alexametrics
30 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

Dorong Siswa dan Guru Vaksinasi Lengkap Sebelum PTM 100 Persen

JOMBANG – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jombang mengingatkan agar pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen dipersiapkan dengan matang. PTM 100 persen tidak harus langsung di semua sekolah. ’’PTM 100 persen sebaiknya hanya dilaksanakan di sekolah yang siswa dan gurunya sudah menjalani vaksinasi lengkap dua dosis,’’ kata dr Iskandar Dzulqornain, ketua IDI Jombang, kemarin.

Untuk SD yang mayoritas masih mendapatkan satu dosis, sebaiknya PTM 50 persen saja.

Baik guru maupun siswa yang mengikuti PTM harus dalam kondisi sedang sehat. Tidak memiliki komorbid. Khususnya bagi guru dan juga staf. Hal ini dilakukan untuk menekan penularan Covid-19  di tingkat sekolah.

’’PTM 100 persen harus sesuai dengan ketentuan pemerintah tentang PPKM dan dipersiapkan dengan sangat hati-hati,’’ sarannya. Guna mencegah penularan dalam komunitas. Juga untuk mempermudah penelusuran jika ada temuan kasus positif di sekolah.

Ia juga mengimbau agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang harus sangat intens berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 dan Dinas Kesehatan, terkait peningkatan kasus Covid-19.

Apalagi kondisi Covid-19 saat sampai saat ini belum stabil. Jumlah kasus masih naik dan turun. Belakangan, varian omicron menjadi momok baru bagi masyarakat. Iskandar memprediksi, puncak kasus Covid-19 akan terjadi lagi pada bulan Februari, di mana PTM 100 rencananya mulai dilakukan.

Baca Juga :  Refleksi Akhir Tahun DPRD Jombang, Banyak Program Tak Maksimal

”Jombang yang sekarang PPKM level 2, sebaiknya PTM 50 persen dulu. Khususnya untuk yang belum mendapatkan vaksinasi 2 dosis,’’ sarannya.

Namun tetap diupayakan agar semua yang hadir sehat, tidak punya komorbid dan tetap disiplin prokes.

Hingga kemarin, capaian vaksinasi dosis satu sudah mencapai 90 persen. Dan dosis dua mencapai 70 persen. Ini untuk umum.

Sedangkan lansia, sudah lebih dari 70 persen mendapatkan dosis lengkap. Anak-anak usia 6-11 tahun sudah 63 persen untuk dosis satu.

Sementara itu, Munawaroh, praktisi pendidikan mengatakan, PTM 100 persen bisa dimulai dengan SOP yang matang. ”Tidak mudah memulai PTM 100 persen di situasi seperti ini, SOP siswa mulai datang hingga pulang harus dipersiapkan dengan matang,” kata ketua STKIP PGRI Jombang ini.

Menurutnya, PTM 100 persen memang harus dilakukan. Karena pembelajaran dengan kuota 50 persen akan memberikan beban dua kali kepada guru. Yakni beban mengajar online dan offline.

Baca Juga :  Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab Tegaskan Nataru Tak Ada Perayaan

Masing-masing metode pembelajaran baik daring maupun luring juga memiliki plus minus. Siswa yang mengerti IT akan lebih mudah memahami pembelajaran daring. Namun ada juga siswa yang kesulitan memahami materi ketika belajar daring.

”Tidak hanya siswa, semua pasti merasakan plus minus belajar daring. Namun untuk dilaksanakan PTM 100 persen, kondisinya juga masih seperti ini,” urainya.

Jika PTM harus dilakukan 100 persen sesuai dengan SKB 4 menteri, dia berharap lembaga memiliki SOP yang jelas. Mulai dari kedatangan siswa, alur pulang siswa, kuota dalam kelas, jam belajar yang jelas. Apalagi di Jombang siswa dan mahasiswanya tidak hanya berasal dari Kabupaten Jombang saja.

”Seperti STKIP PGRI Jombang, mahasiswanya banyak yang dari luar Jombang, kita harus antisipasi hal itu,” katanya.

Siswa juga dituntut untuk disiplin prokes, dan berperilaku hidup bersih. ”Pada umumnya, anak-anak suka bergurau sama teman-temannya, sehingga pasti sulit jaga jarak. SOP harus mengantisipasi hal-hal seperti itu,” terangnya.

