Pantauan di lokasi, tampak pohon natal setinggi 6 meter ini menghiasi altar gereja. Bukan pohon natal sintetis pada umumnya. Melainkan terbuat dari daun pohon kluwih, ranting bambu, ranting pepohonan lain, bola takraw dari rotan, dan keranjang bambu yang dikombinasi bunga plastik. Pohon natal ini tetap menarik dengan hiasan lampu warna-warni.
”Memang pohon natal tahun ini kita menggunakan tema ramah lingkungan. Sehingga kita padukan antara ranting bambu, rotan serta dedaunan,’’ ujar Roedy Winarno Seksi Dekorasi GKJW Jemaat Jombang, kemarin.
Dijelaskan, pohon natal setinggi 6 meter itu dibuat sejak November lalu oleh sepuluh anggota jemaat. Pohon natal selesai sejak awal Desember. Pembuatan kerangka pohon natal, tetap melibatkan warga muslim dari abang becak yang setiap hari mangkal di sekitar gereja. ”Ya, Pak Salamun ini memang warga muslim yang bertahun-tahun membantu kita merangkai pohon natal,’’ tambahnya.
Meski terbuat dari bambu, namun pohon natal itu tak hilang nilai kesakralannya. Setiap tahun, pohon natal di GKJW Jombang selalu dikemas unik dan berbeda. ”Tahun lalu kami merangkai dari limbah klobot jagung. Tahun sebelumnya dari jerami padi,’’ papar dia.
Lantaran menggunakan bahan ramah lingkungan itu ia menyebut biaya pembuatan pohon natal di GKJW Jemaat Jombang dapat ditekan semaksimal mungkin. Jika menggunakan bahan pohon natal sintentis, anggaran yang dihabiskan bisa mencapai Rp 5 juta lebih. Setelah menggunakan ranting bambu, maka cukup Rp 1 juta. ”Ya, ini juga cukup terjangkau,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW