alexametrics
29.3 C
Jombang
Sunday, August 7, 2022

Tak Melulu Manis, Madu Klanceng ini Punya Rasa Asam yang Khas

JOMBANG – Budidaya madu klanceng kini sedang marak. Seperti dilakukan Arifudin Firdaus, 32, warga Dusun Sumoyono, Desa Cukir, Kecamatan Diwek. Rasa madunya tak sepenuhnya manis, tapi ada asamnya.

Di halaman depan rumah Arifudin ada lima potongan kayu yang berada di atas tiang. Diatasnya terdapat semacam atap berbentuk segitiga. Potongan-potongan kayu itu merupakan tempat bersarangnya klanceng.

Bagian atas yang disebut toping merupakan tempat kantong madu. Sekilas, bentuknya menyeramkam. Namun ketika kantong dibuka memakai pipet, terlihat jelas di dalamnya terdapat madu. Bahkan terkadang madu itu keluar dengan sendirinya. ’’Ini madu klanceng,’’ kata Arif.

Dia membudidaya lebah madu sejak dua tahun terakhir. Tepatnya ketika pandemi Covid-19. ’’Dulunya saya berjualan kaos,’’ ucapnya. Dia mengawali dengan budidaya klanceng jenis lokal. Namun, hasilnya kurang maksimal. Lebah klanceng lokal produktivitasnya sedikit. Kurun waktunya juga relatif lama. Antara tiga sampai enam bulan.

Baca Juga :  Cerita Penjual Tikar di Trotoar A Yani yang Makin Ditinggal Pembeli

Ia pun mencari klanceng jenis baru yang lebih produktif dan proses panennya lebih cepat. ’’Akhirnya saya datangkan klanceng jenis Itama Sumatera,’’ bebernya. Bentuknya lebih besar dan produktivitasnya lebih tinggi. ’’Hanya satu bulan sudah panen,’’ ungkapnya.

Saat ini dia sudah memiliki memiliki empat koloni. Masing-masing koloni, berada di satu potongan pohon. ’’Semuanya jenis Itama Sumatera, jadi habitat aslinya ada di hutan Sumatera,’’ lanjutnya.

Dalam waktu satu bulan, satu koloni bisa menghasilkan satu liter madu. Rasa madunya sedikit berbeda. Sebab tak hanya manis, namun ada campuran asam. ’’Rasa khas madu klanceng ini ada asamnya, jadi ya asam manis,’’ terangnya.

Selanjutnya…….






Reporter: Ainul Hafidz
- Advertisement -

JOMBANG – Budidaya madu klanceng kini sedang marak. Seperti dilakukan Arifudin Firdaus, 32, warga Dusun Sumoyono, Desa Cukir, Kecamatan Diwek. Rasa madunya tak sepenuhnya manis, tapi ada asamnya.

Di halaman depan rumah Arifudin ada lima potongan kayu yang berada di atas tiang. Diatasnya terdapat semacam atap berbentuk segitiga. Potongan-potongan kayu itu merupakan tempat bersarangnya klanceng.

Bagian atas yang disebut toping merupakan tempat kantong madu. Sekilas, bentuknya menyeramkam. Namun ketika kantong dibuka memakai pipet, terlihat jelas di dalamnya terdapat madu. Bahkan terkadang madu itu keluar dengan sendirinya. ’’Ini madu klanceng,’’ kata Arif.

Dia membudidaya lebah madu sejak dua tahun terakhir. Tepatnya ketika pandemi Covid-19. ’’Dulunya saya berjualan kaos,’’ ucapnya. Dia mengawali dengan budidaya klanceng jenis lokal. Namun, hasilnya kurang maksimal. Lebah klanceng lokal produktivitasnya sedikit. Kurun waktunya juga relatif lama. Antara tiga sampai enam bulan.

Baca Juga :  Wana Wisata Sumberboto Sepi, Kolam Renang Dikosongkan

Ia pun mencari klanceng jenis baru yang lebih produktif dan proses panennya lebih cepat. ’’Akhirnya saya datangkan klanceng jenis Itama Sumatera,’’ bebernya. Bentuknya lebih besar dan produktivitasnya lebih tinggi. ’’Hanya satu bulan sudah panen,’’ ungkapnya.

Saat ini dia sudah memiliki memiliki empat koloni. Masing-masing koloni, berada di satu potongan pohon. ’’Semuanya jenis Itama Sumatera, jadi habitat aslinya ada di hutan Sumatera,’’ lanjutnya.

- Advertisement -

Dalam waktu satu bulan, satu koloni bisa menghasilkan satu liter madu. Rasa madunya sedikit berbeda. Sebab tak hanya manis, namun ada campuran asam. ’’Rasa khas madu klanceng ini ada asamnya, jadi ya asam manis,’’ terangnya.

Selanjutnya…….






Reporter: Ainul Hafidz

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/