- Advertisement -

JOMBANG – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jombang mengingatkan agar pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen dipersiapkan dengan matang. PTM 100 persen tidak harus langsung di semua sekolah. ’’PTM 100 persen sebaiknya hanya dilaksanakan di sekolah yang siswa dan gurunya sudah menjalani vaksinasi lengkap dua dosis,’’ kata dr Iskandar Dzulqornain, ketua IDI Jombang, kemarin.

Untuk SD yang mayoritas masih mendapatkan satu dosis, sebaiknya PTM 50 persen saja.

Baik guru maupun siswa yang mengikuti PTM harus dalam kondisi sedang sehat. Tidak memiliki komorbid. Khususnya bagi guru dan juga staf. Hal ini dilakukan untuk menekan penularan Covid-19  di tingkat sekolah.

’’PTM 100 persen harus sesuai dengan ketentuan pemerintah tentang PPKM dan dipersiapkan dengan sangat hati-hati,’’ sarannya. Guna mencegah penularan dalam komunitas. Juga untuk mempermudah penelusuran jika ada temuan kasus positif di sekolah.

Ia juga mengimbau agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang harus sangat intens berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 dan Dinas Kesehatan, terkait peningkatan kasus Covid-19.

Apalagi kondisi Covid-19 saat sampai saat ini belum stabil. Jumlah kasus masih naik dan turun. Belakangan, varian omicron menjadi momok baru bagi masyarakat. Iskandar memprediksi, puncak kasus Covid-19 akan terjadi lagi pada bulan Februari, di mana PTM 100 rencananya mulai dilakukan.

Baca Juga :  Insentif Nakes di Jombang Tersendat Berbulan-bulan

- Advertisement -

”Jombang yang sekarang PPKM level 2, sebaiknya PTM 50 persen dulu. Khususnya untuk yang belum mendapatkan vaksinasi 2 dosis,’’ sarannya.

Namun tetap diupayakan agar semua yang hadir sehat, tidak punya komorbid dan tetap disiplin prokes.

Hingga kemarin, capaian vaksinasi dosis satu sudah mencapai 90 persen. Dan dosis dua mencapai 70 persen. Ini untuk umum.

Sedangkan lansia, sudah lebih dari 70 persen mendapatkan dosis lengkap. Anak-anak usia 6-11 tahun sudah 63 persen untuk dosis satu.

Sementara itu, Munawaroh, praktisi pendidikan mengatakan, PTM 100 persen bisa dimulai dengan SOP yang matang. ”Tidak mudah memulai PTM 100 persen di situasi seperti ini, SOP siswa mulai datang hingga pulang harus dipersiapkan dengan matang,” kata ketua STKIP PGRI Jombang ini.

Menurutnya, PTM 100 persen memang harus dilakukan. Karena pembelajaran dengan kuota 50 persen akan memberikan beban dua kali kepada guru. Yakni beban mengajar online dan offline.

Baca Juga :  Disperta Jombang Tunggu Evaluasi

Masing-masing metode pembelajaran baik daring maupun luring juga memiliki plus minus. Siswa yang mengerti IT akan lebih mudah memahami pembelajaran daring. Namun ada juga siswa yang kesulitan memahami materi ketika belajar daring.

”Tidak hanya siswa, semua pasti merasakan plus minus belajar daring. Namun untuk dilaksanakan PTM 100 persen, kondisinya juga masih seperti ini,” urainya.

Jika PTM harus dilakukan 100 persen sesuai dengan SKB 4 menteri, dia berharap lembaga memiliki SOP yang jelas. Mulai dari kedatangan siswa, alur pulang siswa, kuota dalam kelas, jam belajar yang jelas. Apalagi di Jombang siswa dan mahasiswanya tidak hanya berasal dari Kabupaten Jombang saja.

”Seperti STKIP PGRI Jombang, mahasiswanya banyak yang dari luar Jombang, kita harus antisipasi hal itu,” katanya.

Siswa juga dituntut untuk disiplin prokes, dan berperilaku hidup bersih. ”Pada umumnya, anak-anak suka bergurau sama teman-temannya, sehingga pasti sulit jaga jarak. SOP harus mengantisipasi hal-hal seperti itu,” terangnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/