26.9 C
Jombang
Wednesday, February 8, 2023

Kala Sopir Angkot di Jombang Makin Sulit Cari Penumpang

JOMBANG – Salah satu jasa transportasi umum yang masih bertahan di Kabupaten Jombang, yakni angkot angkutan umum dalam kota (angkot). Meski begitu, kondisinya mulai kembang kempis. Setiap hari jumlah angkot yang beroperasi bisa dihitung jari, termasuk jumlah penumpangnya terus menurun.

Siang itu, di bawah terik matahari yang menyengat, sesosok pria tengah mengibas-ngibaskan handuk mini ke arah tubuhnya. Sesekali dia mengelapkan handuknya ke bagian wajah dan leher.

Matanya terus memandang ke arah simpang empat perlintasan kereta api Stasiun Jombang. Seolah tak ingin kecolongan kesempatan mendapat penumpang yang turun dari kereta api ataupun bus.

Di sudut lainnya, terdapat sejumlah beberapa penarik becak yang juga siaga di atas becaknya menunggu penumpang. Tidak jarang pula terlihat lalu lalang ojek online melintas. Sebagin terlihat membawa penumpang, sebagian lainnya juga stanby di sekitar taman kota mennunggu penumpang. ”Jadi sopir angkot sekarang berat, penumpang sepi,” terang Solikin , 56, salah satu sopir angkot jurusan jurusan Jombang, Pulorejo, Kandangan kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Warga Desa/Kecamatan Mojowarno ini mengatakan, sejak awal pandemi sampai sekarang para sopir angkot kelimpungan. Pasalnya, jumlah penumpang semakian sepi. Sementara dia dikejar tanggung jawab setoran ke pemilik angkot. ”Iya sepi penumpangnya. Sejak korona itu sepi, sampai sekarang. Sehari bisa dapat kadang ya nggak dapat sama sekali. Buat bensin aja nyari-nyari,” ungkapnya, Selasa (24/1).

Baca Juga :  3,6 Hektare Tanaman Tembakau di Utara Brantas Mati

Ia menjelaskan sejak Covid-19 merebak, pendapatannya terus menurun bahkan sampai 50 persen. ”Kalau dulu sebelum korona itu masih lumayan bisa dapat rata-rata Rp 150 ribu sehari, itu sudah bisa setor Rp 50 ribu. Kalau sekarang kadang Rp 50 ribu- Rp 100 ribu, kadang ya nggak dapat,” katanya.

Saat ditanya bagaimana cara menutupi setoran, kalau dalam sehari tidak dapat penumpang sama sekali, Ia mengaku terpaksa mengutang untuk menutupi setoran. ”Sehari itu harus setor Rp 50 ribu, kalau nggak ada ya nyari hutangan buat setoran. Kan kalau hari ini nggak dapat, mungkin besoknya dapat,” jelasnya.

Meski berat, Ia mengaku terpaksa bertahan menjadi sopir angkot. Sebab, di usianya yang sudah mulai lanjut sulit mencari kerjaan lain, apalagi dia juga tidak memiliki cukup bekal keterampilan lain yang bisa diandalkan untuk mengais rezeki. ”Ya sudah tua, bisanya nyopir ya bertahan tetap nyopir,” ujar pria yang sudah menjadi sopir angkot sejak 2001 itu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Slamet, 70, warga Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang. Ia mengaku sudah sejak 1976 menjadi sopir angkot. Slamet menegaskan, sejak awal Covid-19 kemarin, pendapatannya sebagai sopir terus anjlok. ”Ya sepi sejak korona kemarin. Sehari kadang dapat kadang ya nggak dapat sama sekali. Kalau nggak dapat uang buat setoran ya ngutang,” tegasnya.

Baca Juga :  Dwijanti Djatiningrum: Wanita Tak Boleh Bosan Belajar

Ia mengaku untuk ongkos tarif angkot itu beragam. Ada tarif untuk pelajar ada tarif untuk umum. Kalau pelajar lebih murah. “Kalau pelajar tarifnya Jombang-Ngoro Rp 4 ribu. Kalau umum Jombang-Ngoro Rp 15 ribu. Kalau pelajar tarifnya Jombang-Kandangan itu Rp 10 ribu, kalau umum Rp 20 ribu,” paparnya.

Ia menjelaskan saat ini menjadi sopir angkot harus sabar. Mengingat persaingan dengan jasa transportasi umum lainnya sangat ketat. ”Kalau dulu bus belum ramai, Grab (ojol) juga nggak ada, terus sepur kelinci juga belum ada. Jadi ya angkot masih satu-satunya transportasi umum. Kalau sekarang nyari carter untuk anak sekolah ya sudah kalah sama sepur kelinci. Ya kudu sabar mas mau gimana lagi,” ungkapnya pasrah.

