Terik matahari begitu menyengat siang itu, saat seorang pria paro baya sibuk menjemur tumpukan gambas di atas genting di sebuah rumah sederhana. Ya, itulah Lutful Hakim, 43, warga Desa Denanyar, Kecamatan/Kabupaten Jombang yang sehari-hari mengolah sayur gambas untuk dijadikan loofah sponge organik.
Dalam mengolah gambas, ia mengawali dengan memukul gambas kering berkali-kali hingga kulit sayur terkelupas. Gambas hanya menyisakan serat berwarna kehijauan. Serat itu kemudian direndam dalam ember dan ditutup menggunakan karung.
Tak berlangsung lama, ia kemudian bergeser membuka drum plastik berukuran besar. Drum itu berisi gambas yang sudah direndam. Gambas yang direndam memiliki warna keemasan. Iapun meniriskan sayur gambas dan menjemurnya di bawah terik matahari.
"Prosesnya memakan waktu sekitar delapan hari. Dari sayur yang masih hijau, kemudian dikupas dengan cara dikepruk. Lalu direndam selama tiga hari dalam ember. Setelah itu dipindah ke dalam drum. Tujuannya, agar getas dan dagingnya hilang. Ketika menyisakan serat, gambas kemudian kita jemur hingga kering," ujar Lutful kemarin.
Ia lantas menceritakan, usaha loofah sponge yang dijalaninya selama satu tahun ini. Mulai mengubah jenis labu-labuan tersebut menjadi spons mandi dan cuci piring/peralatan dapur secara alami. "Usaha ini berawal keprihatinan saya atas banyaknya sampah tak terurai yang dihasilkan dari kamar mandi. Banyak orang lebih senang menggunakan spons mandi berbahan plastik," tambah bapak tiga anak ini.
Ia menyebut, loofah yang ia jual bukan berasal dari gambas biasa. Melainkan jenis gambas Taiwan. "Ukurannya lebih besar dibanding gambas biasa. Kalau di Jawa Barat namanya oyong atau labu-labuan. Selain untuk sayur, juga bisa sebagai loofah mandi serta alat pencuci piring dan peralatan dapur lainnya," tambahnya.
Kini, usahanya semakin berkembang. Permintaan loofah banyak datang dari berbagai daerah seperti Sidoarjo, Surabaya, Kediri, Magelang hingga Jakarta. "Sedangkan luar pulau sampai Kalimantan hingga Bali," jelas dia.
Dalam satu bulan, ia bisa menghabiskan sekitar 7.000 biji gambas. Harga yang dipatok mulai Rp 8.000 hingga Rp 12.000 per spons, bergantung besar kecilnya. "Omzetnya rata-rata Rp 12 juta sampai Rp 15 juta dalam satu bulan," tandasnya.
Untuk mendapatkan bahan baku, Lutful mengaku semula mendapat pasokan dari pedagang di sejumlah pasar tradisional di Jombang. Namun seiring dengan tingginya permintaan, Lutful kemudian membangun kemitraan dengan petani dari beberapa daerah. "Termasuk di Wonosalam. Kami manjalin kemitraan dengan petani. Mungkin kendalanya saat ini hanya soal cuaca karena musim hujan. Pengeringan gambas membutuhkan waktu lebih lama," pungkasnya. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW