alexametrics
22.4 C
Jombang
Saturday, June 25, 2022

Mengajar Yes, Menulis Buku Oke

MENJADI dosen STKIP PGRI Jombang harus aktif dan inovatif. Seperti dilakukan Dr Rahayu Prasetiyo MPd, dosen Prodi Pendidikan Jasmani yang menerapkan pendekatan pelatih mental kepada mahasiswanya. Ia pun berhasil membantu siswa yang canggung menjadi aktif saat perkuliahan.

Perempuan kelahiran Malan,  07 April 1989 ini punya pengalaman menarik saat mengajar. ”Saya masih ingat, ada dua mahasiswa yang kesulitan dalam menyampaikan pendapat. Setiap kali ditanya mereka mendadak berkeringat, apalagi jika disuruh maju ke depan kelas bukan hanya suaranya yang bergetar, tapi juga seluruh badannya,” ungkap alumnus S1 PJKR IKIP Budi Utomo Malang ini.

Hal yang dilakukan Rahayu pertama adalah menerapkan pendekatan hasil mengikuti pelatihan pelatih mental di APMOI (Asosiasi Pelatih Mental Olahraga Indonesia). Walhasil, mereka kemudian berani mengutarakan pendapatnya. ”Bersyukur sekali, dengan perubahan yang terjadi. Sambil menyelam minum air, sambil mengajar meneliti mahasiswa sendiri,” terang alumnus S2 Pendidikan Olahraga Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.

Baca Juga :  Produsen Tahu di Jombang Mogok Masal, Ribuan Pekerja Menganggur

Selain mengajar, Rahayu juga aktif meneliti khususnya di bidang psikologi olahraga. Alumnus S3 Ilmu Keolahragaan Unesa ini juga getol menulis buku. Dalam mengajar, ia juga sering menggunakan metode permainan interaktif kepada mahasiswanya. ”Sehingga mahasiswa menjadi tidak bosan dan semangat dalam mengikuti perkuliahan,’’ pungkas Penerima Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia – Dalam Negeri (BUDI-DN) Kemenristekdikti ini.

- Advertisement -

MENJADI dosen STKIP PGRI Jombang harus aktif dan inovatif. Seperti dilakukan Dr Rahayu Prasetiyo MPd, dosen Prodi Pendidikan Jasmani yang menerapkan pendekatan pelatih mental kepada mahasiswanya. Ia pun berhasil membantu siswa yang canggung menjadi aktif saat perkuliahan.

Perempuan kelahiran Malan,  07 April 1989 ini punya pengalaman menarik saat mengajar. ”Saya masih ingat, ada dua mahasiswa yang kesulitan dalam menyampaikan pendapat. Setiap kali ditanya mereka mendadak berkeringat, apalagi jika disuruh maju ke depan kelas bukan hanya suaranya yang bergetar, tapi juga seluruh badannya,” ungkap alumnus S1 PJKR IKIP Budi Utomo Malang ini.

Hal yang dilakukan Rahayu pertama adalah menerapkan pendekatan hasil mengikuti pelatihan pelatih mental di APMOI (Asosiasi Pelatih Mental Olahraga Indonesia). Walhasil, mereka kemudian berani mengutarakan pendapatnya. ”Bersyukur sekali, dengan perubahan yang terjadi. Sambil menyelam minum air, sambil mengajar meneliti mahasiswa sendiri,” terang alumnus S2 Pendidikan Olahraga Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.

Baca Juga :  Keracunan di Podoroto, Tiga Saksi Diperiksa Polisi

Selain mengajar, Rahayu juga aktif meneliti khususnya di bidang psikologi olahraga. Alumnus S3 Ilmu Keolahragaan Unesa ini juga getol menulis buku. Dalam mengajar, ia juga sering menggunakan metode permainan interaktif kepada mahasiswanya. ”Sehingga mahasiswa menjadi tidak bosan dan semangat dalam mengikuti perkuliahan,’’ pungkas Penerima Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia – Dalam Negeri (BUDI-DN) Kemenristekdikti ini.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/