Pantauan Jawa Pos Radar Jombang Rabu (28/9) siang, patung Garuda terbuat dari bahan semen/cor terpajang di pinggir jalan provinsi jurusan Jombang-Kediri. Patung ini, Tampak dibuat seadanya. Setidaknya terlihat beberapa bentuknya yang berbeda, misalnya tulisan pada pita yang seharusnya Bhinneka Tunggal Ika, namun ditulis Bhineka Tunggal Ika dengan huruf 'N' satu.
Selain itu, jumlah masing-masing bulu sayap pada patung burung Garuda juga tidak tidak sesuai dengan jumlah sayap burung Garuda yang mestinya berjumlah 17 helai. Jika dihitung, jumlah bulu kedua sayap pada patung ini adalah 18 helai.
Penampakan kurang lazim lainnya juga terlihat pada bentuk paruh burung dan bagian cakar. Garuda, digambarkan sebagai burung elang jawa, hingga harusnya berparuh pemakan daging, namu di Genjong, patung garuda nampak dibuat dengan paruh laiknya burung pemakan biji. ”Itu bangunnya sudah lama sekali,” ujar Saiful warga sekitar.
Ia mengatakan, patung tersebut dulu dibangun pemuda-pemuda sekitar. ”Karena tidak mempunyai keterampilan ya jadinya ala kadarnya,” katanya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dusun Genjong Ahmad Zamroni mengatakan, pembangunan patung itu sudah sejak tahun 2004 lalu. ”Sudah lama itu. Itu juga yang bangun anak muda sini,” katanya.
Bangunan, lanjut Zamroni, bukan dari pemerintah desa. Sehingga patung burung Garuda-nya tidak bisa bagus. ”Nanti kami akan sampaikan ke pemuda-pemuda agar bisa dibangun lebih baik lagi,” pungkas Zamroni. (yan/naz/riz) Editor : Achmad RW