alexametrics
29.3 C
Jombang
Sunday, August 7, 2022

27 Hektare Sawah di Jombang Diserang Tikus, Kecamatan Ploso Terbanyak

JOMBANG – Serangan hama tikus di Jombang kian masif. Sebarannya merata hampir di semua kecamatan, baik benih yang baru disemai maupun padi usia beberapa minggu. Per Januari hingga Mei saja, tercatat  ada 27 hektare sawah yang diserang tikus.

”Sebaran tikus diketahui ada di 24 desa, paling banyak di Desa Tanggungkramat Ploso sebanyak 9 hektare,’’ ujar Kepala Disperta Jombang M Rony, kepada wartawan (21/6). Ia menyampaikan, penanganan hama tikus memang masih menjadi perhatian utama. Terlebih, hasil pendataan yang dilakukan sejak Januari hingga Mei lalu, total ada 27 hektare serangan tikus.

Selain di Kecamatan Ploso, lanjutnya, serangan cukup luas juga tercatat di Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito yang mencatat area seluas 3,5 hektare. ”Selebihnya merata di beberapa desa lain,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Pemkab Jombang Wadahi Penyedia Bibit Ikan dan Tanaman untuk Masuk E-Katalog

Menurutnya, hama tikus adalah permasalahan kompleks. Meningkatnya populasi hewan pengerat ini juga disebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Musuh tikus secara alami seperti ular, burung hantu dan predator lainnya terus mengalami penurunan karena berbagai faktor. Salah satunya akibat perburuan liar. “Karena ada ketidakseimbangan rantai makanan itulah sehingga populasi tikus cenderung bertambah sekarang,’’ ujar dia.

Kemudian faktor lain, lanjutnya, dikarenakan sistem tanam yang tidak serempak dalam satu hamparan. Hal itu menjadikan area jadi jujugan mangsa tikus. ”Beda lagi kalau kita tanam serempak, tentu serangan hama tikus tidak begitu masif,’’ terangnya.

Meski begitu, penanganan hama tikus terus dilakukan sepanjang tahun. Berbagai upaya dengan pemberian pestisida dan rodentisida juga dilakukan. Termasuk langkah pendampingan dari teman-teman PPL dan OPT juga terus kita lakukan setiap fase. Karena setiap fase penanganannya berbeda.

Baca Juga :  Pecah Ban, Pikap Muatan Air Mineral Terguling di Tol

“Misal untuk tanaman di bawah satu bulan kita lakukan gropyokan, tapi kalau sudah besar kita menggunakan unpan atau racun tikus,’’ jelas dia.

Selain itu, pengendalian dengan cara alami juga dilakukan. Salah satunya dengan melepas burung hantu ke alam setiap tahun. ”Meski jumlahnya belum bisa banyak, namun itu cara kami untuk melakukna pengendalian secara alami,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)

- Advertisement -

JOMBANG – Serangan hama tikus di Jombang kian masif. Sebarannya merata hampir di semua kecamatan, baik benih yang baru disemai maupun padi usia beberapa minggu. Per Januari hingga Mei saja, tercatat  ada 27 hektare sawah yang diserang tikus.

”Sebaran tikus diketahui ada di 24 desa, paling banyak di Desa Tanggungkramat Ploso sebanyak 9 hektare,’’ ujar Kepala Disperta Jombang M Rony, kepada wartawan (21/6). Ia menyampaikan, penanganan hama tikus memang masih menjadi perhatian utama. Terlebih, hasil pendataan yang dilakukan sejak Januari hingga Mei lalu, total ada 27 hektare serangan tikus.

Selain di Kecamatan Ploso, lanjutnya, serangan cukup luas juga tercatat di Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito yang mencatat area seluas 3,5 hektare. ”Selebihnya merata di beberapa desa lain,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Empat Pendaftar Lelang Kepala OPD Gugur, Peserta Tinggal 15

Menurutnya, hama tikus adalah permasalahan kompleks. Meningkatnya populasi hewan pengerat ini juga disebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Musuh tikus secara alami seperti ular, burung hantu dan predator lainnya terus mengalami penurunan karena berbagai faktor. Salah satunya akibat perburuan liar. “Karena ada ketidakseimbangan rantai makanan itulah sehingga populasi tikus cenderung bertambah sekarang,’’ ujar dia.

Kemudian faktor lain, lanjutnya, dikarenakan sistem tanam yang tidak serempak dalam satu hamparan. Hal itu menjadikan area jadi jujugan mangsa tikus. ”Beda lagi kalau kita tanam serempak, tentu serangan hama tikus tidak begitu masif,’’ terangnya.

Meski begitu, penanganan hama tikus terus dilakukan sepanjang tahun. Berbagai upaya dengan pemberian pestisida dan rodentisida juga dilakukan. Termasuk langkah pendampingan dari teman-teman PPL dan OPT juga terus kita lakukan setiap fase. Karena setiap fase penanganannya berbeda.

Baca Juga :  Berlubang, Sering Picu Kecelakaan Warga Cukir, Keluhkan Jalan Rusak
- Advertisement -

“Misal untuk tanaman di bawah satu bulan kita lakukan gropyokan, tapi kalau sudah besar kita menggunakan unpan atau racun tikus,’’ jelas dia.

Selain itu, pengendalian dengan cara alami juga dilakukan. Salah satunya dengan melepas burung hantu ke alam setiap tahun. ”Meski jumlahnya belum bisa banyak, namun itu cara kami untuk melakukna pengendalian secara alami,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/