26.9 C
Jombang
Wednesday, February 8, 2023

Nasib Angkot di Jombang Makin Terpuruk, Tinggal 8 Trayek yang Beroperasi

JOMBANG – Keberadaan angkot di Kabupaten Jombang kian merana. Bahkan, dalam 10 tahun terakhir jumlahnya terus berkurang hingga lebih dari 60 persen.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jombang Budi Winarno menjelaskan berdasarkan data yang dimiliki dishub, pada 1990-an hingga 1999 di Jombang ada 25 trayek angkutan umum.

”Sejak 90-an sampai 99 masih ada 25 trayek. Itu masih beroperasi, karena saat itu sedang semaraknya angkutan masal. Namun, sejak tahun 2005 sampai tahun 2010, dengan perkembangan transportasi roda dua, otomatis animo masyarakat terkait dengan angkutan masal yang digunakan masyarakat ini menurun,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Selain itu, Budi menyebut jika saat itu juga ditunjang dengan adanya armada-armada baru yang lebih menawarkan kenyamanan dalam menyediakan jasa transportasi. ”Seperti bus antar kota, dilanjutkan lagi dengan elf-elf dan sebagainya. Maka secara otomatis dari trayek yang 25 itu pada tahun 2005 sampai 2010 sudah berkurang tinggal hingga 8 trayek,” paparnya.

Baca Juga :  Polemik Ruko Simpan Tiga, Kajari: Awal Tahun Tak Tuntas, Kita Ambil Sikap

Pada delapan trayek itu, sambung Budi, jumlah kendaraan angkot yang awalnya 183 armada, kini jauh berkurang. ”Secara jumlah, angkutan yang ada dari 183 armada itu sekarang tinggal 87 armada. Dan dari 87 armada itu tingkat operasinya itu tidak bisa 100 persen, hanya sekitar 45 hingga 60 persen,” jelasnya.

Saat ini, para pemilik armada yang dulunya tergabung dalam organisasi angkutan darat (organda), kini sudah berdiri sendiri. ”Pemilik angkutan itu dulu tergabung dalam organda, sekarang organda sudah tidak ada lagi. Secara normatif angkutan itu milik pribadi-pribadi. Sehingga sangat bergantung pada driver (sopir),” ujarnya.

Ia menjelaskan untuk trayek angkot yang ada di dalam kota, biasanya sudah jadi langganan anak sekolah. ”Kalau yang trayek dalam kota, biasanya itu sudah abonemen, untuk anak-anak sekolah. Jadi hanya jam keberangkatan dan pulang, itu abonemen sekolah. Dan itu sudah langganan antar jemput angkutan,” jelasnya.

Baca Juga :  PPDB 2022 , Pagu SMA/SMK Negeri di Jombang Tak Berubah

Namun demikian, Budi menyebut jika kondisi saat ini memang animo masyarakat terhadap jasa transportasi umum memang menurun. ”Ya memang angkutan masal yang ada di Jombang ini kalah dengan kemudahan orang untuk memiliki sarana transportasi, roda dua terutamanya. Kemudahan itu, sehingga mengalahkan transportasi masal,” pungkasnya.(yan/naz/riz)

JOMBANG – Keberadaan angkot di Kabupaten Jombang kian merana. Bahkan, dalam 10 tahun terakhir jumlahnya terus berkurang hingga lebih dari 60 persen.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jombang Budi Winarno menjelaskan berdasarkan data yang dimiliki dishub, pada 1990-an hingga 1999 di Jombang ada 25 trayek angkutan umum.

”Sejak 90-an sampai 99 masih ada 25 trayek. Itu masih beroperasi, karena saat itu sedang semaraknya angkutan masal. Namun, sejak tahun 2005 sampai tahun 2010, dengan perkembangan transportasi roda dua, otomatis animo masyarakat terkait dengan angkutan masal yang digunakan masyarakat ini menurun,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Selain itu, Budi menyebut jika saat itu juga ditunjang dengan adanya armada-armada baru yang lebih menawarkan kenyamanan dalam menyediakan jasa transportasi. ”Seperti bus antar kota, dilanjutkan lagi dengan elf-elf dan sebagainya. Maka secara otomatis dari trayek yang 25 itu pada tahun 2005 sampai 2010 sudah berkurang tinggal hingga 8 trayek,” paparnya.

Baca Juga :  Polemik Ruko Simpan Tiga, Kajari: Awal Tahun Tak Tuntas, Kita Ambil Sikap

Pada delapan trayek itu, sambung Budi, jumlah kendaraan angkot yang awalnya 183 armada, kini jauh berkurang. ”Secara jumlah, angkutan yang ada dari 183 armada itu sekarang tinggal 87 armada. Dan dari 87 armada itu tingkat operasinya itu tidak bisa 100 persen, hanya sekitar 45 hingga 60 persen,” jelasnya.

Saat ini, para pemilik armada yang dulunya tergabung dalam organisasi angkutan darat (organda), kini sudah berdiri sendiri. ”Pemilik angkutan itu dulu tergabung dalam organda, sekarang organda sudah tidak ada lagi. Secara normatif angkutan itu milik pribadi-pribadi. Sehingga sangat bergantung pada driver (sopir),” ujarnya.

Ia menjelaskan untuk trayek angkot yang ada di dalam kota, biasanya sudah jadi langganan anak sekolah. ”Kalau yang trayek dalam kota, biasanya itu sudah abonemen, untuk anak-anak sekolah. Jadi hanya jam keberangkatan dan pulang, itu abonemen sekolah. Dan itu sudah langganan antar jemput angkutan,” jelasnya.

Baca Juga :  Sumuran Candi Pandegong Kini Jadi Mata Air, Ini Penyebabnya

Namun demikian, Budi menyebut jika kondisi saat ini memang animo masyarakat terhadap jasa transportasi umum memang menurun. ”Ya memang angkutan masal yang ada di Jombang ini kalah dengan kemudahan orang untuk memiliki sarana transportasi, roda dua terutamanya. Kemudahan itu, sehingga mengalahkan transportasi masal,” pungkasnya.(yan/naz/riz)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/