Saat dikonfirmasi terkait jumlah angkot di Jombang saat ini, Budi Winarno, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Jombang masih belum memberikan keterangan. ”Besok saja ya (hari ini, Red) karena saya harus mengumpulkan data itu dulu,” pungkas Budi. (yan/naz/riz)






Reporter: Azmy endiyana Zuhri

JOMBANG – Salah satu jasa transportasi umum yang masih bertahan di Kabupaten Jombang, yakni angkot angkutan umum dalam kota (angkot). Meski begitu, kondisinya mulai kembang kempis. Setiap hari jumlah angkot yang beroperasi bisa dihitung jari, termasuk jumlah penumpangnya terus menurun.

Siang itu, di bawah terik matahari yang menyengat, sesosok pria tengah mengibas-ngibaskan handuk mini ke arah tubuhnya. Sesekali dia mengelapkan handuknya ke bagian wajah dan leher.

Matanya terus memandang ke arah simpang empat perlintasan kereta api Stasiun Jombang. Seolah tak ingin kecolongan kesempatan mendapat penumpang yang turun dari kereta api ataupun bus.

Di sudut lainnya, terdapat sejumlah beberapa penarik becak yang juga siaga di atas becaknya menunggu penumpang. Tidak jarang pula terlihat lalu lalang ojek online melintas. Sebagin terlihat membawa penumpang, sebagian lainnya juga stanby di sekitar taman kota mennunggu penumpang. ”Jadi sopir angkot sekarang berat, penumpang sepi,” terang Solikin , 56, salah satu sopir angkot jurusan jurusan Jombang, Pulorejo, Kandangan kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Warga Desa/Kecamatan Mojowarno ini mengatakan, sejak awal pandemi sampai sekarang para sopir angkot kelimpungan. Pasalnya, jumlah penumpang semakian sepi. Sementara dia dikejar tanggung jawab setoran ke pemilik angkot. ”Iya sepi penumpangnya. Sejak korona itu sepi, sampai sekarang. Sehari bisa dapat kadang ya nggak dapat sama sekali. Buat bensin aja nyari-nyari,” ungkapnya, Selasa (24/1).

Baca Juga :  Bagian Depan Pasar Pon Jombang Belum Rampung Dikerjakan

Ia menjelaskan sejak Covid-19 merebak, pendapatannya terus menurun bahkan sampai 50 persen. ”Kalau dulu sebelum korona itu masih lumayan bisa dapat rata-rata Rp 150 ribu sehari, itu sudah bisa setor Rp 50 ribu. Kalau sekarang kadang Rp 50 ribu- Rp 100 ribu, kadang ya nggak dapat,” katanya.

Saat ditanya bagaimana cara menutupi setoran, kalau dalam sehari tidak dapat penumpang sama sekali, Ia mengaku terpaksa mengutang untuk menutupi setoran. ”Sehari itu harus setor Rp 50 ribu, kalau nggak ada ya nyari hutangan buat setoran. Kan kalau hari ini nggak dapat, mungkin besoknya dapat,” jelasnya.

Meski berat, Ia mengaku terpaksa bertahan menjadi sopir angkot. Sebab, di usianya yang sudah mulai lanjut sulit mencari kerjaan lain, apalagi dia juga tidak memiliki cukup bekal keterampilan lain yang bisa diandalkan untuk mengais rezeki. ”Ya sudah tua, bisanya nyopir ya bertahan tetap nyopir,” ujar pria yang sudah menjadi sopir angkot sejak 2001 itu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Slamet, 70, warga Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang. Ia mengaku sudah sejak 1976 menjadi sopir angkot. Slamet menegaskan, sejak awal Covid-19 kemarin, pendapatannya sebagai sopir terus anjlok. ”Ya sepi sejak korona kemarin. Sehari kadang dapat kadang ya nggak dapat sama sekali. Kalau nggak dapat uang buat setoran ya ngutang,” tegasnya.

Baca Juga :  Polisi Kesulitan Ungkap Identitas Mayat Pria Dalam Selang Air

Ia mengaku untuk ongkos tarif angkot itu beragam. Ada tarif untuk pelajar ada tarif untuk umum. Kalau pelajar lebih murah. “Kalau pelajar tarifnya Jombang-Ngoro Rp 4 ribu. Kalau umum Jombang-Ngoro Rp 15 ribu. Kalau pelajar tarifnya Jombang-Kandangan itu Rp 10 ribu, kalau umum Rp 20 ribu,” paparnya.

Ia menjelaskan saat ini menjadi sopir angkot harus sabar. Mengingat persaingan dengan jasa transportasi umum lainnya sangat ketat. ”Kalau dulu bus belum ramai, Grab (ojol) juga nggak ada, terus sepur kelinci juga belum ada. Jadi ya angkot masih satu-satunya transportasi umum. Kalau sekarang nyari carter untuk anak sekolah ya sudah kalah sama sepur kelinci. Ya kudu sabar mas mau gimana lagi,” ungkapnya pasrah.

Saat dikonfirmasi terkait jumlah angkot di Jombang saat ini, Budi Winarno, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Jombang masih belum memberikan keterangan. ”Besok saja ya (hari ini, Red) karena saya harus mengumpulkan data itu dulu,” pungkas Budi. (yan/naz/riz)






Reporter: Azmy endiyana Zuhri

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/