alexametrics
21.7 C
Jombang
Monday, August 8, 2022

Masuk Musim Tanam, Petani di Jombang Berburu Tikus Siang-Malam

JOMBANG – Memasuki musim tanam, petani di wilayah Kecamatan Tembelang dibuat galau dengan serangan hama tikus. Agar tak merugi, petani ramai-ramai berburu tikus dengan gropyokan.

Pantauan di lokasi, tampak sejumlah petani berburu tikus dengan menggunakan alat josmo. Petani menyisir keberadaan lubang-lubang yang diduga jadi tempat persembunyian tikus. Selanjutnya melakukan pengasapan ke titik-titik lubang dengan belerang. ”Kalau tidak keluar, ya tikus itu mati di dalam,” ujar Suwaji, 65, salah satu petani sembari berburu tikus, kemarin.

Dijelaskan, memasuki musim tanam padi kali ini, serangan hama tikus di wilayahnya masif. Hal itu dilihat dari banyaknya hama tikus yang ditangkap petani saat berburu. “Serangan hama tikus memang cukup masif di sini,” tambahnya.

Baca Juga :  Polisi Selidiki Kasus Persalinan Berujung Kematian Bayi di RSUD Jombang

Setiap hari, lanjut dia, petani bergotong royong berburu hama tikus. Saat pagi mereka membasmi dengan gropyokan, saat malam mereka berburu dengan menembak menggunakan senapan angin. ”Kalau pakai gropyokan kita dapat 60-70 ekor per hari. Tapi kalau menembak kira dapat sekitar 400-500 ekor per malam,” papar dia.

Tujuan petani memburu tikus memasuki musim tanam adalah mengurangi dampak kerugian. Dia mengaku, jika tidak dibasmi, maka tikus akan menyerang tanaman padi. Baik saat padi baru ditanam atau menjelang panen. ”Kalau tidak diburu kerugian kami bisa mencapai 30 persen,” papar dia.

Menurut dia, upaya tersebut memang cukup efektif guna menekan serangan hama tikus. ”Kami juga memasang racun tikus, supaya lebih banyak tikus-tikus yang mati,” tambahnya.

Baca Juga :  Berburu Burung Perkutut dari Sawah ke Sawah

Suwaji berharap, dinas terkait ikut proaktif membantu petani menekan populasi hama tikus di sawah khususnya di wilayah Tembelang. ”Kami mohon dinas ada perhatian dengan petani. Supaya hasil panen lebih maksimal dan tidak merugi terlalu banyak,” pungkasnya. (ang/naz/riz)






Reporter: Anggi Fridianto
- Advertisement -

JOMBANG – Memasuki musim tanam, petani di wilayah Kecamatan Tembelang dibuat galau dengan serangan hama tikus. Agar tak merugi, petani ramai-ramai berburu tikus dengan gropyokan.

Pantauan di lokasi, tampak sejumlah petani berburu tikus dengan menggunakan alat josmo. Petani menyisir keberadaan lubang-lubang yang diduga jadi tempat persembunyian tikus. Selanjutnya melakukan pengasapan ke titik-titik lubang dengan belerang. ”Kalau tidak keluar, ya tikus itu mati di dalam,” ujar Suwaji, 65, salah satu petani sembari berburu tikus, kemarin.

Dijelaskan, memasuki musim tanam padi kali ini, serangan hama tikus di wilayahnya masif. Hal itu dilihat dari banyaknya hama tikus yang ditangkap petani saat berburu. “Serangan hama tikus memang cukup masif di sini,” tambahnya.

Baca Juga :  Disdagrin Jombang Gelar Sosialisasi dan Evaluasi Penyaluran Pupuk Bersubsidi

Setiap hari, lanjut dia, petani bergotong royong berburu hama tikus. Saat pagi mereka membasmi dengan gropyokan, saat malam mereka berburu dengan menembak menggunakan senapan angin. ”Kalau pakai gropyokan kita dapat 60-70 ekor per hari. Tapi kalau menembak kira dapat sekitar 400-500 ekor per malam,” papar dia.

Tujuan petani memburu tikus memasuki musim tanam adalah mengurangi dampak kerugian. Dia mengaku, jika tidak dibasmi, maka tikus akan menyerang tanaman padi. Baik saat padi baru ditanam atau menjelang panen. ”Kalau tidak diburu kerugian kami bisa mencapai 30 persen,” papar dia.

Menurut dia, upaya tersebut memang cukup efektif guna menekan serangan hama tikus. ”Kami juga memasang racun tikus, supaya lebih banyak tikus-tikus yang mati,” tambahnya.

Baca Juga :  Dampak Panic Buying, Stok Minyak Goreng di Toko Modern Jombang Minim
- Advertisement -

Suwaji berharap, dinas terkait ikut proaktif membantu petani menekan populasi hama tikus di sawah khususnya di wilayah Tembelang. ”Kami mohon dinas ada perhatian dengan petani. Supaya hasil panen lebih maksimal dan tidak merugi terlalu banyak,” pungkasnya. (ang/naz/riz)






Reporter: Anggi Fridianto

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/