untuk tester.

Sebagai pemula, usaha rumahan yang dirintisnya tidak langsung laris terjual. Beberapa kali produk keripik yang dijadikan tester itu memang sengaja dilakukan untuk mendapat masukan apa saja yang kurang. ”Alhamdulillah respon mereka bagus, katanya enak,” katanya. Setelah yakin keripik bawang yang ia buat enak dan layak jual, ia mulai memberanikan diri menerima pesanan. ”Awalnya yang pesan ya teman dan saudara sendiri,” jelasnya.

Baca Juga :  Tentang Kelenteng Hong San Kiong Gudo Jombang

Untuk mengembangkan usahanya, ia membuat jenis cemilan lain, yaitu stik kentang, pangsit udang dan stik telo. Namun keripik bawang yang paling laris di pasaran karena lebih renyah dan gurih. Selama ini, pemasarannya hanya dari mulut ke mulut. Kini, produknya banyak diterima masyarakat. Beberapakali produksinya dikirim ke sejumlah toko. ”Banyak yang beli untuk oleh-oleh,” tambah dia.

Selain itu, pesanan melalui online juga terus dilakukan. Produk olahan keripik bawang miliknya dikirim ke berbagai kota, Seperti Surabaya, Madiun, Pasuruan, Gresik, Bojonegoro, hingga Kalimantan Timur. ”Ingin juga punya  toko oleh-oleh di luar Jombang. Agar jika ingin keripik bawang tidak perlu jauh-jauh ke Jombang,” jelasnya.

Berbagai tantangan pun dihadapi. Usahanya yang baru berkembang, diuji dengan kenaikan bahan baku yang tak terkendali seperti minyak goreng. Namun Zaqo tetap memilih yang berkualitas bagus. Bahkan, ia rela mengurangi laba agar pelanggannya tak kecewa. ”Kualitas yang menjadi keunggulan dalam produk yang saya buat,” jelasnya lagi.

Baca Juga :  Sosok Harimau Gaib Diyakini Jaga Petilasan Ini, Begini Kesaksian Warga

Saat harga minyak goreng sedang mahal, ia tetap menggunakan minyak berkualitas bagus dan bermerk. Ia juga meminimalisir penggunaan MSG, sehingga keripik bawang buatannya aman dikonsumsi anak-anak. ”Karena minyak yang digunakan cukup berpengaruh pada masa kadaluwarsa, kalau pakai minyak yang bagus tahan sampai tiga bulan,” jelasnya.

Untuk pembuatannya, ia lantas menceritakan bawang merah dan bawang putuh dikupas hingga bersih, kemudian diiris tipis dan dicampurkan dengan tepung tapioka, telur, dan mentega. Semua bahan dicampur dengan air secukupnya. Keripik bawang tanpa proses penjemuran, langsung digoreng di minyak panas dengan api sedang.

”Sehari untuk keripik bawang masih sedikit karena karyawan butuh banyak. Kalau stik kentang, pangsit udang dan stik telo sehari bisa 10 kilogram,” ungkap Zaqo yang dibantu dengan dua pekerja. Untuk pembuatan kerupuk bawang ia mengaku masih kekurangan tenaga pengupas bawang. ’’Kadang dibantu tetangga sekitar,” pungkasnya.






Reporter: Wenny Rosalina
- Advertisement -

JOMBANG – Bawang putih bukan hanya dijadikan bumbu dapur untuk menyajikan berbagai hidangan. Di tangan Miftakhur Rofiatur Rozako, 29, bawang putih menjadi bahan utama cemilan yang renyah dan gurih.

”Namanya keripik bawang, dan memang bahan utamanya  bawang putih,” ucap ibu satu anak yang akrab disapa Zaqo ini. Sejak 2019, ia produksi keripik bawang di rumahnya sendiri, Dusun Budug, Desa Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan.

Sebagai ibu muda, ia memang tak ingin berpangku tangan pada suami. Ingin punya penghasilan sendiri dengan membuat usaha keripik bawang. Mulanya, ia membuat dalam jumlah sedikit untuk dikonsumsi sendiri. Sebagian diberikan kepada teman, tetangga dan saudara untuk tester.

Sebagai pemula, usaha rumahan yang dirintisnya tidak langsung laris terjual. Beberapa kali produk keripik yang dijadikan tester itu memang sengaja dilakukan untuk mendapat masukan apa saja yang kurang. ”Alhamdulillah respon mereka bagus, katanya enak,” katanya. Setelah yakin keripik bawang yang ia buat enak dan layak jual, ia mulai memberanikan diri menerima pesanan. ”Awalnya yang pesan ya teman dan saudara sendiri,” jelasnya.

Baca Juga :  Jelang Lebaran, Kue Kering Produksi Rumahan ini Jadi Primadona

Untuk mengembangkan usahanya, ia membuat jenis cemilan lain, yaitu stik kentang, pangsit udang dan stik telo. Namun keripik bawang yang paling laris di pasaran karena lebih renyah dan gurih. Selama ini, pemasarannya hanya dari mulut ke mulut. Kini, produknya banyak diterima masyarakat. Beberapakali produksinya dikirim ke sejumlah toko. ”Banyak yang beli untuk oleh-oleh,” tambah dia.

Selain itu, pesanan melalui online juga terus dilakukan. Produk olahan keripik bawang miliknya dikirim ke berbagai kota, Seperti Surabaya, Madiun, Pasuruan, Gresik, Bojonegoro, hingga Kalimantan Timur. ”Ingin juga punya  toko oleh-oleh di luar Jombang. Agar jika ingin keripik bawang tidak perlu jauh-jauh ke Jombang,” jelasnya.

- Advertisement -

Berbagai tantangan pun dihadapi. Usahanya yang baru berkembang, diuji dengan kenaikan bahan baku yang tak terkendali seperti minyak goreng. Namun Zaqo tetap memilih yang berkualitas bagus. Bahkan, ia rela mengurangi laba agar pelanggannya tak kecewa. ”Kualitas yang menjadi keunggulan dalam produk yang saya buat,” jelasnya lagi.

Baca Juga :  Lobster Air Tawar Hasilkan Puluhan Juta

Saat harga minyak goreng sedang mahal, ia tetap menggunakan minyak berkualitas bagus dan bermerk. Ia juga meminimalisir penggunaan MSG, sehingga keripik bawang buatannya aman dikonsumsi anak-anak. ”Karena minyak yang digunakan cukup berpengaruh pada masa kadaluwarsa, kalau pakai minyak yang bagus tahan sampai tiga bulan,” jelasnya.

Untuk pembuatannya, ia lantas menceritakan bawang merah dan bawang putuh dikupas hingga bersih, kemudian diiris tipis dan dicampurkan dengan tepung tapioka, telur, dan mentega. Semua bahan dicampur dengan air secukupnya. Keripik bawang tanpa proses penjemuran, langsung digoreng di minyak panas dengan api sedang.

”Sehari untuk keripik bawang masih sedikit karena karyawan butuh banyak. Kalau stik kentang, pangsit udang dan stik telo sehari bisa 10 kilogram,” ungkap Zaqo yang dibantu dengan dua pekerja. Untuk pembuatan kerupuk bawang ia mengaku masih kekurangan tenaga pengupas bawang. ’’Kadang dibantu tetangga sekitar,” pungkasnya.






Reporter: Wenny Rosalina

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/